Bab 6: Kejutan Saat Jam Pelajaran
Bel berbunyi nyaring memecah keheningan, dan tak lama kemudian Bapak Guru Mata Pelajaran Matematika masuk membawa tumpukan kertas ujian. Wajahnya tampak serius.
"Baik anak-anak, hari ini kita akan bahas soal ulangan minggu lalu. Hasilnya sungguh mengecewakan. Hanya sedikit yang mendapat nilai di atas standar," ucapnya datar sambil mulai membagikan lembaran hasil pekerjaan satu per satu.
Semua siswa menahan napas, takut dengan hasil yang didapat. Tak lama giliran Rio dan kawanannya, nilainya pas-pasan bahkan ada yang di bawah standar. Hingga akhirnya sampai di meja Zai.
Bapak Guru sempat berhenti sejenak, menatap lembaran itu bergantian dengan menatap Zai. Semua orang menanti—mereka yakin sekali nilai Zai pasti yang paling bawah, mengingat selama ini ia selalu terlihat tidak mengerti pelajaran.
"Zai Permana..." suara Bapak Guru terdengar sedikit heran. "Nilaimu... sempurna 100."
Seketika ruangan kelas riuh seketika seolah digemuruh guntur. Mata semua orang melotot tak percaya menatap Zai. Rio, Dito, maupun Sari membelalakkan mata tak percaya. Zai yang sering tertidur, yang buku catatannya sering hilang, tiba-tiba mendapat nilai tertinggi satu-satunya di kelas?
"Tidak mungkin! Pak, pasti dia menyontek! Dia kan tidak pernah pintar!" seru Rio tak terima, melupakan rasa sakit di tangannya tadi.
Bapak Guru menggeleng pelan, lalu menatap tegas ke arah Rio. "Tidak mungkin menyontek Rio. Soal yang saya buat memiliki tiga variasi berbeda, dan Zai mendapatkan soal tipe C yang paling sulit. Lihatlah cara penyelesaiannya sangat rapi, bahkan ada langkah penyelesaian yang lebih singkat dan cerdas dari yang saya ajarkan."
Guru itu kemudian meminta Zai maju ke depan papan tulis untuk mengerjakan soal serupa yang sama persis. Tanpa ragu sedikit pun, Zai melangkah tenang ke depan. Bagi dirinya yang pernah mengurus lima perusahaan besar, menganalisis angka, merancang strategi keuangan hingga miliaran rupiah, soal tingkat SMA hanyalah hal yang sangat sederhana.
Dengan kapur di tangan, Zai menulis langkah demi langkah dengan cepat, rapi, dan sangat mudah dimengerti. Sekali dua kali ia bahkan menyempurnakan rumus yang tertulis di buku pelajaran agar lebih akurat.
Bapak Guru mengangguk-angguk kagum hingga tersenyum lebar. "Hebat sekali Zai! Bapak tidak menyangka kamu memiliki pemahaman sedalam ini. Mulai sekarang, Bapak harap kamu bisa membantu teman-temanmu yang masih kesulitan."
Zai hanya mengangguk sopan lalu kembali ke tempat duduknya dengan tenang. Ia sama sekali tidak terlihat bangga atau sombong. Bagi dirinya, ini baru sekadar kemampuan dasar yang ia miliki. Namun bagi seluruh penghuni kelas, hari ini sungguh hari di mana dunia mereka seolah terbalik. Anak yang selama ini mereka injak-injak, ternyata menyimpan kemampuan yang tak terbayangkan.
Rio meremas tangannya di bawah meja, menahan marah sekaligus rasa heran yang meluap-luap. Sesuatu yang besar pasti sedang berubah pada diri Zai. Dan entah kenapa, ia merasa perubahan ini justru akan menjadi malapetaka bagi dirinya dan teman-temannya.