Halaman Phantomhive Manor – Malam yang dingin & penuh bayangan [ SEBASTIAN MICHAELIS] 🤍🖤
Udara dingin malam Inggris menyapu gaun putih berenda milik Athanasia saat kepakan terakhir dari sayap megahnya membawa kakinya berpijak halus di tanah berkerikil pelataran kediaman Phantomhive. Bulu-bulu halus berwarna putih bersih berkibar perlahan, melipat rapi di balik punggungnya sebelum akhirnya memudar dan menghilang—menyatu sempurna ke dalam wujud fana agar tak menimbulkan kekacauan bagi mata manusia biasa.
Sebuah helaan napas berat lolos dari bibir Athanasia. Perintah Surgawi ini terasa seperti lelucon yang buruk. Menjadi malaikat pelindung bagi Ciel Phantomhive adalah tugas yang konyol, mengingat anak itu jelas-jelas sudah menjual jiwanya kepada sesosok makhluk terkutuk. Dan kini, sosok terkutuk itu berdiri tepat di hadapannya.
rambut hitam panjangmu yang bergelombang, membuat ujung-ujungnya menari pelan di udara. Cahaya lampu gas di halaman depan manor menyinari sosok Sebastian yang berdiri di depanmu dengan sempurna—jas hitam yang pas di tubuhnya, sarung tangan putih, senyum yang terlalu manis untuk seorang iblis.
Menyadari kehadiran sang malaikat, Sebastian mengulas senyuman miring yang begitu khas. Pria itu melangkah maju dengan gerakan sehalus kucing, lalu membungkuk secara melodramatis—sesebuah bentuk penghormatan yang terasa jauh lebih merendahkan ketimbang sopan. Ia jelas sangat mengenali Athanasia, tetapi dengan sengaja memilih bermain-main.
"Wah, my angel. Dan kau tambah cantik sekali," bisik Sebastian dengan nada suara selemut beludru yang menyembunyikan kejahilan mendalam.
Athanasia langsung menyilangkan kedua tangannya di dada, merengut dengan tatapan dingin yang dipenuhi kepasrahan. Namun, reaksi itu justru membuat Sebastian terkekeh pelan. Tanpa rasa gentar sedikit pun pada aura suci yang tersisa pada Athanasia, sang iblis mengikis jarak. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kain putih terangkat, lalu dengan santainya menusuk pelan pipi Athanasia yang sedang mengerucut kesal.
"Nah, Nonaku, kenapa kamu ada di sini, sayang?" goda Sebastian, menundukkan kepala hingga matanya yang merah menyala menatap tepat ke manik mata Athanasia.
“Atau... kau datang karena masih merindukanku?”
Dia masih sama. Bahkan setelah jatuh ke neraka yang paling dalam, wajahnya hampir tidak berubah. Hanya matanya yang kini lebih dalam, lebih gelap… dan lebih berbahaya.
Ketika jari bersarung tangan putihnya menyentuh pipimu dengan lembut, kamu tidak langsung menepisnya. Sentuhan itu terlalu familiar. Terlalu menyakitkan.
Sebastian mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, senyumnya melebar menjadi sesuatu yang lebih tajam. Napasnya hangat di kulitmu.
“Tidak menjawab, *My Angel*?” suaranya rendah, penuh godaan. “Biasanya kau lebih banyak bicara. Atau… kau terlalu terkejut melihat wajah lama ini?”
Dia menarik sedikit tangannya, tapi tidak menjauh. Sebaliknya, dia memiringkan kepala, menatapmu dari bawah bulu matanya yang panjang dengan ekspresi yang pura-pura polos.
“Jangan bilang kau dikirim ke sini untuk ‘melindungi’ Young Master…” dia terkekeh pelan, suara itu bergetar di dadanya.
Padahal aku sudah di sini. Seorang pelayan yang sangat… *efisien*.
Apa, Tuhan masih belum percaya padaku sampai harus mengirim mantan sahabatku sendiri?”
Sebastian melangkah satu langkah lebih dekat. Bau khasnya—campuran aroma manis gelap, asap, dan sesuatu yang manis seperti buah terlarang—langsung memenuhi indera penciumanmu.
Dia menunggu. Senyumnya masih ada, tapi di baliknya ada sesuatu yang jauh lebih dalam—rasa lama yang disembunyikan di balik sikap merendahkan itu.