Lentera di Ujung Hutan
Setiap senja, ketika kabut mulai turun dari bukit, Nara menyalakan sebuah lentera tua di jendela rumahnya. Cahaya kecil itu menjadi satu-satunya tanda kehidupan di tepi Hutan Arunika, tempat pepohonan tumbuh begitu rapat hingga siang pun tampak seperti sore.
Nara tinggal bersama neneknya, Mirah, seorang perawat bunga dan penjaga cerita-cerita lama. Sejak kecil, Nara mendengar pesan yang sama: jangan pernah masuk ke hutan setelah matahari tenggelam.
“Bukan karena hutan itu jahat,” kata Nenek Mirah setiap kali Nara bertanya. “Hutan hanya mengingat semua yang pernah hilang di dalamnya.”
Nara tidak sepenuhnya mengerti. Namun ia tahu satu hal: ayahnya pernah masuk ke Arunika tujuh tahun lalu dan tidak pernah kembali.
Pada suatu malam, angin bertiup dari arah hutan. Api lentera di jendela tiba-tiba membesar, lalu berubah menjadi biru. Dari balik pepohonan terdengar bunyi lonceng kecil—tiga kali, berhenti, lalu tiga kali lagi.
Nenek Mirah berdiri dengan wajah pucat. “Itu panggilan dari Menara Embun.”
“Menara apa?”
“Tempat para penunggu hutan menyimpan cahaya bagi orang-orang yang tersesat.” Nenek Mirah menggenggam tangan Nara. “Dulu ayahmu pergi ke sana untuk mencari Api Fajar. Tanpa api itu, sungai-sungai di lembah akan mengering sebelum musim hujan datang.”
“Kalau begitu, kenapa Nenek tidak pernah menceritakannya?”
“Karena aku takut kehilanganmu juga.”
Di luar, cahaya biru lentera melayang meninggalkan jendela. Ia bergerak menuju hutan, seperti kunang-kunang yang tahu jalan. Nara menatap neneknya, lalu mengambil mantel dan lentera itu.
“Aku akan kembali,” katanya.
Nenek Mirah mengikatkan selendang merah di leher Nara. “Jangan berjalan melawan hutan. Dengarkan ia.”
Begitu melewati batas pepohonan, Nara mendengar Arunika bernapas. Ranting-ranting berbisik, akar-akar bergeser pelan, dan bunga-bunga malam membuka kelopak mengikuti langkahnya. Lentera biru melayang di depan, menerangi jalan yang hanya muncul sesaat sebelum menghilang di belakangnya.
Di tengah perjalanan, Nara tiba di jembatan akar. Di bawahnya mengalir sungai hitam tanpa pantulan. Seekor rusa putih berdiri di sisi lain, mengenakan kalung lonceng perak.
“Untuk menyeberang,” ujar rusa itu, “kau harus memberikan sesuatu yang kau bawa.”
Nara meraba sakunya. Ia memiliki roti, korek api, dan sebuah kancing kayu milik ayahnya—satu-satunya benda yang tersisa dari lelaki itu.
Ia menaruh kancing tersebut di atas akar.
Rusa menundukkan kepala. Jembatan tumbuh melebar, dan kancing itu berubah menjadi bunga kecil berwarna keemasan.
“Kenangan tidak hilang ketika dibagikan,” kata rusa itu.
Di ujung jembatan, Nara menemukan Menara Embun. Bangunan itu menjulang dari batu bening, tetapi bagian puncaknya gelap. Di pintunya duduk seorang lelaki tua berjubah hijau. Rambutnya putih, dan di tangannya tergantung lonceng yang sama dengan suara dari rumah.
“Aku sudah menunggumu,” katanya.
“Apakah kau tahu ayahku?”
Lelaki itu mengangguk. “Ia mencapai menara, tetapi Api Fajar sedang padam. Untuk menyalakannya, seseorang harus menyerahkan kenangan paling berharga.”
“Dan ayahku memberikannya?”
“Ya. Ia memberikan kenangan tentang rumahnya, agar cahaya kembali menyinari lembah. Setelah itu, ia tidak dapat menemukan jalan pulang.”
Dada Nara terasa sesak. Selama bertahun-tahun, ia mengira ayahnya memilih meninggalkan mereka. Kini ia tahu, ayahnya mungkin bahkan tidak mengingat wajah mereka.
“Bawa aku kepadanya,” pinta Nara.
Lelaki tua itu menunjuk puncak menara. “Api Fajar belum padam sepenuhnya. Ia hanya menunggu kenangan baru. Namun jika kau menggunakannya, kau juga akan kehilangan sesuatu.”
Nara memandang lentera biru di tangannya. Ia teringat tangan ayahnya yang dulu menggenggam tangannya saat belajar berjalan, suara tawanya ketika hujan pertama turun, dan lagu yang selalu ia nyanyikan sebelum tidur.
Ia tidak ingin melupakan semua itu.
Lalu ia teringat neneknya, yang menyalakan lentera setiap malam bukan untuk memanggil ayahnya, melainkan untuk menunjukkan bahwa rumah mereka masih menunggu.
Nara mengangkat lentera. “Aku tidak akan menyerahkan kenangan. Aku akan membagikannya.”
Ia membuka penutup lentera dan mulai bercerita. Ia menceritakan rumah kecil di tepi hutan, kebun bunga neneknya, suara ayahnya, dan semua malam ketika sebuah cahaya menuntun mereka untuk tetap berharap.
Setiap kata berubah menjadi percikan emas. Percikan itu naik menuju puncak menara. Api Fajar menyala, bukan dengan satu kenangan, melainkan dengan banyak hati yang saling mengingat.
Cahaya keemasan mengalir melalui akar-akar pohon, turun ke sungai, lalu memenuhi lembah. Dari kejauhan terdengar suara air yang kembali mengalir.
Di dekat pintu menara, seorang lelaki berdiri dalam cahaya. Wajahnya lebih tua daripada yang Nara ingat, tetapi matanya sama.
“Ayah?”
Lelaki itu menatapnya lama. Ia tidak langsung mengenali Nara. Namun ketika Nara menyanyikan lagu sebelum tidur, air mata mengalir di wajahnya.
“Aku pernah menyimpan lagu itu,” bisiknya. “Di suatu tempat yang tidak bisa kuingat.”
Nara memeluknya. Ingatan tidak kembali sekaligus, tetapi itu tidak penting. Mereka dapat membangun kenangan baru mulai malam itu.
Ketika Nara dan ayahnya pulang, Nenek Mirah menunggu di depan rumah. Lentera di jendela telah berubah menjadi emas hangat. Tiga orang berdiri di bawah cahayanya, saling menggenggam tangan.
Sejak saat itu, lentera tersebut tetap menyala di ujung hutan. Bukan sebagai tanda bagi mereka yang tersesat, melainkan sebagai pengingat bahwa cahaya paling kuat bukanlah cahaya yang disimpan seorang diri, tetapi cahaya yang dibagikan kepada orang lain.