Bab 1: Hitungan Mundur di Sudut Cimahi
Angin sore Cimahi berembus membawa aroma tanah basah masuk lewat jendela kelas XII MA Nurul Falah. Di sudut papan tulis, angka tiga yang ditulis dengan kapur putih tampak mencolok. Angka itu adalah sisa hari mereka di madrasah ini. Suasana kelas riuh oleh suara tawa, namun ada lapisan sunyi yang tipis, seolah semua orang sedang menahan diri agar tidak meledakkan emosi terlalu cepat. Mereka tahu, waktu kebersamaan ini hampir habis.
Humay duduk bersandar di kursinya, memandangi selembar kertas kosong di atas meja. Kertas itu seharusnya diisi dengan kesan dan pesan untuk buku kenangan angkatan. Di sebelahnya, Naila sibuk merapikan jilbab segiempatnya sambil berkaca pada layar ponsel yang mati.
"May, lo beneran mau ambil jurusan yang di Bandung itu?" tanya Naila pelan. Nadanya tidak sekadar basa-basi, ada kecemasan sahabat yang tulus di sana.
Humay menghela napas, memutar-mutar pulpen di jarinya. "Masih nunggu pengumuman jalur rapor, Nai. Kalau meleset, gue terpaksa ikut ujian mandiri. Jujur, gue takut ngecewain orang tua."
Ira dan Tina yang mendengar percakapan itu langsung menggeser kursi mereka, menyatukan meja hingga membentuk lingkaran kecil. Tidak lama kemudian, Putri dan Oiii datang bergabung setelah berlarian kecil dari kantin, membawa sekotak camilan makaroni pedas yang langsung diletakkan di tengah meja. Interaksi keenam gadis ini mengalir begitu saja, tanpa jarak. Tiga tahun bertarung dengan tugas hafalan dan ujian madrasah telah menempa mereka menjadi lebih dari sekadar teman sekelas.
"Jangan pesimis duluan, May. Kita kan udah janji mau berjuang bareng sampai akhir. Masa menyerah sebelum perang dimulai?" hibur Ira sambil menepuk pelan bahu Humay.
"Betul kata Ira," timpal Tina, mengunyah makaroninya. "Tadi pas gue ke ruang guru, Bu Umi juga nanyain perkembangan belajar kita. Beliau bilang, angkatan kita harus jadi angkatan yang paling kompak dan sukses bareng."
Mendengar nama wali kelas mereka disebut, Putri langsung tersenyum tipis. "Bu Umi emang galak kalau urusan absensi, tapi kalau udah perhatian kayak ibu sendiri, ya." Oiii hanya mengangguk setuju sambil sibuk mengunyah.
Sementara itu, di sudut belakang kelas, atmosfernya terasa berbeda. Angga, si pendiam yang terkenal jarang memulai obrolan jika tidak penting, hanya menatap ke luar jendela melihat daun-daun pohon mangga yang bergoyang ditiup angin. Di dekatnya, Fahrul dan Reyhan sedang berdebat kecil tentang hasil pertandingan sepak bola semalam dengan sangat antusias.
Di meja sebelah mereka, Revail dan April sibuk mencoret-coret buku tulis, menyusun strategi dan rincian biaya untuk acara perpisahan informal yang rencanakan anak-anak cowok di luar sekolah nanti.
"Ngga, melamun terus dari tadi. Takut kangen sama omelan Bu Umi, ya?" ledek Akbar yang baru saja masuk kelas bersama Rafly.
Angga menoleh lambat, lalu tersenyum tipis. "Gak. Gue cuma mikir, minggu depan gak bakal ada lagi yang datang pagi-pagi buta ke kelas cuma buat nyontek tugas matematika gue."
Sule dan Sofyan yang baru berjalan melewati meja mereka langsung meledakkan tawa keras. "Wah, itu mah sindiran keras langsung ke ulu hati buat kita, Fly!" seru Sule sambil merangkul pundak Rafly dengan dramatis. Rafly hanya bisa terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi serius, Ngga. Kalau gak ada lo, kelar hidup kita kemarin-kemarin," ucap Sofyan tulus, yang langsung diaminkan oleh Fahrul dan Reyhan yang menghentikan debat bola mereka sejenak.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tegas terdengar dari koridor luar. Pintu kelas yang terbuka lebar membuat seisi ruangan seketika senyap. Murid-murid langsung merapikan posisi duduk mereka. Kepala Sekolah, Pak Aep Saepudin, melangkah masuk ke dalam kelas dengan wibawa yang kental, didampingi oleh Bu Umi yang membawa beberapa map gantung di pelukannya. Wajah Pak Aep yang biasanya kaku dan formal, sore ini terlihat jauh lebih hangat.
Pak Aep berdiri di depan meja guru, memandangi dua puluh lebih murid kelas dua belas di hadapannya. "Anak-anakku sekalian," buka Pak Aep, suaranya yang berat menggema di ruangan yang mendadak khidmat itu. "Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Madrasah ini telah menjadi saksi bagaimana kalian tumbuh, menyaksikan kalian menangis karena nilai, dan tertawa karena persahabatan. Beberapa hari lagi kalian akan dilepas. Jaga nama baik MA Nurul Falah di mana pun kaki kalian berpijak nanti."
Bu Umi melangkah maju satu baris, matanya tampak sedikit berkaca-kaca saat menatap satu per satu wajah murid didiknya. "Ibu mungkin sering marah, sering menghukum kalian karena terlambat atau lupa setoran hafalan. Tapi ketahuilah, itu semua karena Ibu ingin kalian siap menghadapi dunia luar yang jauh lebih keras dari ruang kelas ini. Jangan pernah lupakan ibadah kalian, ya."
Kata-kata itu mendarat telak di hati semua orang. Putri tertunduk dalam-dalam, menahan genangan air di pelupuk matanya. Oiii spontan menggenggam erat jemari Naila di bawah meja. Detik itu juga, ego masa remaja mereka runtuh, digantikan oleh rasa haru yang mendalam. Semua lelah akibat , bangun subuh, dan kecemasan akan masa depan seolah melebur menjadi satu rasa syukur yang tidak ternilai.
Bab 1 selesai