*Belenggu Cinta Judas*
Di kota ini, nama keluarga Adhitama itu sama dengan dua kata: dihormati dan ditakuti.
Ayah Judas Adhitama bukan pengusaha biasa. Dia raja di balik meja judi, pelabuhan, dan "bisnis" yang nggak pernah masuk koran.
Tapi Judas beda. 22 tahun, jas mahal, nilai kuliah bagus, dan senyum yang selalu sopan. Di depan umum dia anak emas. Di belakang, dia anak yang capek jadi topeng.
Satu-satunya warna di hidupnya namanya Rachel.
Rachel. 17 tahun. Seragam SMA putih abu-abu. Rambut dikepang. Ketawa yang bikin lorong sekolah jadi terang. Anak guru. Nggak tau dunia Judas.
Judas suka menyaksikan Rachel dari jauh ,Tawanya ,senyumnya bahkan saat Rachel diam .dia tidak pernah berhenti menatap dan menguntit gadis itu diam- diam dari jauh selama 8 bulan terakhir . Ngeselin? Iya. Tapi dia nggak pernah maksa.
Sampai hari hujan itu, dia memberanikan diri.
Di bawah pohon mangga belakang sekolah.
"Rachel," katanya, tangannya gemetar megang buku. "Aku suka sama kamu. Bukan karena apa-apa. Cuma... kamu bikin aku mau jadi orang baik."
Rachel menatap Judas intens . Matanya jernih.
"Maaf, Mas Judas," katanya pelan. "Aku nggak bisa."
Nggak ada alasan. Nggak ada "aku udah punya pacar". Cuma itu. Lalu dia pergi.
Judas pulang. Diam. Dia ngerti. Penolakan itu wajar. Sakit, tapi wajar.
Besoknya wajar itu hancur.
Di kantin, di meja paling pojok, Rachel duduk. Di sebelahnya Sergio.
Sergio. Sahabat karib Judas sejak TK. Anak yang dia ajarin berenang, dia belain pas berantem, dia kasih mobil pertama.
Dan mereka berpegangan tangan.
Sergio ketawa. Nyuapin Rachel es krim. "Iya sayang, nanti aku jemput ya."
Dunia Judas berhenti 5 detik.
Harga dirinya bukan jatuh. Diinjak.
Malam itu dia di ruang kerja ayahnya. Asap cerutu. Gelas wiski.
"Ayah," kata Judas pelan. "Kalau ada orang nginjak nama kita, apa yang kita lakuin?"
Ayahnya senyum. "Kita bikin dia ingat, Nak. Bahwa nama Adhitama nggak bisa disentuh."
Judas mengangguk. Di kepalanya bukan wajah ayahnya. Tapi wajah Rachel yang bilang "maaf" dan wajah Sergio yang tertawa.
Dia berbisik ke dirinya sendiri: _"Kalian akan bayar."_
---
3 tahun kemudian.
Judas sekarang yang megang separuh bisnis keluarga. Dingin. Efisien. Ditakuti.
Rachel udah kuliah. Putus sama Sergio setahun lalu. Katanya Sergio ketahuan selingkuh.
Sergio sekarang kerja di perusahaan ayahnya Judas. Posisinya paling bawah.
Dan Judas... belum pernah lupa.
Suatu malam gala dinner. Rachel datang sebagai panitia kampus. Gaun sederhana, tapi dia tetap paling bersinar.
Judas menghampiri. Jas hitam. Senyum yang dulu nggak pernah dia kasih ke Rachel.
"Rachel. Cantik," katanya.
Rachel kaget. "Mas Judas?"
"Lama nggak ketemu." Judas sodorin segelas anggur. "Boleh ngobrol sebentar? Soal masa lalu."
Di balkon, angin dingin.
"Aku masih ingat hari itu," kata Judas. Suaranya datar. "Kamu nolak aku. Terus besoknya sama Sergio."
Rachel menunduk. "Aku minta maaf kalau itu nyakitin Mas. Waktu itu aku bingung..."
Judas memotong. "Nggak usah minta maaf." Dia mendekat selangkah. "Aku cuma mau kamu tau. Sejak hari itu, aku berjanji. Aku akan bikin kamu ngerasain apa yang aku rasain."
Rachel mengerut. "Maksud Mas?"
Judas senyum. Senyum yang nggak sampai ke mata.
"Aku nggak akan nyakitin kamu, Rachel. Aku akan mencintai kamu. Dengan cara yang bikin kamu nggak bisa lepas. Sampai kamu sendiri yang minta pergi... dan aku yang bilang tidak."
Itu bukan pernyataan cinta. Itu vonis.
Belenggu sudah dipasang. Bukan di tangan. Tapi di hati.
Rachel nggak tau harus lari kemana. Karena orang yang dia tolak dulu... sekarang adalah orang yang paling berkuasa di kota ini. Dan dia baru sadar, penolakan 3 tahun lalu telah menciptakan monster yang mencintainya.
Dan monster itu nggak akan melepas.
********.
Mau lanjut gak ?
Tolong like ,komen