Bab 1: Akhir Kisah Sang Penguasa
Hujan deras memukul kaca jendela lantai tertinggi gedung pencakar langit di pusat kota Batam. Ruangan kerja itu luas, berbau wangi kayu mahoni dan kopi hitam pekat. Di balik meja besar yang terbuat dari kaca tebal, duduk seorang wanita muda dengan tatapan setajam elang. Itu Zai—pemilik lima perusahaan raksasa sekaligus ketua organisasi bayangan yang paling ditakuti seantero nusantara.
Tidak ada yang tahu persis berapa lama ia memegang kendali. Sejak yatim piatu di usia belasan tahun, ia bangkit dari keterpurukan, melatih diri hingga menguasai senjata api, seni bela diri, hingga menjadi peretas tingkat dunia yang bisa menembus sistem keamanan negara sekalipun. Di sampingnya berdiri empat orang yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri: Angelika yang tegas dan taat aturan, Fransiska yang ceplas-ceplos namun tulus, Reyhan yang banyak tingkahnya sering membuat geram namun sangat setia, dan Pak Edgar yang selalu memberi nasihat bijaksana.
"Zai, laporan terbaru masuk. Rute perjalanan menuju pertemuan malam ini terdeteksi ada kejanggalan," ujar Pak Edgar dengan nada waspada, sambil menyodorkan selembar kertas berisi data pergerakan kendaraan yang mencurigakan.
Zai melirik sekilas, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum dingin. "Itu pasti ulah Heru Wijaksono. Orang tua itu tak pernah puas. Selama aku masih berdiri tegak, ia tak akan bisa menguasai apa yang sudah kubangun dari nol."
"Tetapi bahayanya nyata, Bos. Bagaimana kalau kita ubah jadwal dan rutenya?" saran Angelika lantang.
"Jika kita mundur sekarang, artinya kita takut. Itu justru yang ia harapkan. Tetap sesuai rencana," putus Zai singkat dan tegas. Tak ada satu pun yang berani membantah keputusannya.
Sekitar pukul sebelas malam, mobil mewah hitam meluncur pelan membelah jalanan basah yang sepi. Reyhan yang menyetir, Fransika duduk di sebelahnya, sedangkan Zai dan Angelika berada di kursi belakang. Hingga tiba di tikungan tajam yang minim penerangan, tiba-tiba sebuah truk gandeng melaju melawan arus dengan kecepatan sangat tinggi, langsung menghantam sisi kanan mobil mereka tanpa ada upaya mengerem sedikit pun.
BRAKK!!!
Suara dentuman dahsyat memecah keheningan malam. Mobil itu terpental, berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti menabrak tembok pembatas jembatan. Kaca pecah berhamburan, besi-besi melengkung menghimpit tubuh mereka. Zai merasakan nyeri hebat di sekujur badannya, pandangannya mulai kabur. Terakhir yang ia lihat sebelum gelap sepenuhnya, adalah sosok Heru Wijaksono berdiri agak jauh di bawah payung, menatap reruntuhan itu dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.
Apakah ini akhirnya? Apakah semua yang kuperjuangkan akan jatuh ke tangan orang tua serakah itu?
Pikiran itu melintas sekilas, sebelum kesadaran Zai hilang sepenuhnya.