Gemuruh Air Terjun Sekar Asih menggetarkan dinding-dinding batu di sekeliling mereka. Udara kian dingin dan lembap ketika Ajisaka, dengan langkah gemetar dan mata memerah, melangkah menembus tirai air yang deras.
Kirana mengikutinya tepat di belakang, membawa aura ketenangan yang dingin dan sarat akan penantian ratusan tahun.
Di balik hempasan air terjun yang membentengi tempat itu dari dunia luar, berdirilah sebuah gua rahasia. Ruangan batu itu sunyi, hampa dari suara , dan diselimuti kebekuan abadi.
Di tengah-tengah gua, di atas altar batu berlumut, terbujur jasad seorang wanita berbalut kain kuno yang tak dimakan usia.
Wajahnya membeku dalam duka abadi, dan tepat di dada kirinya, menancap sebuah keris berlukiskan naga yang memancarkan pendar cahaya merah keemasan—pendar kehidupan yang membelenggu jiwanya.
Itu adalah Keris Mahogra. Dan jasad itu adalah Saraswati.
Saat Ajisaka mendekati jasad tersebut, dadanya mendadak terasa seperti dihantam palu godam. Ia melempar badannya ke lantai gua, meraung seraya memegangi kepalanya yang seolah hendak pecah.
BZZZT!
Kesadarannya terseret ke dalam pusaran ingatan yang dahsyat. Kilasan-kilasan masa lalu membakar jiwanya tanpa ampun.
Ia melihat dirinya sendiri berbusana kebesaran pangeran,Raden Mas Bagus
Kamajaya.
Ia merasakan keangkuhan ambisinya, bisikan Ki Bhra Bhairava, kehangatan pelukan Saraswati yang dikorbankan, hingga pengkhianatan manis bersama Dyah Ayu Kartarajasa.
Ia mendengar kembali jeritan kepedihan Saraswati, sumpah darah yang mengerikan, dan gambaran para putra kandungnya yang tewas mengenaskan muntah darah saat tepat berusia tujuh belas tahun.
"Aaargh!" Ajisaka berteriak hysteris, air matanya menetes deras membasahi batu gua yang dingin.
Ketika ia mendongak, matanya yang tadi asing kini telah dipenuhi ingatan utuh sang pangeran. Ia menatap Kirana yang berdiri membisu.
"Aku... aku mengingat semuanya," bisik Ajisaka, suaranya pecah oleh penyesalan yang teramat sangat. "Aku yang melakukan dosa keji itu padamu... Saraswati."
Kirana menatapnya, tidak lagi dengan amarah murni, melainkan dengan duka mendalam yang akhirnya menemukan ujungnya.
"Dendam dan kutukan ini terikat pada keris ini, Kamajaya," kata Kirana pelan. "Untuk membebaskan jiwa yang terperangkap dan mengakhiri lingkaran darah ini, kita harus mencabut keris itu bersama-sama."
Ajisaka bangkit dengan tubuh gemetar. Ia melangkah mendekati jasad Saraswati, lalu menggenggam hulu Keris Mahogra yang hangat oleh pendar mistis..
Kirana melangkah maju, meletakkan tangannya di atas jemari Ajisaka.
Dengan satu tarikan napas berat yang menyatukan dua jiwa lintas zaman, mereka menarik keris itu keluar dari dada sang jasad.
SRRRFT!
Cahaya merah keemasan meledak hebat, menerangi seluruh sudut gua. Bersamaan dengan terlepasnya bilah keris dari dada, jasad itu perlahan meluruh menjadi butiran debu emas.
Dari debu itu, membumbung sesosok bayangan halus, roh Saraswati yang anggun.
Roh itu menatap Ajisaka. Tak ada lagi dendam di matanya, hanya sisa-sisa duka yang akhirnya terobati oleh kesadaran sang kekasih.
"Rasa sakit ini... luka yang kupendam ratusan tahun... akhirnya usai," bisik roh Saraswati dengan suara sehalus embun pagi. "Aku memaafkanmu, Kamajaya. Pergilah dalam damai..."
Bayangan itu tersenyum tipis sebelum akhirnya sirna, melebur bersama keheningan malam dan terbang bebas menuju keabadian.
Gua kembali gelap. Hanya tersisa pendar redup dari Keris Mahogra yang kini berada di genggaman Ajisaka.
Ajisaka berdiri mematung. Jiwanya meronta oleh penderitaan dan rasa bersalah yang tak tertanggungkan.
Memohon maaf saja terasa terlalu murah untuk membayar semua air mata, janin yang dikorbankan, dan keturunan yang terbunuh oleh ambisinya.
"Setiap dosa harus dibayar dengan tuntas," ucap Ajisaka tenang, sebuah ketetapan hati memancar dari matanya.
"Ajisaka, apa yang—" Kirana membelalakkan mata.
Sebelum Kirana sempat bergerak, Ajisaka membalikkan mata Keris Mahogra ke arah dadanya sendiri. Dengan satu dorongan mantap dan tanpa ragu, ia menancapkan keris bertuah itu tepat ke jantungnya.
JASSH!
Napas Ajisaka tertahan. Darah hangat merembes membasahi pakaiannya. Namun, bukannya merintih kesakitan, sebuah senyuman lega justru terukir di bibirnya. Cahaya merah keris itu bergetar hebat untuk terakhir kalinya, menyerap nyawa dan jiwa Kamajaya hingga tuntas.
"Selesai..." bisik Ajisaka parau.
Tubuhnya perlahan melemah, lalu perlahan meluruh menjadi abu emas yang melayang terbawa hembusan angin keluar menembus tirai air terjun.
Gua rahasia itu kembali sunyi senyap.
Di atas lantai batu yang dingin, hanya tersisa Keris Mahogra yang kini telah sepenuhnya padam,tak lagi memancarkan cahaya, tak lagi haus akan darah.
Kirana berlutut perlahan, memungut keris dingin itu dan mendekapnya erat di dada. Dendam yang terukir dari air mata dan darah pada akhirnya runtuh, menyisakan Keris Mahogra yang kini bersemayam diam di tangan Kirana, sebuah saksi bisu atas takdir yang telah genap.