Ruang ketik NovelToon itu berwarna putih bersih, kontras dengan isi kepala Arga yang kusut. Di sudut kanan atas layar laptopnya, grafik statistik bulanan terjun bebas tanpa ampun. Angka pembaca aktif yang dulu mencapai puluhan ribu, kini menyusut drastis.
Penurunan itu bukan karena kualitas tulisannya memburuk. Bab-bab terbaru justru digarap dengan plot yang jauh lebih matang. Masalahnya ada pada realitas. Para pembaca setianya yang dulu masih sekolah, kini mulai kuliah dan bekerja. Satu per satu pamit di kolom komentar dengan alasan kesibukan dunia nyata. Kehidupan telah merebut mereka dari dunia fiksi Arga.
Arga menghela napas, mencoba menyusun strategi baru. Ia menyalin tautan bab terbarunya, berniat menyebarkannya ke grup komunitas penulis di aplikasi pesan digital. Itu adalah satu-satunya wadah promosi gratis yang tersisa bagi penulis independen tanpa modal iklan seperti dirinya.
Namun, ruang obrolan itu sudah berubah menjadi medan jebakan.
Yudha, sang administrator grup sekaligus rival lamanya, baru saja mengunggah sebuah tangkapan layar. Itu adalah potongan obrolan lama dari masa lalu Arga yang sengaja dipotong secara sepihak untuk menggiring opini negatif.
"Masih ada yang mau baca karya dari penulis bermasalah ini? Pikir-pikir lagi deh," tulis Yudha dalam keterangan unggahannya.
Hanya dalam hitungan menit, ratusan komentar hujatan dari anggota grup langsung membanjiri layar. Fitnah itu menyebar cepat tanpa memberi ruang untuk klarifikasi. Saat jemari Arga mulai mengetik pembelaan, sebuah notifikasi sistem muncul di layar: Anda telah dikeluarkan dari grup.
Pintu promosi tertutup rapat. Akses komunikasinya diputus total. Yudha berhasil membunuh reputasi Arga dalam semalam menggunakan kuasa digitalnya.
Kamar kost berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak terasa begitu sempit dan pengap. Arga meletakkan ponselnya ke atas meja kayu dengan perlahan. Tidak ada amarah yang meledak, hanya ada rasa lelah yang teramat sangat. Berjuang sendirian melawan algoritma saja sudah berat, apalagi ditambah sabotase yang terencana.
Ia kembali menatap draf cerita yang terbuka di laptop. Niat untuk memperpanjang bab pertarungan kini menguap sepenuhnya. Tidak ada gunanya memaksakan klimaks yang megah jika bangku penonton sudah kosong.
Jemari Arga bergerak tenang di atas papan ketik, mengubah seluruh rancangan akhir novelnya. Ia menuntun sang tokoh utama untuk meletakkan senjata, memilih hidup tenang sebagai petani di sebuah desa terpencil, dan melupakan ambisi besar menguasai kerajaan. Sebuah penyelesaian yang menjadi cermin bagi nasib penciptanya sendiri.
Pada baris paling bawah, sebelum menekan tombol publikasikan, ia menyisipkan catatan singkat:
“Terima kasih untuk setiap detik yang pernah kalian luangkan di sini. Cerita ini selesai, begitu juga perjalanan saya. Selamat melanjutkan kehidupan nyata yang lebih berharga. Saya pamit.”
Klik. Tombol rilis ditekan.
Suara penutup layar laptop terdengar seperti ketukan palu pengadilan yang memutus akhir dari sebuah babak kehidupan. Arga bangkit dari kursi, melangkah menuju jendela kamar, lalu memandang kelap-kelip lampu kota Jakarta yang tidak pernah tidur.
Beban target setoran kata harian yang selama ini menghantuhinya mendadak sirna. Kecemasan akan naik turunnya angka statistik kini tidak lagi relevan. Rasa sesak di dada perlahan berganti menjadi sebuah ruang kosong yang anehnya terasa sangat melegakan.
Ia berjalan menuju kasur, merebahkan tubuhnya yang letih, lalu memejamkan mata. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Arga bisa tertidur lelap sebelum jarum jam menyentuh angka dua belas. Kisah tentang PenAksara di dunia oranye telah benar-benar berakhir.
Tamat .
------------------------------