Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair indonesia terkemuka. Ia sering disingkat dengan panggilan nama SDD. Sapardi terkenal melalui karya puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana tetapi penuh makna kehidupan, seperti puisi "Hujan Bulan Juni" dan "Aku Ingin" yang sangat populer.
Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 20 Maret 1940, sebagai anak pertama dari pasangan Sadyoko dan Saparian yang berasal dari Solo, Jawa Tengah, tepatnya di Ngadijayan. Sapardi Djoko Damono menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai dua orang anak, seorang perempuan bernama Rasti Sunyandani dan seorang laki-laki bernama Rizki Hendriko.
Pendidikan yang di jalani Sapardi Djoko Damono pada Masa mudanya dihabiskan di Surakarta adalah jalur pendidikan dasar ditempuhnya di SD Inpres Nagaraherang. Pendidikan menengah ditempuh di SMP Negeri 2 Surakarta dengan lulusan tahun 195l dan SMA Negeri 2 Surakarta dengan lulusan tahun 1958. Pada masa ini, Sapardi Djoko Damono sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sebelum kemudian berkarier sebagai dosen di Universitas Indonesia. Setelah sempat menempuh studi di University of Hawaii, Honolulu, Sapardi Djoko Damono menempuh program doktor di Fakultas Sastra UI dan lulus pada tahun 1989.
Sebagai penyair, selama perjalanan kariernya Sapardi Djoko Damono telah menghasilkan berbagai kumpulan puisi yang mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah satu karya yang paling terkenal adalah "Hujan Bulan Juni" yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah lagu dan film. Puisi tersebut menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang paling banyak dibaca dan dicari karena mengandung makna tentang cinta, kesabaran, dan ketulusan. Selain "Hujan Bulan Juni", ia juga menerbitkan berbagai kumpulan puisi lain, seperti "Duka-Mu Abadi" , "Mata Pisau" , dan "Perahu Kertas" . Karya-karya tersebut menunjukkan kemampuannya dalam merangkai kata-kata menjadi ungkapan yang indah sekaligus mendalam.
Atas dedikasinya dalam dunia sastra, Sapardi Djoko Damono akhirnya dapat menerima berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia dan SEA Write Award dari Thailand. Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan berbagai karya sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia sehingga ikut menambah warisan karya sastra tanah air dan nasional.
Keistimewaan karya Sapardi Djoko Damono terletak dari penggunaan bahasa yang sederhana, tetapi penuh dengan makna filosofis. Sapardi Djoko Damono sering mengangkat tema kehidupan, cinta, alam, waktu, dan kemanusiaan. Melalui puisinya, pembaca juga diajak merenungkan berbagai pengalaman hidup dengan cara yang lembut dan mendalam. Karena itulah, karya-karyanya tetap relevan dan dicintai banyak oleh berbagai generasi, termasuk dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pecinta sastra.
Sapardi Djoko Damono meninggal dunia di Tangerang Selatan pada 19 Juli 2020 dalam usia 80 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia sastra Indonesia, Meskipun telah tiada, karya-karyanya tetap hidup dan terus dibaca banyak oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga pecinta sastra. Hingga kini, Sapardi Djoko Damono dikenang sebagai sosok yang berjasa besar dalam perkembangan sastra Indonesia dan menjadi inspirasi bagi banyak penulis serta penyair muda. Sapardi Djoko Damono akan selalu dikenang sebagai penyair besar Indonesia yang telah memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan sastra nasional melalui karya-karya yang indah, bermakna, dan abadi.