Aluna tidak pernah percaya bahwa cinta bisa datang tanpa aba-aba.
Baginya, jatuh cinta selalu membutuhkan proses: kenalan, pendekatan, saling memahami, lalu baru memutuskan apakah perasaan itu layak diperjuangkan.
Apalagi Aluna, perempuan Gemini kelahiran Juni yang katanya susah ditebak. Hari ini bisa cerewet setengah mati, besok bisa tiba-tiba menghilang karena sedang sibuk dengan dunianya sendiri.
Sampai suatu hari, sebuah chat sederhana mengubah semuanya.
“Hai.”
Cuma satu kata.
Tapi dari satu kata itu, percakapan mereka berkembang menjadi panjang.
Namanya Kevin, laki-laki Pisces kelahiran Februari. Awalnya Aluna menganggap Kevin cuma teman ngobrol biasa. Tidak ada yang istimewa.
Mereka chat hampir setiap hari.
Dari hal penting...
“Udah makan?”
Sampai hal yang sama sekali tidak penting.
“Kalau kamu jadi kucing, mau tinggal di rumah siapa?”
Aluna tertawa.
“Pertanyaanmu aneh.”
Kevin membalas cepat.
“Aku kan Pisces. Memang harus sedikit tidak normal.”
Sejak saat itu, mereka semakin sering berbicara.
Pagi-pagi ada ucapan selamat pagi.
Siang ada pertanyaan sudah makan atau belum.
Malam berubah menjadi obrolan panjang yang seharusnya cuma lima menit, tetapi tiba-tiba sudah dua jam.
Mereka bahkan mulai hafal kebiasaan masing-masing.
Kevin tahu Aluna kalau sedang bad mood akan lebih banyak menggunakan tanda titik daripada emoji.
Aluna tahu Kevin kalau sedang cemburu akan menjawab singkat.
“Oh.”
Cuma satu kata.
Tapi Aluna sudah tahu artinya.
Kevin sedang ngambek.
“Kevin, kamu cemburu?” tanya Aluna suatu malam.
“Enggak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Terus kenapa jawabnya cuma ‘oh’?”
“Lagi hemat huruf.”
Aluna tertawa sampai hampir menjatuhkan HP.
Hari-hari berlalu begitu saja.
Tidak ada momen resmi.
Tidak ada Kevin yang datang membawa bunga sambil berkata,
“Maukah kamu menjadi pacarku?”
Tidak ada Aluna yang menjawab dengan kalimat dramatis.
Semuanya mengalir.
Terlalu mengalir sampai mereka sendiri tidak sadar kapan hubungan itu berubah.
Awalnya hanya saling menyapa.
Lalu saling menunggu.
Kemudian saling mencari.
Sampai akhirnya...
Saling membutuhkan.
Suatu malam Aluna sedang tidak muncul di chat seperti biasanya.
Kevin mengirim pesan.
“Kamu ke mana?”
Tidak dibalas.
Lima belas menit kemudian.
“Lagi sibuk?”
Tidak dibalas juga.
Setengah jam kemudian.
“Aku kangen.”
Aluna yang baru melihat pesan itu langsung tersenyum.
“Baru juga beberapa jam nggak chat.”.
Kevin membalas:
“Makanya. Beberapa jam aja rasanya lama.”
Aluna terdiam.
Entah sejak kapan kalimat sederhana dari Kevin bisa membuat jantungnya berdebar.
Ia mulai menyadari sesuatu.
Ternyata Kevin bukan lagi sekadar teman chat.
Kevin sudah menjadi orang pertama yang ingin ia cari ketika bangun tidur.
Orang yang ingin ia ceritakan ketika ada sesuatu yang menyenangkan.
Orang yang ia cari ketika sedang sedih.
Dan orang yang membuat hari biasa terasa lebih menyenangkan.
Suatu malam, Kevin tiba-tiba bertanya.
“Luna...”
“Hmm?”
“Kita sebenarnya ini apa?”
Aluna menatap layar lama.
Pertanyaan itu sederhana, tapi membuatnya berpikir.
Mereka sudah saling perhatian.
Saling cemburu.
Saling rindu.
Saling mencari.
Bahkan kalau salah satu tidak muncul sehari saja, yang lain sudah seperti kehilangan sinyal kehidupan.
Aluna akhirnya menjawab:
“Aku juga nggak tahu.”
Kevin tertawa.
“Berarti kita sama-sama nggak tahu?”
“Kayaknya.”
Beberapa detik kemudian Kevin mengetik lagi.
“Tapi aku suka kamu.”
Aluna tersenyum.
“Aku juga.”
Kevin:
“Berarti pacaran?”
Aluna:
“Lah, dari kapan?”
Kevin:
“Nggak tahu.”
Aluna tertawa.
“Kita jadian tanpa tahu tanggal jadian.”
Kevin membalas:
“Yang penting sekarang kamu pacarku.”
Aluna menggeleng sambil tersenyum.
Begitulah mereka.
Tidak tahu kapan mulai jatuh cinta.
Tidak tahu kapan hubungan itu berubah menjadi hubungan kekasih.
Tidak tahu siapa yang lebih dulu jatuh.
Tahu-tahu...
Mereka sudah menjadi pasangan yang sama-sama bucin.
Aluna yang biasanya tidak suka terlalu diperhatikan, sekarang malah mencari perhatian Kevin.
Kevin yang katanya santai, sekarang bisa panik kalau chat Aluna cuma dibaca.
Mereka bisa bertengkar karena hal kecil.
Lima menit kemudian sudah saling mencari.
“Masih marah?”
“Masih.”
“Mau aku bujuk?”
“Mau.”
“Caranya?”
“Terserah. Kamu kan pacarku.”
Dan Kevin selalu kalah.
Karena ternyata cinta memang tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang cinta datang diam-diam lewat sebuah chat sederhana.
“Hai.”
Lalu perlahan menjadi:
“Udah makan?”
Berubah menjadi:
“Aku kangen.”
Kemudian menjadi:
“Jangan tidur dulu, temenin aku.”
Sampai akhirnya tanpa mereka sadari...
Dua orang asing berubah menjadi dua orang yang saling menunggu setiap hari.
Aluna, si Gemini Juni yang katanya sulit ditebak.
Kevin, si Pisces Februari yang katanya terlalu perasa.
Dua karakter yang mungkin terlihat berbeda.
Tapi entah bagaimana, mereka menemukan satu hal yang sama:
Mereka sama-sama nyaman ketika bersama.
Dan mungkin itulah cinta.
Bukan tentang siapa yang lebih dulu jatuh.
Bukan tentang kapan tepatnya mereka jadian.
Tetapi tentang suatu hari mereka tersadar...
“Kok tiba-tiba kita sudah sejauh ini, ya?”
Dan mereka hanya bisa tertawa.
Karena cinta mereka memang tidak pernah direncanakan.
Ia datang tiba-tiba.
Mengalir begitu saja.
Dan tahu-tahu...
Aluna dan Kevin sudah menjadi dua manusia paling bucin yang tidak bisa sehari saja tanpa saling mencari. ❤️
Selesai