Hujan turun dengan deras malam itu, membasahi jalanan kota yang penuh dengan cahaya lampu. Di dalam sebuah bilik hospital yang sunyi, seorang wanita muda terbaring tanpa sedar. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar, seolah-olah sedang berusaha melawan mimpi buruk yang tidak mampu dia ingat.
Livia Ardelia perlahan-lahan membuka matanya. Cahaya putih dari lampu hospital membuatnya menyipitkan mata. Kepalanya terasa berat, tubuhnya terasa lemah, dan perkara pertama yang dia rasakan hanyalah kebingungan.
"Di mana aku...?" bisiknya dengan suara hampir tidak terdengar.
Tidak lama kemudian, seorang lelaki yang sejak tadi duduk di samping katilnya segera bangun. Wajahnya yang biasanya dingin kini dipenuhi rasa takut dan lega.
"Livia..."
Suara itu membuat wanita itu menoleh.
Di hadapannya berdiri seorang lelaki tampan dengan mata yang terlihat lelah. Seolah-olah dia telah melalui banyak malam tanpa tidur hanya untuk menunggu Livia membuka matanya.
Namun, bagi Livia, lelaki itu adalah orang asing.
"Siapa kamu?" tanya Livia perlahan.
Pertanyaan itu membuat lelaki tersebut terdiam.
Adrian Valerio, lelaki yang pernah berjanji untuk mencintainya seumur hidup, hanya mampu memandang wanita di hadapannya dengan tatapan kosong.
"Kamu tidak mengenalku?" tanyanya pelan.
Livia menggeleng.
"Aku tidak ingat apa-apa."
Jantung Adrian terasa seperti dihancurkan.
Dia masih mengingati malam terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi. Malam ketika Livia berdiri di hadapannya dengan mata penuh air mata.
"Aku lelah, Adrian. Aku tidak mampu terus mencintai seseorang yang selalu membuatku merasa sendirian."
Kata-kata itu masih terukir jelas dalam ingatannya.
Saat itu, Adrian terlalu keras kepala untuk mengakui kesalahannya. Dia membiarkan ego menguasai dirinya sehingga wanita yang paling dia cintai memilih untuk pergi.
Tetapi sekarang, ketika Livia benar-benar tidak mengingatnya, dia baru menyedari betapa berharganya wanita itu.
"Aku Adrian..." katanya perlahan sambil mendekati katil. "Aku suamimu."
Livia terkejut.
"Suamiku?"
Dia memandang jari tangannya sendiri dan melihat cincin pernikahan yang terpasang di sana.
Ada rasa aneh di dalam hatinya. Seperti ada sesuatu yang hilang, tetapi dia tidak tahu apa.
"Aku... menikah denganmu?"
Adrian mengangguk perlahan.
"Iya."
Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu terlihat kuat itu menunjukkan kelemahannya.
"Aku tahu kamu mungkin tidak mengingatku sekarang. Tapi aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku lagi."
Livia hanya diam.
Dia tidak tahu siapa Adrian Valerio. Dia tidak tahu bagaimana kisah mereka bermula. Dia juga tidak tahu kenapa melihat mata lelaki itu membuat hatinya terasa sakit.
Sementara itu, Adrian tahu satu perkara.
Ingatan Livia mungkin hilang, tetapi luka lama mereka belum tentu hilang.
Dan jika suatu hari Livia mengingat semuanya...
Dia mungkin akan kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya.
Tetapi kali ini, Adrian berjanji.
Dia tidak akan membiarkan Livia pergi tanpa berusaha memperbaiki semuanya.
Kerana sebelum Livia pergi untuk selamanya, Adrian hanya ingin satu kesempatan.
Kesempatan untuk membuat wanita itu mencintainya sekali lagi.