Satu Langkah Sebelum Pergi
Hujan turun tepat ketika mereka bertemu untuk terakhir kalinya.
Nara berdiri di bawah atap halte, memandangi jalan yang basah. Di sampingnya, Arka duduk diam sambil memainkan ujung tali tasnya.
Biasanya, mereka akan mengobrol tentang hal-hal kecil.
Tentang guru yang menyebalkan.
Tentang tugas yang belum selesai.
Tentang makanan favorit mereka.
Tapi sore itu, tidak ada satu pun yang keluar dari mulut mereka.
Karena keduanya tahu, setelah hari ini, semuanya akan berbeda.
"Aku jadi berangkat besok," kata Arka akhirnya.
Nara tersenyum kecil. "Aku tahu."
"Kamu nggak mau bilang apa-apa?"
Nara menoleh kepadanya.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.
Jangan pergi.
Aku bakal kangen.
Aku masih sayang sama kamu.
Tapi pada akhirnya, ia hanya berkata, "Semoga kamu bahagia di sana."
Arka terdiam.
Kemudian ia tertawa pelan, meski matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kamu selalu bilang begitu."
"Karena aku memang mau kamu bahagia."
"Walaupun bukan sama kamu?"
Pertanyaan itu membuat Nara kehilangan senyumnya.
Hujan terdengar semakin deras.
"Aku nggak tahu," jawab Nara lirih. "Tapi kalau memang suatu hari kamu menemukan seseorang yang bisa membuatmu lebih bahagia, aku nggak akan menghalanginya."
Arka menunduk.
"Kalau aku bilang aku nggak mau orang lain?"
Nara menggigit bibirnya.
"Jangan bikin aku susah."
"Aku serius."
"Aku juga."
Mereka saling menatap.
Untuk beberapa detik, dunia terasa berhenti.
Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada suara hujan. Tidak ada orang lain.
Hanya mereka.
Dua orang yang saling menyayangi, tetapi tidak bisa memilih untuk tetap bersama.
Bus yang ditunggu Arka akhirnya datang.
Ia berdiri dan mengangkat tasnya.
"Nara."
"Hm?"
"Kalau nanti kita ketemu lagi..."
Arka berhenti sejenak.
"Jangan pura-pura nggak kenal aku."
Nara tertawa kecil.
"Mana mungkin."
Arka mengulurkan tangannya.
Nara menggenggamnya.
Hangat.
Seperti semua hari yang pernah mereka lalui bersama.
"Terima kasih," kata Arka.
"Untuk apa?"
"Sudah pernah jadi rumah buat aku."
Air mata Nara akhirnya jatuh.
Ia segera menghapusnya agar Arka tidak melihat.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
Arka tersenyum.
Lalu ia berbalik dan menaiki bus.
Nara berdiri di tempatnya, melihat bus itu perlahan menjauh.
Ia tidak mengejar.
Tidak memanggil.
Tidak meminta Arka kembali.
Karena terkadang, mencintai seseorang bukan berarti harus mempertahankannya.
Terkadang, cinta adalah tentang merelakan seseorang pergi meskipun sebagian dari diri kita ingin ikut bersamanya.
Beberapa menit kemudian, hujan berhenti.
Nara melihat tangannya.
Masih terasa hangat.
Namun orang yang menggenggamnya sudah tidak ada.
Dan sejak hari itu, setiap kali hujan turun, Nara selalu kembali ke halte yang sama.
Bukan karena berharap Arka akan kembali.
Tapi karena di tempat itulah ia pernah memiliki seseorang yang membuatnya percaya bahwa perpisahan tidak selalu berarti berhenti mencintai.
Kadang, perpisahan hanya berarti:
"Aku tetap menyayangimu, tapi kali ini dari kejauhan."