Konon, setiap nama membawa doa.
Nalendra Renjana Kinanti Moniaga
seorang pemimpin, pemilik hasrat, seseorang yang kebesarannya dinantikan.
Dan Gantari Wening Parhara
cahaya matahari yang jernih; tenang, damai, dan menjadi penunjuk arah.
Dua nama yang seharusnya terdengar seperti dua dunia yang berbeda.
Nalendra adalah api.
Gantari adalah cahaya.
Dan entah bagaimana, keduanya bertemu.
Nalendra adalah seseorang yang perasaannya mudah meluap. Ia bisa begitu hangat ketika bercerita, begitu bersemangat ketika membicarakan sesuatu, tetapi juga bisa begitu tajam ketika emosinya sedang berada di puncak. Sarkasme menjadi salah satu caranya berbicara. Nada suaranya terkadang meninggi. Bahkan huruf-huruf kapital pernah memenuhi percakapan mereka ketika Nalendra sedang marah.
Sedangkan Gantari adalah kebalikannya.
Ia lebih banyak diam.
Lebih suka menenangkan daripada membalas.
Jika Nalendra adalah api yang sesekali berkobar, Gantari selalu berusaha menjadi air.
Ketika Nalendra marah, Gantari menenangkan.
Ketika Nalendra bingung, Gantari membantu.
Ketika Nalendra ingin bercerita, Gantari mendengarkan.
Bahkan ketika Gantari sendiri sedang menangis, ia masih bisa membuka percakapan dan bertanya,
“Cerita aja. Aku dengerin.”
Tidak ada yang tahu berapa kali kalimat itu ia ucapkan ketika sebenarnya dirinya sendiri sedang membutuhkan seseorang untuk mengatakan hal yang sama.
Tidak ada yang tahu berapa banyak malam ketika Gantari sedang sakit, sedang dimarahi orang tuanya, atau sedang berusaha menahan tangis, tetapi tetap memprioritaskan Nalendra.
Karena bagi Gantari, Nalendra penting.
Sangat penting.
Mungkin terlalu penting.
Sampai Gantari lupa bahwa dirinya juga penting.
Sore itu, percakapan mereka kembali dipenuhi protes.
“Siapa ya yang malam tiba-tiba ilang padahal lagi butuh banget?”
Gantari membaca pesan itu.
Lalu pesan berikutnya.
“Siapa ya yang selalu ditinggalkan padahal mau bahas sesuatu?”
“Siapa ya, siapa?”
Gantari hanya menghela napas.
Ia tahu Nalendra tidak sepenuhnya salah.
Gantari memang sering menghilang.
Kadang ia lupa memberi kabar. Kadang ia terlalu tenggelam dalam masalahnya sendiri. Kadang ia hanya tidak punya tenaga untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Dan ia tahu, menghilang tanpa kabar bisa membuat orang yang menunggu merasa ditinggalkan.
Maka Gantari tidak membela diri.
“Eumm.”
Lalu setelah beberapa menit, ia mengetik:
“Udaa marahnya, udaa protesnya?”
Namun setelah pesan itu terkirim, Gantari menatap layar ponselnya cukup lama.
Ada sesuatu yang ingin ia katakan.
Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia katakan.
Karena ternyata, Gantari juga punya protes.
Hanya saja ia tidak tahu harus memulainya dari mana.
Terlalu banyak.
Saking banyaknya, sampai ia sendiri sudah lupa bagaimana rasanya kecewa.
Ia pernah sakit hati karena perkataan Nalendra.
Beberapa kalimat masih tersimpan jauh di dalam ingatannya. Kalimat-kalimat yang terdengar sederhana bagi orang lain, tetapi entah mengapa meninggalkan luka kecil di dalam dirinya.
Namun setiap kali itu terjadi, Gantari tidak pernah membalas.
Ia mengganti topik.
Membicarakan sesuatu yang lain.
Tertawa seolah tidak terjadi apa-apa.
Nalendra tidak pernah tahu.
Dan Gantari tidak pernah berniat membuatnya tahu.
Sampai akhirnya ia sadar
selama ini ia terlalu pandai menyembunyikan luka.
Ada satu hal lagi yang sebenarnya paling Gantari takuti.
Bentakan.
Nalendra pernah tahu tentang itu.
Gantari pernah mengatakannya.
Tetapi mungkin waktu membuat Nalendra lupa.
Setiap kali seseorang membentaknya, tubuh Gantari bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.
Tangannya gemetar.
Dadanya terasa sesak.
Dan air matanya sering jatuh begitu saja.
Bukan karena ia ingin terlihat lemah.
Bukan pula karena ia tidak bisa menerima kemarahan.
Ia hanya takut.
Dan ketika Nalendra sedang emosi, ketika CAPSLOCK memenuhi layar, Gantari sering kali hanya diam di balik layar.
Ia membaca.
Menarik napas.
Mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Sambil mengingatkan dirinya:
Dia cuma sedang marah.
Dia nggak bermaksud menyakitiku.
Tenang.
Begitulah Gantari selalu bekerja.
Menemukan alasan untuk memahami orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang terluka.
Mungkin itu sebabnya Nalendra tidak pernah benar-benar menyadari betapa seringnya Gantari menjadi tempat tenang baginya.
Nalendra boleh menjadi seseorang yang penuh api.
Gantari akan menjadi cahayanya.
Nalendra boleh kehilangan arah.
Gantari akan menunjukkan jalan.
Nalendra boleh bercerita tentang segala hal.
Gantari akan mendengarkan.
Tetapi siapa yang akan melakukan semua itu ketika Gantari sendiri kehilangan arah?
Pertanyaan itu akhirnya muncul di kepala Gantari pada suatu sore.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mencari jawabannya.
Ia hanya diam.
Karena mungkin selama ini ia terlalu sibuk menjadi cahaya untuk seseorang, sampai lupa bahwa cahaya juga bisa kehabisan tenaga.
Cahaya juga bisa redup.
Cahaya juga bisa menangis.
Dan cahaya juga boleh berkata,
“Aku sakit.”
Gantari akhirnya mengerti bahwa mengakui kesalahannya karena sering menghilang tidak berarti ia harus menghapus semua rasa sakit yang pernah ia alami.
Ia bisa berkata,
Aku salah.
Tanpa harus berkata,
Jadi kamu boleh menyakitiku.
Ia bisa memahami kemarahan Nalendra tanpa harus mengabaikan ketakutannya sendiri.
Ia bisa tetap menyayangi Nalendra tanpa harus terus-menerus mengorbankan dirinya.
Mungkin inilah hal yang selama ini belum pernah ia pelajari.
Bahwa menjadi tenang bukan berarti harus selalu diam.
Bahwa menjadi lembut bukan berarti tidak boleh terluka.
Bahwa menjadi cahaya bukan berarti harus terus menyala untuk orang lain.
Dan malam itu, Gantari menatap layar ponselnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari kalimat yang paling aman.
Ia mencari kalimat yang paling jujur.
Karena mungkin, setelah sekian lama menjadi tempat pulang bagi Nalendra
kali ini Gantari juga ingin pulang kepada dirinya sendiri.