Hotel kecil itu hampir kosong ketika Maya mulai bekerja.
Namanya Hotel Melati Senja.
Bangunannya tidak besar.
Hanya memiliki dua lantai dan dua puluh kamar.
Maya bekerja sebagai petugas malam.
Tugasnya sederhana.
Menerima tamu.
Mengurus kunci.
Membersihkan meja depan.
Dan memastikan semua orang mendapatkan tempat untuk beristirahat.
Namun ada satu kamar yang tidak pernah disewakan.
Kamar nomor 12.
“Kenapa kamar itu selalu kosong?” tanya Maya kepada pemilik hotel.
Pak Darto hanya menjawab,
“Jangan dibuka.”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
Maya menganggapnya aneh.
Kamar nomor 12 terletak di ujung koridor lantai dua.
Pintunya selalu terkunci.
Tidak ada tanda rusak.
Tidak ada larangan masuk.
Hanya sebuah angka dua belas yang mulai pudar.
Suatu malam, sekitar pukul dua pagi, Maya mendengar suara ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia keluar dari meja depan.
Suara itu berasal dari lantai dua.
Maya naik.
Koridor gelap.
Ketukan terdengar lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Dari kamar nomor 12.
Maya berdiri di depannya.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Ia hampir memanggil Pak Darto ketika suara seorang perempuan terdengar dari dalam.
“Boleh dibukakan?”
Maya mundur.
“Kamu siapa?”
“Saya tamu.”
“Tapi kamar ini tidak disewakan.”
Suara itu terdiam.
Kemudian berkata,
“Saya tahu.”
Maya merasa merinding.
Ia segera turun.
Pagi harinya ia menceritakan kejadian tersebut kepada Pak Darto.
Lelaki itu terdiam cukup lama.
“Suara perempuan?”
Maya mengangguk.
Pak Darto mengambil kunci dari sakunya.
“Kamu jangan takut.”
Ia mengajak Maya ke kamar nomor 12.
Pintu dibuka.
Kamar itu kosong.
Tidak ada tempat tidur.
Tidak ada lemari.
Hanya sebuah meja kecil dan kursi.
Di atas meja terdapat sebuah foto.
Foto seorang perempuan muda.
Maya mengenalinya.
“Itu siapa?”
“Namanya Lestari.”
“Pernah tinggal di sini?”
Pak Darto mengangguk.
“Dulu.”
Ia kemudian bercerita.
Lestari adalah anak pemilik hotel sebelumnya.
Dua puluh tahun lalu, ia menunggu seseorang di kamar nomor 12.
Lelaki yang dicintainya berjanji akan datang.
Namun lelaki itu tidak pernah muncul.
Lestari menunggu sampai malam.
Kemudian sampai pagi.
Ia akhirnya meninggalkan hotel.
Tidak pernah kembali.
“Kenapa kamarnya tidak disewakan?”
“Karena ayahnya tidak pernah sanggup mengubah kamar itu.”
Maya melihat foto tersebut.
“Lestari sekarang di mana?”
“Tidak tahu.”
Setelah mendengar cerita itu, Maya tidak terlalu memikirkannya.
Sampai suatu malam, seorang lelaki tua datang ke hotel.
Ia bertanya,
“Apakah kamar nomor 12 masih ada?”
Maya terdiam.
“Masih.”
“Boleh saya melihatnya?”
Maya memanggil Pak Darto.
Lelaki tua itu memperkenalkan diri.
Namanya Anton.
Pak Darto langsung mengenalinya.
“Anton?”
Lelaki itu menunduk.
“Saya datang terlambat.”
Tidak ada yang bicara.
Anton akhirnya menceritakan semuanya.
Dua puluh tahun lalu, ia mencintai Lestari.
Mereka berencana menikah.
Namun sehari sebelum pertemuan, Anton mengalami kecelakaan.
Ia dirawat di rumah sakit tanpa bisa menghubungi siapa pun.
Ketika pulih, ia datang mencari Lestari.
Tetapi Lestari sudah pergi.
Ia mencarinya bertahun-tahun.
Tidak pernah berhasil.
“Kenapa baru datang sekarang?”
Anton menatap lantai.
“Karena saya baru tahu hotel ini masih berdiri.”
Maya merasa sesak.
Anton duduk di kursi kamar nomor 12.
“Dia menungguku di sini?”
Pak Darto mengangguk.
Anton menutup wajahnya.
“Saya pikir dia meninggalkanku.”
Maya kemudian bertanya,
“Bapak tahu Lestari sekarang di mana?”
Anton menggeleng.
Namun malam itu ia tidak pulang.
Ia duduk di kamar nomor 12 sampai pagi.
Sebelum pergi, ia meletakkan sebuah surat di atas meja.
“Kalau suatu hari Lestari datang, berikan ini.”
Maya menerima surat tersebut.
Beberapa minggu berlalu.
Kemudian seorang perempuan tua datang ke hotel.
Ia membawa tas kecil.
“Permisi.”
Maya tersenyum.
“Selamat datang.”
Perempuan itu melihat koridor lantai dua.
“Apakah kamar nomor 12 masih ada?”
Maya terdiam.
Jantungnya berdebar.
“Nama Ibu siapa?”
Perempuan itu menjawab pelan.
“Lestari.”
Maya hampir tidak percaya.
Ia memanggil Pak Darto.
Lestari berdiri di depan pintu kamar nomor 12.
Tangannya gemetar.
“Masih sama.”
Ia masuk.
Melihat kursi.
Melihat meja.
Melihat foto lama.
Kemudian Maya menyerahkan surat.
“Ini dititipkan seseorang.”
Lestari membukanya.
Membaca perlahan.
Air matanya jatuh.
“Anton?”
Maya mengangguk.
“Dia datang beberapa minggu lalu.”
Lestari duduk.
“Dia masih hidup?”
“Masih.”
Lestari tersenyum sambil menangis.
“Selama ini saya kira dia tidak datang.”
Maya bertanya,
“Kenapa Ibu tidak mencari lagi?”
“Saya pernah.”
“Lalu?”
“Saya lelah menunggu.”
Maya tidak tahu harus berkata apa.
Lestari menyimpan surat itu.
“Di mana Anton sekarang?”
Maya memberi tahu alamat yang ditinggalkan Anton.
Lestari pergi keesokan harinya.
Beberapa hari kemudian, sebuah surat datang ke hotel.
Untuk Maya.
Isinya pendek.
Terima kasih karena telah menjaga kamar yang seharusnya tidak pernah menjadi tempat penyesalan.
Anton dan saya bertemu.
Kami tidak tahu apakah waktu masih memberi kami banyak hari.
Tapi kami akhirnya tahu bahwa kami tidak pernah berhenti mencari satu sama lain.
Sejak saat itu, kamar nomor 12 kembali ditutup.
Namun kali ini bukan karena kesedihan.
Pak Darto memasang sebuah tulisan kecil di pintunya:
“Jangan terlalu lama menunggu sesuatu yang bisa dicari.”
Maya menyimpan pesan itu dalam ingatan.
Ia menyadari bahwa banyak manusia kehilangan sesuatu bukan karena tidak mencintai, tetapi karena terlalu lama menunggu keadaan berubah sendiri.
Kadang kita harus bertanya.
Kadang harus mencari.
Kadang harus mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan.
Sebab waktu tidak selalu memberi kesempatan kedua.
Dan kamar nomor 12 mengajarkan satu hal kepada Maya:
Jangan biarkan kesalahpahaman mengubah seseorang yang masih kita cintai menjadi kenangan yang tidak pernah sempat kita jelaskan.