Pagi ini aku kecewa lagi..
Hatiku sesak lagi, setelah melihat hp nya.
Aku membuka whatsapp membaca obrolan nya dengan salah satu teman cowok nya. Dia mereplay status temannnya itu, ternyata sekitar jam 8 malam dia sudah keluar dari tempat kerjanya dan pergi berkumpul bersama teman komunitasnya.
Seingat ku. Dia mengabari sekitar jam 10 malam dan bilang kalau dia baru sampe rumah orang tuanya dan mau rehat dulu. Karna semalam aku sudah mengantuk dan tak membuka chat nya aku biarkan saja nanti juga dia pulang. Namun sampai jam setengah 1 malam dia baru sampai. Ku pikir dia ketiduran. Ternyata enggak.
Harusnya setelah pulang kerja dia langsung pulang saja. Namun saat itu dia tidak ada kabar, bahkan saat aku chat dia jam 7 malam dan bilang mau ke bidan bersama anak sulungku. Dia tidak ada respon.
Betapa perih nya sakit nya dan sesak nya. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata namun dia tidak terjatuh. Mungkin karna sering nya aku merasakan hal seperti itu.
Aku ingin marah, mulutku masih ingin berkata banyak,namun energiku sudah habis.
Sampai tempat kerja aku tidak mau membuka hp atau mengabarinya.
Satu chat masuk dari dia namun tidak aku buka, dia mengabarin lagi kalau sudah sampai tempat kerja dan tak aku buka,bahkan chat nya sudah tidak aku sematkan lagi kini aku biarkan dia tertumpuk grup chat kerja dan yang lainnya. Biasanya nama kontak "suamiku" dengan emot love itu selalu paling atas. Namun kini tidak aku sematkan lagi.
Dia bertanya lagi apakah aku belum sampai tempat kerja? Gak bakal ngabarin? Dan kalimatnya yang terakhir dia bertanya.
"Sekarang tanggal berapa? Mau di rayain dimana?
Barulah aku buka chat nya ku ingat lagi hari ini tgl 8.
Ternyata tepat hari ini 5 tahun sudah usia pernikahan kami.
Hanya ada rasa sedih di hatiku,sebab apa? Dulu jika di tanya begitu aku akan sangat senang dan excited. Namun sekarang rasanya hampa. Aku hanya membalas "ga usah di rayain, aku mau istihatat 3 minggu belum libur" ya memang jika menjelang akhir bulan pekerjaan ku akan sibuk karena mendekati closing dan tidak akan libur sampai awal bulan lagi.
Entah bagaimana jika nanti kami bertemu lagi di rumah, aku hanya sudah capek tidak mau berbicara.
Rasanya campur aduk, dia tidak pernah merasakan bagaimana saat kita harus bekerja dengan perasaan kecewa.
Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tuliskan,namun aku sudah tidak mau mengenang apapun lagi apalgi jika itu hal yang membuat sakit hati.
Bukan tanpa sebab aku marah hanya karena dia berkumpul dengan temannya, namun ada sebab lain ada perasaan lain ada banyak hal yang menumpuk di hatika sehingga saat ada kejadian ini barulah meledak. Itupun aku berbicara sudah tidak pakai nada tinggi dan emosi,aku hanya berbicara seperti biasa saja.
Pagi tadi dia hanya diam, entah omongan ku ada yang masuk ke hati dan pikiran nya atau tidak, atau hanya angin berlalu seperti biasanya.