Salsa menemukan sebuah tiket kereta tua di dalam buku bekas yang dibelinya dari pasar.
Tanggalnya sudah dua puluh tahun lalu.
Tujuannya adalah sebuah kota yang belum pernah ia kunjungi.
Di belakang tiket terdapat tulisan tangan:
“Suatu hari nanti kita pergi bersama.”
Tidak ada nama.
Salsa penasaran.
Ia kembali ke pasar dan bertanya kepada penjual buku.
“Bapak tahu pemilik buku ini?”
Penjual itu berpikir sejenak.
“Dulu ada seorang lelaki yang sering membeli buku di sini. Namanya Darto.”
“Sekarang di mana?”
“Sudah lama tidak datang.”
Salsa kemudian mencari informasi tentang nama tersebut.
Ia menemukan sebuah toko kecil di pinggir kota.
Pemiliknya ternyata lelaki tua yang sama.
Salsa menunjukkan tiket itu.
Darto langsung terdiam.
“Dari mana kamu mendapatkannya?”
“Dari buku yang saya beli.”
Darto duduk.
“Tiket itu milik istri saya.”
Ia bercerita bahwa mereka berencana pergi bersama setelah ulang tahun pernikahan.
Namun sehari sebelum keberangkatan, istrinya jatuh sakit.
Perjalanan dibatalkan.
Beberapa bulan kemudian, istrinya meninggal.
Darto tidak pernah menggunakan tiket tersebut.
“Kenapa disimpan selama dua puluh tahun?” tanya Salsa.
“Karena saya takut kalau membuangnya, berarti saya juga membuang kenangan tentang dia.”
Salsa memandang lelaki itu.
“Kalau begitu, mungkin tiket ini bukan untuk dibuang.”
“Lalu untuk apa?”
“Untuk digunakan.”
Darto tertawa kecil.
“Sendirian?”
“Kenapa tidak?”
Beberapa minggu kemudian, Salsa membantu Darto membeli tiket baru menuju kota yang dulu ingin dikunjungi bersama istrinya.
Mereka berangkat pada pagi yang cerah.
Darto membawa tiket lama di dalam dompet.
Ketika kereta bergerak, ia memandang keluar jendela.
“Aneh,” katanya.
“Apa?”
“Saya pikir selama ini saya takut pergi karena tidak ada dia.”
Ia tersenyum.
“Ternyata saya hanya takut mengucapkan selamat tinggal.”
Sesampainya di kota tujuan, Darto membawa tiket lama itu ke sebuah taman.
Ia meletakkannya di bawah pohon.
Bukan untuk melupakan istrinya.
Melainkan untuk melepaskan rasa bersalah karena terus hidup.
Salsa berdiri di sampingnya.
Darto menarik napas panjang.
“Sekarang saya bisa pulang.”
“Ke rumah?”
Darto mengangguk.
“Ke rumah. Bukan ke masa lalu.”
Sejak hari itu, tiket lama tersebut tidak pernah ditemukan lagi.
Namun perjalanan yang selama dua puluh tahun tertunda akhirnya selesai.
Bukan karena seseorang kembali.
Melainkan karena seseorang akhirnya berani melanjutkan hidup.