Bab 3: Kenangan yang Bercampur Aduk
Setelah Dika pergi menutup pintu, Zai perlahan duduk di tepi kasur yang tipis. Ia pejamkan mata rapat-rapat, mencoba merangkai ribuan keping cerita yang tadi memaksa begitu saja ke dalam kepalanya. Seperti kepingan teka-teki yang berantakan, satu per satu mulai menemukan tempatnya hingga membentuk gambaran utuh kehidupan pemilik tubuh ini.
Zai yang dulu—Zai asli—sejak ibunya meninggal dunia tiga tahun lalu, seolah ikut lenyap juga perhatian ayahnya. Semua berubah seketika saat ayahnya menikah kembali dengan wanita yang tadi membentaknya. Sejak saat itu, ia seolah menjadi tamu asing di rumahnya sendiri. Seringkali makanan di piringnya paling sedikit, pakaian yang dipakai selalu sisa atau sudah lusuh, dan setiap ada masalah sekecil apa pun, dialah yang selalu disalahkan duluan. Ayahnya hanya akan menunduk diam, seolah tak berani membela anak kandungnya sendiri di hadapan istri barunya.
Di luar rumah pun nasibnya tak jauh berbeda. Di sekolah, ia selalu menjadi sasaran empuk. Buku pelajaran sering disembunyikan, tasnya dibuang ke tempat sampah, meja dikerjai dengan tulisan ejekan, bahkan uang sakunya yang sedikit itu sering diminta begitu saja. Namun anehnya, tak pernah sekalipun Zai ini melawan atau menangis keras-keras. Ia hanya akan memungut kembali barang-barangnya, membersihkan meja, lalu duduk kembali di kursinya sambil menunduk—memilih diam agar masalahnya tak berlarut lebih panjang.
Hidupnya benar-benar pas-pasan. Uang jajan nyaris tak pernah ada, kebutuhan sekolah sering kali terlambat terpenuhi, namun ia tak pernah sekalipun membiarkan Dika ikut merasakan kesusahan. Kalau ada sedikit uang, pasti ia belikan makanan ringan untuk adiknya itu. Kalau Dika dimarahi, dialah yang maju memikul kesalahan. Di tengah kekosongan dan ketidakpedulian semua orang, kesabarannya sungguh luar biasa besar.
Zai menghela napas panjang, lalu perlahan membuka matanya. Ada rasa perih yang samar menyelinap di dada, entah itu perasaan sisa milik Zai asli, atau rasa hormat dan iba yang tumbuh dari dalam dirinya yang dulu hidup penuh kuasa namun tak pernah merasakan ketabahan sedalam ini.
"Kamu hebat sekali, ya..." bisiknya pelan. "Kamu bertahan sendirian selama ini tanpa pernah sekalipun berniat menyerah. Sekarang... giliranku melanjutkan perjuanganmu. Tak akan ada lagi yang berani menyakitimu, ataupun menyakiti Dika."
Ia merasakan aliran kekuatan lama yang perlahan menyatu dengan ketabahan pemilik tubuh ini. Ketegasan, kecerdikan, serta kemampuan menganalisis situasi dengan tajam yang dimiliki sang ketua mafia kini bersanding dengan pengalaman pahit dan hati yang lembut milik remaja ini. Gabungan dua jiwa yang berbeda alam, namun kini menyatu sempurna menjadi satu sosok yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Zai bangkit berdiri, merapikan pakaiannya yang sederhana. Pandangannya kini tidak lagi kosong atau takut, melainkan penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. Hari ini ia akan melangkah keluar kamar ini, menuju dunia tempat Zai asli selama ini menderita. Dan ia pastikan, mulai hari ini, sejarah akan ditulis ulang.