"Maaf.."
"Stop! Bisa ngga sih kamu stop bilang maaf?"
"Selalu saja kamu minta maaf semudah itu!"
Aku terdiam. Yang mereka ucapkan memang benar, dan aku tidak bisa menyanggah hal itu. Kata "maaf" reflek selalu terucap dari bibirku. Saat aku tanpa sengaja menyenggol mereka, saat mereka menegurku, saat ada barang yang jatuh di dekatku, saat mereka menyinggungku. Entah itu kesalahanku atau bukan, aku selalu mengucapkan kata maaf.
"Maafmu terdengar sangat murahan!"
Ya.. mungkin bagi orang lain memang seperti itu. Kata maaf selalu mudah terucap dari bibirku. Semua itu terjadi karena aku selalu menganggap hal-hal buruk yang terjadi disebabkan olehku. Itu juga bukan kemauanku. Aku juga tidak mau disalahkan atas hal-hal yang bukan karenaku. Tapi, sejak kapan pemikiran seperti itu tertanam di otakku?
"Pokoknya apapun itu salahnya Dey. Dey selalu salah di mataku."
Kalimat itu mungkin hanya sebuah candaan yang diucapkan oleh Zeela, salah satu orang yang kuanggap teman terdekatku. Tapi entah kenapa, tanpa kehendakku, kalimat itu tercetak tebal dalam otak ini. Jujur, aku juga tidak mau menganggap serius kalimat tersebut. Tapi entah kenapa sekuat apapun aku mencoba melupakannya, aku selalu gagal.