Gusti Ngurah Putu Wijaya, atau Putu Wijaya, adalah seorang sastrawan, dramawan, dan seniman serba bisa asal Indonesia. Ia lahir di Tabanan, Bali, pada 11 April 1944. Ia dikenal lewat karya-karyanya yang beraliran eksperimental, bernapas absurd, serta pendiri kelompok Teater Mandiri.
Lahir di Puri Anom, Saren Kangin, Tabanan, Bali, sebagai anak bungsu dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati.Gusti Ngurah Putu Wijaya adalah anak bungsu atau anak terakhir (anak ke-8 dari total bersaudara atau anak ke-5 dari ayah yang sama).
Ia menempuh studi hukum di Universitas Gadjah Mada (UGM). Lalu, mendalami seni rupa dan teater di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) serta Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) di Yogyakarta.
Menghasilkan puluhan novel, ratusan cerpen, puluhan naskah drama, serta skenario film dan sinetron. Novel terkenalnya antara lain Telegram dan Cacak.
Mendirikan Teater Mandiri pada tahun 1971 yang konsisten mementaskan teater dengan gaya yang unik dan mandiri.
Meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Piala Citra Festival Film Indonesia untuk skenario terbaik (Perawan Desa, Kembang Kertas) serta Penghargaan Kebudayaan dari Piala Citra Skenario Terbaik
putu wijaya sampai sekarang masih hidup namaun ia mengalami stroke Meskipun sempat mengalami stroke sejak tahun 2012 yang menyebabkan kelumpuhan pada bagian kiri tubuhnya, dedikasi seniman berusia 82 tahun ini tidak pernah surut. Ia dikenal luar biasa gigih karena tetap aktif menulis karya sastra baru, esai, maupun naskah teater dengan mengandalkan satu jari tangan kanannya
Putu Wijaya tumbuh besar di kompleks perumahan Puri Anom Tabanan yang sangat luas.Kompleks tersebut dihuni oleh sekitar 200 orang kerabat keluarga besar dekat dan jauh.Riuhnya suasana rumah adat ini menjadi inspirasi mendalam bagi Putu dalam menggambarkan karakter manusia yang beragam di karya-karyanya.
Mengumpulkan seniman-seniman muda untuk membentuk komunitas teater baru yang mandiri finansial.Menolak bergantung pada modal besar dan memakai prinsip bertumpu pada apa yang ada.Menghasilkan konsep pertunjukan "teror mental" yang akhirnya mengguncang dunia teater Indonesia.
Pindah ke Jakarta setelah lulus sarjana hukum untuk bergabung dengan Teater Kecil pimpinan Arifin C. Noer.Sempat bekerja sebagai wartawan dan redaktur di Majalah Tempo untuk menyambung hidup.Menggunakan ruang kantor Tempo di malam hari untuk mengetik naskah drama miliknya sendiri.
Merantau ke Yogyakarta untuk kuliah Hukum di Universitas Gadjah Mada
Masa muda Putu Wijaya penuh dengan perjuangan memilih jalur seni di tengah tekanan keluarga besar di Bali.
Mendirikan Teater Mandiri pada tahun 1971 yang mementaskan karya berkonsep surealis dan menguji batas mental penonton.Menghasilkan puluhan novel, ratusan cerpen, serta naskah drama dan skenario film yang memenangkan Piala Citra.Tetap produktif menulis cerita bersambung menggunakan satu jempol tangan melalui ponsel pintarnya setelah mengalami serangan stroke.
Mengisi masa kecil dengan membaca tumpukan majalah tua di gudang rumahnya yang menumbuhkan kecintaannya pada dunia kata.Hijrah ke Yogyakarta dan kemudian ke Jakarta, bergabung dengan Teater Kecil serta Teater Populer, dan menjadi redaktur majalah Tempo
Ayahnya, I Gusti Ngurah Raka, menginginkan Putu menjadi dokter atau ahli hukum.Putu menolak demi mengejar passion menulis yang tumbuh sejak kecil di Tabanan.Hubungan dengan ayahnya sempat merenggang akibat pilihan hidup menjadi seniman tersebut.
Merantau ke Yogyakarta untuk kuliah Hukum di Universitas Gadjah Mada demi menghormati orang tua.Sambil kuliah hukum, ia menyelinap belajar seni di Akademi Seni Drama dan Film (ASDRI).Hidup pas-pasan dan mengandalkan honor dari mengirim cerpen dan puisi ke media massa.