Hari pertama sekolah seharusnya menjadi hari yang biasa bagi Alya Raina.
Bangun pagi, memakai seragam, pergi ke sekolah, lalu pulang tanpa menarik perhatian siapa pun. Begitulah hidup Alya selama ini.
Dia bukan siswi paling pintar di sekolah. Dia juga bukan gadis yang selalu menjadi pusat perhatian. Alya hanya seseorang yang lebih suka diam dan menyimpan semua masalahnya sendiri.
Namun hari itu semuanya berubah.
Ketika pintu kelas terbuka, seorang lelaki tinggi masuk bersama guru.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan perkenalkan diri."
Lelaki itu berdiri di depan kelas dengan wajah tenang. Tatapan matanya dingin, membuat seluruh kelas tiba-tiba menjadi lebih sunyi.
"Aku Evan Arther. Semoga kita bisa bekerja sama."
Hanya kalimat sederhana.
Tetapi entah kenapa, kehadiran Evan langsung menarik perhatian semua orang.
"Dia tampan sekali."
"Katanya dia pindahan dari sekolah terkenal."
"Dia kelihatan seperti tokoh utama dalam drama."
Bisikan para siswi terdengar di seluruh kelas.
Namun Alya hanya melihat sebentar, lalu kembali menatap bukunya.
Baginya, orang seperti Evan terlalu jauh dari dunianya.
Seseorang yang bersinar terang tidak mungkin tertarik pada seseorang seperti dirinya.
---
Beberapa hari berlalu.
Alya mulai menyadari bahawa Evan bukan seperti yang terlihat.
Di depan semua orang, dia selalu dingin dan tidak peduli. Tetapi ketika tidak ada yang melihat, Evan sering membantu orang lain secara diam-diam.
Suatu hari, Alya menemukan Evan duduk sendirian di belakang sekolah.
Lelaki itu menatap langit dengan wajah yang terlihat lelah.
"Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan Alya membuat Evan terkejut.
"Kamu selalu bertanya hal yang tidak perlu."
Alya tersenyum kecil.
"Mungkin tidak perlu bagi kamu. Tapi mungkin perlu bagi seseorang."
Evan terdiam.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak melihatnya sebagai lelaki sempurna.
Alya melihatnya sebagai manusia biasa.
---
Sejak hari itu, hubungan mereka perlahan berubah.
Evan mulai sering berbicara dengan Alya.
Alya mulai mengetahui bahawa di balik sikap dinginnya, Evan menyimpan luka besar.
Dia kehilangan keluarganya dalam sebuah kejadian yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun.
Sedangkan Evan mengetahui bahawa Alya juga menyimpan kesedihan yang sama.
"Kamu selalu tersenyum," kata Evan suatu hari.
Alya menoleh.
"Kenapa?"
"Kerana aku rasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu."
Senyuman Alya perlahan menghilang.
"Kamu juga."
Untuk beberapa saat, mereka hanya saling diam.
Mereka berdua tahu...
Kadang-kadang orang yang paling memahami luka kita adalah orang yang memiliki luka yang sama.
Tetapi mereka tidak tahu bahawa rahsia terbesar dari masa lalu mereka akan segera terbongkar.
Dan ketika kebenaran muncul...
Hubungan mereka akan diuji.
Kerana tidak semua kisah cinta dimulai dengan kebahagiaan.
Ada yang dimulai dari dua hati yang sama-sama terluka.