Bab 4: Langkah Pertama Menuju Sekolah
Zai melangkah keluar kamar dengan tenang, membawa tas kain yang sudah terlihat agak lusuh—satu-satunya tas yang dimiliki pemilik tubuh ini. Di ruang tengah, ibu tirinya sedang menyiapkan piring di meja makan, sementara ayahnya duduk termenung di sudut ruangan, tampak lelah dan tak acuh.
"Sudah bangun? Cepatlah makan sedikit saja, lalu segera berangkat. Jangan sampai terlambat dan membuat kami dimintai keterangan oleh guru," ucap ibu tirinya ketus, tanpa sekalipun menoleh padanya.
Biasanya Zai asli akan menunduk gemetar, berbicara pelan sekali hingga nyaris tak terdengar. Namun kali ini, Zai hanya mengangguk singkat, mengambil piring kosong, lalu menuangkan sedikit nasi dan sayur rebus yang tersedia. Ia makan dengan sopan dan tenang, tatapannya lurus ke depan, seolah tak terpengaruh sedikit pun oleh nada bicara yang menyakitkan itu. Hal itu membuat wanita itu tertegun sejenak, merasa ada sesuatu yang berbeda, namun tak sempat ia tanyakan karena Zai sudah selesai makan dan beranjak pergi.
"Saya berangkat dulu," ucap Zai singkat namun tegas, sebelum melangkah keluar pintu.
Perjalanan menuju sekolah ditempuhnya dengan berjalan kaki sekitar dua puluh menit—sesuai ingatan yang dimilikinya, uang untuk naik kendaraan umum hampir tak pernah ada. Sepanjang jalan, matanya tak pernah berhenti mengamati sekeliling. Dari sudut pandang ketua mafia yang terlatih, ia mencatat setiap tikungan, toko, pos jaga, hingga wajah orang-orang yang sering melintas di sana. Meski dunia ini terasa asing, naluri kehati-hatiannya tetap berjalan sempurna.
Sesampainya di gerbang sekolah, suasana riuh ramai langsung menyambutnya. Beberapa siswa yang melihat kedatangannya langsung saling berbisik sambil tertawa sinis.
"Lihat tuh anak yang kemarin pingsan di kelas, akhirnya muncul juga,"
"Pasti habis dipukul sampai sakit keras ya, pantas saja lama sekali tak terlihat."
Ucapan-ucapan tajam itu dulu pasti akan menusuk hati Zai asli hingga ia ingin menghilang saja. Namun kini, Zai hanya melangkah lurus seolah tak mendengar apa-apa. Aura dingin yang memancar dari dirinya begitu kuat hingga tanpa sadar membuat mereka yang tadinya mengejek perlahan berhenti dan mundur sedikit saat ia lewat di hadapan mereka.
Sesampainya di depan pintu kelas, Zai berhenti sejenak, menarik napas panjang. Di balik pintu inilah tempat di mana pemilik tubuh ini selama ini menahan rasa sakit dan air mata sendirian. Ia mengeratkan genggaman pada tali tasnya, lalu mendorong pintu itu terbuka.
Ruangan seketika hening. Semua mata tertuju padanya—menanti reaksi penakut yang biasa mereka lihat. Namun Zai hanya berjalan tegak menuju bangkunya yang terletak di sudut belakang, tepat di dekat meja kelompok siswa yang paling sering merundungnya. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan tas, duduk, lalu mulai mengeluarkan buku pelajaran dengan tenang seolah tak ada yang menatapnya.
Di sudut ruangan itu, Zai diam dalam hati: Ini baru permulaan. Hari ini tak ada yang akan berani menyakitiku, apalagi menyia-nyiakan nyawa yang baru saja kuterima.