\\~Gema di Tubuh Orang Lain~\\
Aku mati di tanggal 17 Oktober 2019. Jatuh dari atap parkiran kampus. Polisi bilang bunuh diri.
Itu bohong.
Aku dibunuh. Dan pembunuhnya mencium keningku sebelum mendorongku.
Masalahnya, aku ingat semuanya. Termasuk bau parfum kayu manis di lehernya.
---
//Kehidupan Kedua: 2021//
Aku terbangun dengan napas orang lain. Nama di KTP: Alina Putri, 19 tahun. Wajah baru, rumah baru di Simpang IV, Sumatera Barat, keluarga baru yang memelukku sambil menangis karena "Alina" koma selama 3 hari.
Tapi di dalam kepalaku masih ada Arka. Cowok 22 tahun yang mati 2019.
Awalnya kukira ini berkah kedua. Sampai aku melihat foto di dompet Alina.
Itu foto kami. Aku dan dia. 2018. Kami tersenyum di danau Maninjau. Di belakang foto ada tulisan tangannya: _Untuk Arka. Jangan pernah lepas._
Alina adalah pacarku di kehidupan sebelumnya.
Jantungku yang baru berdetak kencang. Reinkarnasi? Oke. Tapi kenapa harus ke tubuh pacarku sendiri?
Malam pertama aku tidur di kamar Alina, aku bermimpi. Bukan mimpi biasa. Aku melihat diriku yang dulu, berdiri di atap, dan di belakangku ada siluet laki-laki. Tangannya memegang bahuku.
Lalu bisikan: "Kau tidak boleh ingat."
Aku terbangun dengan darah mimisan.
//Kehidupan Ketiga: 2024//
Aku mati lagi. Kali ini "Alina" tenggelam di kolam renang kos. Tidak ada saksi.
Aku pikir itu kecelakaan. Sampai aku buka mata lagi.
2024. Nama baru: Rafi, 24 tahun. Barista di kafe kecil di Bukittinggi. Tubuh laki-laki. Suara berat.
Dan di hari ketiga jadi Rafi, seseorang datang ke kafeku. Pesan kopi hitam, tidak pakai gula. Duduk di pojok paling gelap.
Dia pakai hoodie. Wangi kayu manis.
Darahku dingin. Itu dia. Pembunuhku.
Dia menatapku lama. "Kopi pahit ya," katanya. Suaranya sama persis seperti 5 tahun lalu.
"Aku kenal kamu?" tanyaku, pura-pura bodoh.
Dia senyum. "Kamu mirip seseorang yang kukenal. Namanya Arka."
Aku hampir menjatuhkan gelas.
>‐< Yang Sebenarnya Terjadi! >‐<
Malam itu aku mengikutinya. Namanya Dimas. Dosen tamu di kampusku dulu. Pacar gelap Alina.
Pemikirannya sederhana dan busuk: dia obsesi. Dia tidak bisa menerima kalau Alina mencintaiku. Jadi dia bunuh aku. Lalu 2 tahun kemudian dia bunuh Alina, karena merasa "Alina" sudah berubah setelah koma. Terlalu dingin. Terlalu banyak bertanya tentang masa lalu.
Dan sekarang dia mengincar "Rafi". Karena Rafi punya tahi lalat di leher kiri. Sama seperti Arka. Sama seperti yang dia cium sebelum mendorongku.
Ini bukan reinkarnasi acak. Ini kutukan. Atau eksperimen. Aku tidak tahu. Yang kutahu, setiap kali aku lahir kembali, dia akan menemukanku. Dan membunuhku lagi.
★Thriller★
aku tidak bisa lapor polisi. Tidak ada bukti. Dan setiap kali aku mati, ingatanku pindah ke tubuh baru. Kalau aku mati sebagai Rafi, aku akan lahir lagi. Dan dia akan terus mengejarku selamanya.
♥︎Romance♥︎
di tengah itu semua, aku masih ingat Alina. Gadis yang dulu memelukku tiap malam. Sekarang aku hidup di tubuh laki-laki, tapi tetap merindukan cara dia tertawa.
Aku terjebak antara cinta yang belum selesai dan orang yang ingin menghabisiku di setiap kehidupan.
¿Akhir?
Aku tidak bisa lari. Jadi aku menghadapi.
Malam Jumat, aku undang Dimas ke atap kafe tempatku kerja. Tempat yang tinggi. Angin kencang. Sama seperti 2019.
"Kamu capek ya ngejar aku terus?" kataku.
Dia terkejut. "Kamu... ingat?"
"Aku selalu ingat."
Dia mendekat. Pisau kecil di tangannya. "Kalau begitu kamu harus mati lagi. Biar kita mulai dari awal. Mungkin di kehidupan depan kamu akan memilih aku."
Aku tertawa. "Di kehidupan manapun aku tidak akan pernah memilih pembunuh."
Kami bergulat. Aku lebih kuat sekarang. Tubuh Rafi lebih tinggi. Aku berhasil menjatuhkan pisaunya.
Tapi dia mendorongku.
Detik terakhir sebelum jatuh, aku berbisik: "Aku sudah titip surat di kafe. Isinya semua yang kamu lakukan. Polisi akan menemukannya."
Wajahnya panik. Itu pertama kalinya aku melihat dia takut.
Aku jatuh.
---
//Kehidupan Keempat: 2026//
Aku membuka mata. Rumah sakit. Lampu putih.
Perawat bilang: "Selamat ya Bu. Bayinya laki-laki. Sehat."
Aku menoleh ke cermin. Wajah perempuan. Umur 27. Nama: Sari.
Di meja samping ada surat dan kotak kecil. Di dalamnya ada kalung. Liontin setengah hati. Setengahnya lagi ada di leherku sekarang. Kalung yang dulu Alina pakai.
Dan di surat itu tulisan tanganku sendiri, dari kehidupan Rafi:
_Untuk aku yang akan datang. Kalau kamu baca ini, berarti dia gagal. Aku titipkan bukti ke pengacara. Dimas sudah ditangkap. Dia tidak akan menemukanmu lagi. Hidup. Cintai seseorang dengan benar. Lupakan aku._
Aku menangis. Bukan karena takut. Tapi karena akhirnya rantai itu putus.
Malamnya aku pulang ke rumah kecil di Simpang IV. Di buaian ada bayi laki-laki. Dia membuka mata, menatapku, dan tersenyum.
Di pergelangan tangannya ada tahi lalat kecil. Di tempat yang sama seperti punyaku dulu.
Aku menggendongnya. "Halo, Arka," bisikku.
Mungkin ini reinkarnasi. Mungkin ini kebetulan. Mungkin ini hadiah karena aku bertahan.
Cinta tidak harus dengan orang yang sama di tubuh yang sama. Kadang cinta bereinkarnasi menjadi cara kita menjaga satu sama lain.
Yang tersisa hanya aku, anakku, dan gema tawa yang tidak lagi membuatku takut.
\\TAMAT\\
Gimana? Mau dibuat versi yang lebih gelap lagi atau mau ending yang lebih manis?