Langit di atas Shinjuku masih menyisakan aroma hangus, darah, dan residu energi kutukan yang pekat. Di tengah reruntuhan yang hancur lebur, dunia seolah berhenti berputar bagi Celia Gojo. Gadis berambut putih seputih salju itu bersimpuh di atas puing-puing, dia adalah adiknya Gojo, ia histeris rasa sakit.
Air mata Celia mengalir tanpa henti, membasahi wajah kakaknya yang tampan, Gojo Satoru, yang kini terbaring kaku dalam keadaan tidak bernyawa. Tubuh Satoru telah terpisah, meninggalkan pemandangan yang mengerikan dan menghancurkan seluruh jiwa Celia. Celia memeluk sisa tubuh kakaknya dengan erat, menjerit pilu sambil meratapi satu-satunya keluarga yang dimilikinya di dunia ini.
Di atas sebuah reruntuhan yang lebih tinggi, Ryomen Sukuna berdiri. Sang Raja Kutukan, yang memiliki empat lengan dan wajah penuh tanda kutukan, menatap ke bawah.
Awalnya, ia hanya bermaksud menikmati kemenangannya atas penyihir terkuat di era modern. Namun, pandangannya terkunci pada Celia. Rambut putih gadis itu yang berkilau di antara debu, sepasang mata yang mirip dengan mata Satoru namun memancarkan kerapuhan murni, serta tubuh mungil yang gemetar hebat karena duka, menjadi fokus perhatiannya.
Sebuah perasaan asing bergolak di dalam dada Sukuna. Itu bukanlah sekadar dahaga darah, melainkan obsesi. Sukuna mendambakan gadis tersebut. Ia menginginkan air mata itu, keputusasaan itu, dan seluruh jiwa raga Celia hanya untuk kepemilikannya sendiri.
Sukuna melompat turun, mendarat tanpa suara di dekat Celia. Celia menoleh dengan tatapan penuh kebencian dan air mata.
"Curahkan air matamu, Gadis Kecil," suara Sukuna terdengar berat dan bergema penuh intimidasi, namun menyimpan nada kepemilikan yang dingin di dalamnya. "Namun ratapanmu tidak akan mengembalikan pria brengsek ini dari kematian."
Celia mempererat pelukannya pada jenazah Satoru, bersiap untuk kematian jika Sukuna memutuskan untuk menghabisinya saat itu juga. Namun, Sukuna justru berlutut di hadapannya, mencengkeram dagu Celia dengan jarinya yang tajam, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam empat matanya.
"Aku Memiliki tawaran yang menarik untukmu," bisik Sukuna dengan senyum licik yang merekah di wajahnya. "Saya dapat menghidupkan kembali Gojo Satoru. Utuh. Bernyawa. Persis seperti sebelum saya menebasnya."
Mata Celia melebar. Detak jantungnya seolah berhenti. "Apa...?"
"Adalah harga yang harus dibayar, tentu saja," Sukuna mengusap pipi Celia yang basah dengan ibu jarinya. "Syaratnya mudah. Jadilah milikku. Jadilah istri atau selir kecilku, pengantin Sang Raja Kutukan, yang patuh dan tunduk hanya kepadaku. Jika engkau menerimanya, kakak kamu akan bernapas kembali detik ini juga."