Chairil Anwar adalah orang yang terkenal dengan julukan "si bintang jalang" dari karyanya yang berjudul "Aku" beliau Dia lahir pada tanggal 22 Juli 1922 di Medan, Sumatra Utara.
Beliau menjalani pendidikan pada masa belanda di sekolah dasar, yaitu sekolah Neutrale Hollands Inlandsche School (HIS) di Medan. Setelah tamat bersekolah di HIS, Chairil Anwar melanjutkan pendidikannya di sekolah mulo Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan, ia tidak menamatkan sekolah MULO dan hanya sampai ke tingkat satu, setelah itu, Chairil Anwar pindah ke sekolah MULO di Jakarta walaupun ia masih bersekolah di MULO, buku-buku untuk tingkat HBS (Hogere Burger School) sudah dibacanya.
Selanjutnya, Beliau hanya dapat melanjutkan sekolah sampai tingkat 2, dan setelah itu dia memilih untuk belajar sendiri (Autodidak) dia mempelajari berbagai bahasa yaitu, bahasa belanda, bahasa ingris, dan bahasa jerman hingga beliau bisa memahami karya-karya sastra bahasa asing
Beliau adalah seorang penyair yang hidup hanya untuk menyair ia mendapat uang dari menulis sajak
Dia berniat membangun sebuah majalah kebudayaan yang bernama "air pasang" dan "arena". Tetapi rencana tidak dapat di penuhin sampai Beliau meninggal dunia
Orang tua Chairil Anwar berasal dari Payakumbuh. Ayahnya bernama Teoloes bin Haji Manan yang bekerja sebagai ambtenar pada zaman Belanda dan menjadi Bupati Rengat pada zaman Republik tahun 1948. Ibunya bernama Saleha yang biasa dipanggil sebagai Mak Leha. Ketika menikah dengan Toeloes, Mak Leha itu Ibu beranak satu.
Setelah Mak Leha pergi ke Jakarta bersama Chairil, Toeloes menikah lagi dengan Ramadhana atau Mak Dona juga Ibu beranak satu. Dari Ramadhana ini ayah Chairil Anwar memperoleh empat orang putri, yakni Nini Toeraiza, Toehilwa, Toehilwi, dan Toechairiyah.
Pada suatu waktu Ayah Chairil Anwar mendengar bahwa anak lelaki satu-satunya menjadi orang besar sebagai penyair, beliau meneteskan airmata dan bangga dengan pencapaiannya.
Pada tanggal 5 Januari 1949 ayah Chairil meninggal ditembak Belanda ketika Aksi Polisionil Belanda terjadi di Rengat. Setelah 3 bulan, chairil anwar menyusul. Chairil Anwar meninggal pada tanggal 28 april 1949, beliau meninggal di Jakarta
Chairil Anwar menikah dengan Hapsah, seorang putri Haji Wiriaredjo pada tanggal 6 September 1946 di Kerawang. Sebelum itu, Chairil pernah jatuh cinta kepada seorang gadis Jawa yang bernama Sumirat. Akan tetapi, orang tua Sumirat tidak menyetujui perkawinan Sumirat dengan Chairil karena Chairil tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.
Dari pernikahannya dengan Hapsah, Chairil Anwar dikaruniai seorang anak yang bernama Evawani Alissa dipanggil Eva. Anaknya itu lahir pada tanggal 17 Juni 1947. Setelah itu Chairil Anwar bercerai dengan Hapsah tanpa di ketahui penyebabnya
Setelah Chairil Anwar bercerai dengan Hapsah, kesehatan beliau menurun dan harus di bawa ke rumah sakit, Beliau di operasi di CBZ karena sakit paru-paru
Chairil anwar meninggal dunia pada tanggal 29 April 1949 di pemakaman umum karet, Jakarta Selatan.
Pengalaman menulis Chairil Anwar di mulai pada tahun 1942, pada saat ia menciptakan sajak pertamanya yaitu "Nisan", Kesungguhan Chairil untuk mencipta didukung oleh kesungguhannya mempelajari sajak-sajak para pujangga terkenal dari luar negeri.
Pada tahun 1949 beliau menciptakan 6 sajak yang berjudul yaitu "Mirat Muda", "Chairil Muda", "Buat Nyonya N", "Aku Berkisar Antara Mereka", "Yang Terhempas dan Yang Luput", "Derai-Derai Cemara", dan "Aku Berada Kembali"
Selain itu, Chairil Anwar juga telah menerjemahkan karya John Cornford (Inggris), Hsu Chih Mo (Cina), Conrad Aiken (Amerika), dan W.H. Auden (Amerika). Selama enam setengah tahun sejak tahun 1942--1949, Charil Anwar telah menghasilkan 71 buah sajak asli, 2 buah sajak saduran, 10 sajak terjemahan, enam prosa asli, dan 4 prosa terjemahan.