Hujan turun deras, menabrak kaca jendela saat Laras mengunci pintu toko. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena dingin, tapi karena rasa sakit di kakinya yang selalu kambuh kalau cuaca berubah—rasa sakit yang harus ia telan sendirian, tanpa berani mengeluh pada siapa pun.
Tiga tahun lalu, kecelakaan itu merenggut kemampuannya berjalan. Dan tak lama kemudian, tunangannya pergi. Pesannya singkat dan menusuk: "Maaf, aku belum siap menjalani hidup bersama orang yang tak bisa berjalan seiring denganku."
Malam itu ia menangis sampai kering, lalu besok paginya ia bangkit, menatap cermin, dan berkata tegas: "Aku akan membuktikan, aku tetap bisa berjalan—dengan caraku sendiri."
Ia membuka toko buku ini dengan seluruh tabungannya. Belajar mengangkat kardus berat, merapikan rak setinggi dua meter, menghitung laba rugi sampai larut malam. Kalau ada hal yang sulit, ia tidak meminta bantuan duluan. Ia coba sendiri, berkali-kali, sampai berhasil. Kalau jatuh, ia diam saja, lalu bangkit kembali tanpa membiarkan siapa pun melihatnya terluka.
Suatu sore, saat hujan masih turun, seorang pria masuk. Langkahnya pelan, segan.
"Selamat sore... Boleh saya cari buku tentang bintang?"
Laras menoleh, menyeka sudut matanya dengan cepat, lalu tersenyum tenang. "Tentu. Di rak pojok kiri."
Pria itu bernama Dika. Ia datang lagi keesokan harinya, lalu hari berikutnya. Awalnya hanya bertanya soal buku, lama-lama mereka bercerita. Hingga suatu hari, tanpa sadar Laras bercerita dengan suara bergetar:
"Kadang... saat pulang, aku hanya ingin melepas kursi roda ini dan berlari. Sekali saja. Tapi aku tahu, itu mustahil. Lalu aku teringat janjiku sendiri. Aku tidak boleh menyerah, walau rasanya ingin sekali berteriak pada dunia."
Dika menatapnya lekat, suaranya lembut namun mantap.
"Kau tahu apa yang aku lihat? Bukan kursi roda ini. Aku melihat wanita yang pernah dihancurkan keadaan, lalu disakiti orang yang dicintainya—dan bukannya hancur lebur, kau malah membangun duniamu kembali dari puing-puingnya. Itu bukan sekadar kuat, Laras. Itu luar biasa."
Laras menunduk dalam, air mata jatuh membasahi pipi. Sudah lama tidak ada yang benar-benar melihatnya. Orang lain biasanya hanya kasihan. Tapi Dika... Dika mengaguminya.
"Aku tidak mau dikasihani," ucapnya parau.
"Dan aku tidak akan pernah mengasihanimu," jawab Dika sambil meraih tangannya dengan lembut. "Aku justru takut... takut aku tidak cukup baik untuk seseorang yang sekuat dirimu."
Bulan berlalu. Di hari ulang tahun tokonya, Dika datang membawa seikat bunga dan selembar peta bintang yang digambarnya sendiri.
"Aku tidak menjanjikan hidup yang mudah," kata Dika di hadapannya, jujur dan tulus. "Tapi aku berjanji: mulai sekarang, kalau kau lelah, aku akan ada di sini. Kalau kau menangis, aku tidak akan menyuruhmu berhenti—aku akan menemani sampai air matamu habis. Aku akan mendampingimu, bukan menuntunmu. Kau yang tetap memegang kendali, dan aku akan berjalan di sampingmu, di bawah langit yang sama."
Laras menangis sejadi-jadinya. Bukan lagi air mata kesedihan atau kesepian. Kali ini air mata lega. Akhirnya ada yang paham: kekuatannya bukan berarti ia tidak boleh lemah. Bahwa menjadi kuat, tidak berarti harus menanggung semuanya sendirian.
Malam itu mereka duduk berdampingan di teras, menatap bintang yang mulai muncul. Laras tersenyum, menggenggam tangan Dika erat. Ia tetap wanita yang tegar—tetapi kini, ia tidak lagi harus berjuang sendirian.