Bab 5: Sikap yang Tak Terduga
Keheningan di kelas hanya berlangsung sekejap, sebelum perlahan bisikan-bisikan mengejek kembali terdengar. Tiga orang remaja yang duduk di meja persis di samping tempat duduk Zai saling pandang, lalu menyeringai jahil.
Mereka adalah Rio, Dito, dan Sari—kelompok yang paling sering membuat hidup Zai asli menderita.
Rio sengaja mendorong kakinya hingga menabrak meja Zai dengan keras. Buku yang baru saja diletakkan Zai bergeser hingga hampir jatuh ke lantai.
"Heh si pingsan! Bangun dari mimpi! Kira-kira kamu sudah sembuh belum? Atau mau kami tambah obat lagi supaya kamu pingsan selamanya?" ucap Rio dengan nada meremehkan, diiringi tawa teman-temannya.
Biasanya Zai akan terkejut, memungut barangnya sambil gemetar, atau menunduk tak berani membalas. Namun kali ini, Zai perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya sedingin es, tajam menembus tepat ke mata Rio seolah sedang menilai seekor serangga tak berguna. Aura wibawa yang selama puluhan tahun melekat pada diri seorang pemimpin besar, tanpa sadar memancar keluar seketika itu juga.
Rio tertegun seketika, tanpa sadar ia sedikit menarik kakinya menjauh. Ada perasaan cemas yang entah dari mana datangnya merayap di dadanya—seolah-olah bukan remaja lemah yang sedang menatapnya, melainkan seseorang yang bisa mencabut nyawanya kapan saja tanpa ragu.
"Kembalikan meja ini ke posisi semula," ucap Zai pelan, namun setiap kata terasa berat dan menekan. "Sekarang."
Suaranya tidak meninggi, tapi ketegasan di dalamnya membuat seisi kelas terdiam serentak. Semua orang terpaku, tak percaya apa yang baru saja mereka dengar. Zai yang selalu diam membatu, kini berani memerintah Rio, anak yang paling ditakuti di kelas ini?
Rio tersadar dari keterkejutannya, lalu tertawa paksa untuk menutupi rasa tidak nyamannya. "Heh? Kamu gila ya? Berani sekali kamu bicara begitu sama aku!" Ia hendak mengulurkan tangan hendak menyentuh kerah baju Zai.
Namun gerakannya berhenti di tengah jalan. Zai sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangan Rio dengan satu gerakan cepat dan presisi. Cukup kuat hingga Rio meringis kesakitan, wajahnya seketika memucat.
"Aku tidak suka diulang dua kali," bisik Zai tepat di hadapannya. "Kembalikan. Atau aku pastikan kamu tidak bisa mengangkat tangan ini untuk waktu yang cukup lama."
Tekanan jari Zai perlahan bertambah kuat. Rio mengerang tertahan, kepanikan mulai menyelimuti matanya. Ia bisa merasakan betapa besar kekuatan yang tersembunyi di tubuh kurus ini. Tanpa sempat berpikir panjang, Rio buru-buru mengangguk patuh, lalu menyesuaikan kembali posisi meja Zai persis seperti semula.
Begitu meja kembali rapi, Zai melepaskan cengkeramannya seketika, lalu kembali merapikan bukunya seolah tak terjadi apa-apa.
Rio mundur tergesa-gesa kembali ke tempat duduknya, mengusap pergelangan tangannya yang kini terlihat merah pekat, tak berani lagi melirik ke arah Zai.
Sari dan Dito hanya diam terpaku, tak berani lagi bersuara. Dan seisi kelas masih menatap Zai dengan pandangan penuh tanda tanya besar. Anak itu berubah total. Bukan hanya sikapnya, tapi sesuatu yang jauh lebih mendalam... sesuatu yang membuat siapa pun enggan untuk mencoba-coba padanya.
Zai menoleh sekilas ke arah mereka semua, lalu kembali menunduk menulis di buku catatannya. Di dalam hatinya ia tersenyum tipis, langkah pertahanan pertamanya telah berhasil. Mulai hari ini, aturan main di ruangan ini berubah.