Di rumah tua itu, dindingnya masih menyimpan bekas goresan tinggi badan—tanda pertumbuhan seorang anak bernama Arka, yang pulang ke rumah Tuhan saat berusia tujuh tahun karena sakit yang tak tertahankan. Sejak hari itu, senyum di wajah Ayah dan Ibu seakan ikut hilang. Ruang tidur Arka tidak pernah disentuh lagi; mainan mobil-mobilan, buku gambar, dan selimut kesayangannya tetap di tempatnya, seolah-olah pemiliknya baru saja keluar sebentar dan akan kembali.
Lima tahun berlalu. Setiap hari, Ibu selalu membawa segelas susu tambahan ke meja makan, berharap Arka tiba-tiba muncul memintanya. Ayah sering duduk sendirian di ayunan halaman, menatap langit dengan mata berkaca-kaca. Mereka tahu harus melangkah maju, tapi hati tak sanggup melepaskan.
Suatu sore, tetangga datang membawa kabar: di desa sebelah, lahir seorang bayi laki-laki yang memiliki tanda lahir persis seperti Arka—berbentuk seperti daun kecil di pergelangan tangan kiri. Cerita itu awalnya hanya dianggap angin lalu, sampai setahun kemudian, ketika mereka berkunjung ke sana.
Saat melihat bayi itu, hati Ayah dan Ibu berdebar kencang. Bayi itu menatap mereka lekat-lekat, lalu merentangkan tangan seolah mengenal mereka. Ketika Ibu menyentuh pergelangan tangannya, bayi itu tersenyum lebar dan berkata pelan, meski baru belajar bicara: "Ibu... Ayah..."
Orang tua kandungnya bercerita bahwa sejak bisa bicara, anak itu sering menyebut nama mereka, dan berkata: "Aku punya rumah lain, di sana ada pohon mangga yang aku tanam sendiri." Padahal di rumah ini tidak ada pohon mangga sama sekali—di rumah tua mereka, pohon mangga yang ditanam Arka masih tumbuh subur di halaman belakang.
Bertahun-tahun kemudian, bocah itu tumbuh menjadi anak yang ceria. Ia sering berkata: "Aku dulu pernah di sini, ingat tidak? Aku yang menanam pohon ini." Ia memiliki sifat yang sama dengan Arka: suka minum susu hangat tanpa gula, takut pada suara petir, dan selalu menaruh sepasang kaus kaki di bawah bantal.
Ayah dan Ibu akhirnya paham—kehilangan bukanlah akhir. Cinta seorang keluarga begitu kuat, sehingga jiwa yang pergi memilih kembali, merajut kembali ikatan yang sempat terputus.
Di sore yang cerah, saat mereka duduk bertiga di bawah pohon mangga yang berbuah lebat, anak itu bertanya: "Kalau nanti aku pergi lagi, apakah Ibu dan Ayah akan sedih?"
Ibu memeluknya erat. "Kami akan selalu menunggumu, dalam bentuk apa pun, di mana pun kamu berada. Karena keluarga itu bukan hanya tentang tubuh, tapi tentang hati yang saling mengenal."
Angin berhembus lembut, memetik daun mangga jatuh tepat di pergelangan tangan anak itu—di tempat tanda lahir berbentuk daun berada. Bunga yang pernah layu, kini mekar kembali, lebih indah dari sebelumnya.