Rasanya seperti terhempas dari ketinggian yang tak berujung. Segala sesuatu gelap, sunyi, hanya tersisa rasa panas yang menjalar di dada—ingatan terakhir saat mobil yang dikemudikannya melaju kencang lalu menabrak pembatas jalan, diikuti suara ledakan yang memekakkan telinga. Pak Heru Wijaksono... senyum licik pria itu sebelum perangkat rem mobilnya dirusak, masih terbayang jelas di benaknya.
Apakah ini surga? Atau neraka?
Perlahan, rasa berat di kelopak matanya mulai surut. Zai mencoba membuka mata, namun cahaya yang masuk justru membuatnya meringis pelan. Pandangannya kabur sesaat, sebelum perlahan menjadi jelas: bukan ruangan mewah kantornya, bukan juga tempat yang pernah dikenalnya.
Langit-langit kamarnya rendah, cat dinding terkelupas di beberapa bagian, kasur yang dipakai tipis hingga terasa tekstur anyaman bambu di bawahnya. Bau apek sedikit tercium bercampur wangi sabun cuci yang sederhana.
"Ini di mana..." suaranya parau, keluar dari mulutnya terdengar jauh lebih halus dan kekanak-kanakan daripada yang ia ingat.
Zai mencoba mengangkat tangan. Tubuhnya terasa lemah, tenaganya tak sebanding dengan tubuh tegap dan terlatih pemimpin mafia sekelas dirinya. Ia menatap telapak tangannya—kulit halus, masih ada sisa bekas luka goyang kecil, tak ada bekas parut akibat latihan menembak maupun perkelahian yang selama ini menghiasi tangannya. Ia meraba wajahnya, merasakan bentuk yang sama sekali berbeda dari yang ia lihat di cermin kemarin sore.
Tiba-tiba, ribuan keping ingatan asing memaksa masuk ke kepalanya seketika, membuatnya memegang pelipis sambil meringis kesakitan.
Zai Permana. 16 tahun. Siswa kelas 2 SMA. Tinggal bersama ibu tiri, ayah yang sering bersikap dingin, dan satu adik laki-laki kandung yang masih duduk di bangku SMP. Selalu menjadi sasaran ejekan dan perundungan di sekolah karena pendiam, tidak punya kekuatan untuk melawan, serta dianggap sebagai beban keluarga baru setelah ibunya yang asli meninggal dunia tiga tahun lalu...
Reinkarnasi.
Kata itu melintas cepat di benaknya, dan Zai tak bisa menahan napas panjang yang terhela keluar. Ia bukan lagi ketua organisasi terkuat, pemilik lima perusahaan besar yang disegani banyak orang. Ia kini adalah Zai yang lain—lemah, tidak berdaya, hidup di tengah keluarga yang penuh kepalsuan dan rasa benci yang tersembunyi.
Pintu kamar didorong terbuka kasar dari luar. Seorang wanita paruh baya dengan wajah masam berdiri di sana, tangan melipat di dada.
"Bangun-bangun! Sudah jam berapa masih rebahan saja? Bereskan tempat tidurmu lalu bantu adikmu siapkan bekal sekolah! Dasar anak tidak tahu diuntung, hidup makan tidur saja!" bentaknya tajam, sebelum menutup pintu kembali dengan keras hingga dinding kamar seolah bergetar.
Inilah ibu tiri dari tubuh ini, pikir Zai. Sebelum ia sempat merespons, terdengar suara ketukan pelan di pintu, lalu terbuka sedikit. Muncul sosok anak laki-laki berusia sekitar 13 tahun, wajahnya mirip dengan pemilik tubuh aslinya, matanya tampak cemas.
"Kak... kamu sudah bangun? Maaf ya Bu sudah marah-marah lagi. Tadi malam kamu demam tinggi sampai tidak sadarkan diri, aku khawatir sekali," ucapnya pelan, lalu mendekat sambil menyodorkan segelas air putih.
Zai menatapnya lekat-lekat. Di tengah semua kekacauan ini, setidaknya ada satu orang yang tulus menyayangi Zai yang dulu. Ia menerima gelas itu, meminumnya perlahan, lalu tersenyum tipis—senyum yang belum pernah ia berikan pada siapa pun selama bertahun-tahun memimpin organisasi.
"Terima kasih, Dika. Aku tidak apa-apa," ucapnya tenang.
Meski terkejut melihat perubahan sikap kakaknya yang biasanya selalu menunduk tak berani menatap mata orang lain, Dika hanya mengangguk pelan lalu pamit bersiap ke sekolah.
Setelah adiknya pergi, tatapan Zai perlahan berubah tajam kembali, aura tegas dan berwibawa milik sang ketua mafia perlahan muncul meski hanya sebatas sorot matanya. Ia menatap pantulan dirinya yang buram di kaca jendela kamar.
Pak Heru Wijaksono belum menang sepenuhnya. Perusahaan-perusahaannya, anak buahnya—Angelika, Fransiska, Reyhan, dan Pak Edgar—pasti sedang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan ia... Zai yang baru ini, akan memulai semuanya dari bawah.
Ia akan bangkit kembali. Mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya, menuntut balas atas nyawanya yang direnggut, sekaligus melindungi kehidupan baru ini dan Dika dari segala ancaman.
"Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi," bisiknya pelan pada bayangan dirinya sendiri. Hari ini adalah hari pertama ia melangkah dengan identitas yang baru, dan semangat baru tapi di dalam dadanya masih ada kebencian dan dendam yang takkan pernah berubah sedikit pun.”