Matahari baru saja menyentuh punggung langit ketika Hermes terbangun.
Olympus masih setengah bermimpi. Pilar-pilar marmer berkilau pucat, burung-burung suci belum bernyanyi penuh, dan angin pagi menyusup lembut ke balkon tempat tinggalnya. Hermes berdiri di sana, tubuhnya tegap dan tinggi, dibalut himation biru yang jatuh santai di bahunya, warna yang mengingatkan pada langit sebelum siang benar-benar tiba.
Ia selalu bangun lebih awal. Dewa pesan tak pernah betah berlama-lama tidur, pikirannya terlalu cepat, kakinya terlalu rindu bergerak. Namun pagi ini, ada sesuatu yang membuatnya tinggal lebih lama di tempat itu. Bukan tugas. Bukan perintah Zeus.
Melainkan dia.
Langkah kaki kecil terdengar dari dalam ruangan.
Hermes menoleh, dan senyum itu muncul begitu saja, seperti refleks yang bahkan para dewa tak mampu kendalikan.
Athanasia.
Ia melangkah keluar dengan rambut merah muda yang sedikit kusut, helai-helainya masih setengah terikat, setengah liar, seolah mimpi belum sepenuhnya melepaskannya. Gaun tidurnya sederhana, bahannya tipis dan ringan, bergerak mengikuti langkahnya. Tubuhnya jauh lebih mungil dibanding Hermes, perbedaan tinggi mereka menciptakan pemandangan yang nyaris lucu.
Matanya berbinar begitu melihatnya.
“Selamat pagi,” ucapnya ceria, suaranya masih lembut oleh sisa kantuk.
Hermes tertawa pelan, suara rendah yang hangat. “Kau bangun lebih cepat dari biasanya.”
Athanasia mengangkat bahu, lalu tersenyum lebih lebar. “Aku bermimpi aneh. Kau berlari mengelilingi Olympus sambil membawa sekeranjang apel.”
“Ah,” Hermes menyeringai. “Mimpi yang sangat masuk akal.”
Ia melangkah mendekat. Satu langkah Hermes setara dua langkah Athanasia, namun ia memperlambat diri, seolah dunia memang seharusnya berjalan mengikuti ritmenya pagi itu.
Tanpa berkata apa-apa, Hermes mengangkat tangannya dan mengacak rambut Mitsuri dengan lembut, gerakan yang begitu bertentangan dengan reputasinya sebagai dewa tercepat. Sentuhannya ringan, hampir hati-hati.
“Kau tampak menggemaskan saat baru bangun,” katanya santai, tapi ada nada jujur yang tak disembunyikan.
Wajah Athanasiasia memerah. Ia tertawa kecil, lalu berjinjit sia-sia, seolah ingin membalas dengan mengacak rambut Hermes. Tangannya bahkan tak sampai.
“Hei, jangan perlakukan aku seperti anak kecil,” protesnya, meski senyumnya tak hilang.
Hermes hanya menunduk sedikit, cukup agar wajah mereka lebih dekat. “Aku tidak bisa menahannya.”
Ia menurunkan tangannya, lalu menautkan jari mereka. Ukuran tangan Hermes besar dan hangat, membungkus jemari Athanasiaasia dengan nyaman. Ada rasa aman di sana, sesuatu yang bahkan kecepatan tak bisa berikan.
Mereka berjalan ke balkon bersama. Matahari kini naik lebih tinggi, menyiram Olympus dengan emas lembut. Jauh di bawah, awan bergulung pelan seperti lautan yang tenang.
“Apa rencanamu hari ini?” tanya Mitsuri.
Hermes berpikir sejenak. Biasanya jawabannya penuh daftar: menyampaikan pesan, melintasi dunia manusia, kembali sebelum senja. Namun pagi ini terasa berbeda.
“Aku bebas sampai siang,” katanya akhirnya. “Aku berpikir untuk… tetap di sini.”
Athanasia menoleh cepat, matanya berbinar lebih terang dari cahaya pagi. “Benarkah?”
“Benar,” jawab Hermes. “Pagi ini terlalu indah untuk dilewatkan.”
Ia mengangkat tangan Athanasia, lalu mencium punggungnya dengan ringan. Bukan ciuman yang megah, bukan gestur dewa. Hanya sesuatu yang tulus, seperti pria yang sedang jatuh cinta.
Athanasia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya ke sisi tubuh Hermes. Ia pas di sana, seolah tempat itu memang diciptakan untuknya. Hermes merangkulnya, himation birunya sedikit bergeser, membungkus mereka berdua dari angin pagi.
“Kalau begitu,” kata Athanasia pelan, “mari kita sarapan bersama. Tanpa terburu-buru.”
Hermes tertawa kecil. “Aku dewa pesan,” katanya, “tapi untukmu… aku bisa berjalan pelan.”
Dan di pagi itu, ketika Olympus baru saja membuka mata, sang dewa tercepat di antara para dewa memilih untuk diam sejenak, menikmati matahari terbit bersama kekasihnya yang tersenyum, dengan rambut berantakan dan hati yang hangat.
Pagi berjalan lambat.Dan Hermes, untuk sekali ini, tak keberatan sama sekali. 💙