SURAT YANG TAK PERNAH TERKIRIM
Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang membuat orang-orang berlari mencari tempat berteduh, melainkan hujan tipis yang jatuh perlahan, seolah langit sedang menangis tanpa ingin diketahui siapa pun.
Di sebuah kamar kecil dengan jendela menghadap halaman belakang, seorang perempuan duduk sendirian.
Namanya Nara.
Usianya dua puluh lima tahun.
Di hadapannya terdapat sebuah kotak kayu tua yang warnanya sudah mulai pudar. Kotak itu tidak besar, tetapi Nara menyimpannya seperti menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada emas.
Tangannya gemetar ketika membuka tutup kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto lama.
Foto seorang laki-laki.
Senyumnya masih sama.
Senyum yang dahulu membuat Nara merasa bahwa dunia tidak seburuk yang ia pikirkan.
Nara mengambil foto paling atas.
Di foto itu, seorang pemuda berdiri di bawah pohon mangga sambil tersenyum ke arah kamera.
Namanya Arga.
Laki-laki yang pernah berjanji akan kembali.
Laki-laki yang telah Nara tunggu selama tujuh tahun.
Tujuh tahun.
Angka yang terdengar singkat ketika diucapkan, tetapi terasa sangat panjang bagi seseorang yang hidup dalam penantian.
Nara mengusap permukaan foto itu.
"Kenapa kamu belum pulang?"
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia tersenyum getir.
Pertanyaan itu sebenarnya sudah terlalu sering ia ucapkan.
Tidak pernah ada jawaban.
Arga pergi ketika mereka berusia delapan belas tahun.
Hari itu, Arga hanya mengatakan satu kalimat.
"Tunggu aku. Aku pasti kembali."
Nara mempercayainya.
Sampai hari ini.
Namun malam itu, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.
Ponselnya berdering.
Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Nara membuka pesan tersebut.
Hanya ada satu kalimat.
"Kalau kamu masih menunggu Arga, jangan datang ke rumah sakit."
Nara terdiam.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia membaca pesan itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Siapa yang mengirimnya?
Dan yang paling membuatnya takut...
Bagaimana orang itu tahu bahwa selama tujuh tahun Nara masih menunggu Arga?
BAB 1 — TUJUH TAHUN YANG PANJANG
Tujuh tahun sebelumnya.
"Nara!"
Suara itu terdengar dari halaman.
Nara yang sedang menyapu teras langsung menghentikan gerakannya.
Ia mengenali suara tersebut.
Arga.
Laki-laki yang selalu datang tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucapkan salam, dan tanpa pernah merasa bersalah ketika membuat Nara kesal.
Nara berjalan ke pagar.
Benar saja.
Arga berdiri di sana dengan rambut berantakan dan kaus hitam yang terlihat sedikit basah.
"Kamu kenapa?" tanya Nara.
Arga tersenyum.
"Capek."
"Terus kenapa ke sini?"
"Karena kalau capek, aku ke sini."
Nara menggeleng.
"Kamu nggak punya rumah?"
"Punya."
"Lalu?"
"Rumahku nggak punya kamu."
Nara langsung diam.
Wajahnya memerah.
"Jangan ngomong aneh-aneh."
Arga tertawa.
"Kenapa? Kamu malu?"
"Nggak."
"Bohong."
"Aku masuk."
Nara berbalik.
Namun baru dua langkah, Arga sudah memanggilnya.
"Nara."
"Apa?"
"Besok aku pergi."
Langkah Nara berhenti.
Seketika suasana berubah.
"Pergi ke mana?"
Arga tidak langsung menjawab.
Ia menatap langit yang mulai berubah warna.
"Aku dapat beasiswa."
Nara menatapnya.
"Ke mana?"
"Jakarta."
Nara terdiam.
"Berapa lama?"
"Belum tahu."
"Terus kamu mau tinggal di sana?"
"Iya."
Nara menundukkan kepala.
Ia berusaha menyembunyikan sesuatu.
Kesedihan.
Mungkin juga ketakutan.
Karena sejak kecil, Arga adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sampingnya.
Mereka tumbuh bersama.
Sekolah bersama.
Bertengkar hampir setiap hari.
Bahkan ketika Nara menangis karena dimarahi ibunya, Arga adalah orang pertama yang datang membawa es krim.
Dan sekarang...
Arga akan pergi.
"Selamat," ucap Nara akhirnya.
Hanya itu.
Arga terlihat kecewa.
"Kamu cuma bilang selamat?"
"Mau bilang apa?"
"Entahlah."
Nara memaksakan senyum.
"Kamu harus pergi. Itu kesempatan bagus."
Arga mendekat.
"Nara."
"Hm?"
"Kalau aku pergi..."
Ia berhenti.
"Apa?"
"Kalau aku pergi, kamu bakal nunggu aku?"
Nara tertawa kecil.
"Memangnya kamu mau pergi berapa lama?"
"Entahlah."
"Kalau begitu aku nggak bisa janji."
Arga menghela napas.
Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah gelang sederhana.
Tidak mahal.
Hanya gelang tali hitam dengan sebuah liontin kecil berbentuk bintang.
Arga menyerahkannya kepada Nara.
"Ini buat kamu."
Nara menerimanya.
"Kenapa?"
"Supaya kamu ingat aku."
"Aku nggak akan lupa."
Arga tersenyum.
"Kalau begitu tunggu aku."
Nara menatap matanya.
"Berapa lama?"
"Selama apa pun."
"Kalau kamu berubah?"
"Aku nggak akan berubah."
"Kalau kamu menemukan orang lain?"
Arga diam sebentar.
Kemudian ia tersenyum.
"Nggak akan."
Nara menggenggam gelang itu erat.
"Janji?"
"Janji."
Mereka tidak tahu bahwa janji sederhana tersebut akan menjadi sesuatu yang menghantui hidup mereka selama bertahun-tahun.