Bel istirahat baru saja berbunyi, dan koridor sekolah seketika riuh rendah seperti biasanya. Siswa-siswi berlarian menuju kantin, tertawa, bercerita — setiap sudut penuh warna dan suara. Tapi di dekat jendela lorong lantai dua, ada satu sosok yang selalu sama setiap hari: Arga.
Dia duduk sendirian di bangku panjang dekat jendela, buku terbuka di pangkuan, tapi matanya tak benar-benar membaca. Dia selalu diam, tenang, seolah berada di dunianya sendiri. Tinggi, rambut hitam sedikit berantakan, dan wajah yang sering dikatakan orang-orang "terlalu tampan untuk sedingin itu". Tak banyak yang berani menyapanya — karena dia selalu menjawab singkat, atau hanya diam saja.
Sampai suatu hari — Lia masuk ke kelasnya sebagai murid pindahan.
Lia ceria, berisik, dan selalu tersenyum pada siapa pun. Hari pertamanya, dia tersesat di lorong dan berhenti tepat di depan bangku tempat Arga duduk.
"Permisi..." suaranya terdengar lembut di tengah keramaian. "Kamu tahu di mana ruang kelas 12 IPA 3?"
Arga mendongak. Untuk pertama kalinya, seseorang menatapnya tanpa rasa takut atau canggung. Mata Lia berbinar, menunggu jawaban dengan sabar.
"Di ujung lorong, belok kanan," jawab Arga singkat, lalu kembali menatap bukunya.
"Terima kasih banyak!" Lia tersenyum lebar, menunjukkan lesung pipi yang manis. "Namaku Lia ya! Kalau boleh tahu namamu siapa?"
Arga terdiam sesaat. "Arga."
"Baiklah, Arga! Sampai ketemu lagi ya!"
Lia berlalu dengan langkah ringan, meninggalkan Arga yang masih menatap pintu lorong. Jantungnya — yang biasanya tenang — entah mengapa berdetak sedikit lebih cepat hari itu.
Sejak hari itu, Lia selalu menyapa Arga setiap kali berpapasan. Di koridor, di kantin, di depan gerbang — selalu dengan senyum yang sama hangatnya.
"Pagi, Arga!"
"Hari ini matematika susah banget ya, kamu ngerti nggak?"
"Ini permen buat kamu! Rasanya enak lho!"
Awalnya Arga hanya menjawab dengan anggukan atau senyum tipis. Tapi lama-kelamaan, dia mulai menunggu sapaan itu. Setiap pagi, matanya tanpa sadar mencari sosok berambut pendek yang selalu tertawa bersama teman-temannya. Dan kalau Lia terlambat menyapa, harinya terasa ada yang kurang.
Suatu sore, hujan turun deras sekali. Semua siswa sudah pulang, kecuali Lia yang lupa membawa payung. Dia berdiri di beranda depan, melihat air hujan yang jatuh deras, wajahnya cemas.
Tiba-tiba, sebuah payung hitam besar disodorkan ke hadapannya.
"Pakai ini."
Lia menoleh. Arga berdiri di sampingnya, satu tangan di saku celana, wajahnya sedikit memalingkan wajah agar tak terlihat bahwa dia sebenarnya gugup.
"Tapi kalau aku pakai, kamu gimana?" tanya Lia bingung.
"Aku tunggu rekan jemputan. Aku nggak apa-apa."
Lia menatapnya lama, lalu tersenyum lembut. "Terima kasih banyak, Arga! Besok pagi aku kembalikan ya!"
Arga mengangguk, dan Lia berlari keluar di bawah payung itu — payung yang jauh lebih besar dari dirinya, tapi membuatnya merasa hangat sepanjang jalan pulang. Yang Lia tak tahu: Arga tidak menunggu siapa pun. Dia berdiri di balik tiang koridor, memastikan Lia sampai di gerbang dengan aman, lalu berlari ke tengah hujan tanpa payung.
Keesokan harinya, Lia mengembalikan payung itu dengan pita merah kecil di gagangnya.
"Terima kasih, Arga! Kamu menyelamatkanku dari hujan kemarin!"
Arga menerima payung itu, menyentuh pita merah itu dengan jari telunjuk. "Sama-sama."
Sejak hari itu, sesuatu berubah. Arga mulai menunggu Lia di depan gerbang. Mereka berjalan bersama ke kelas, bercerita tentang hal-hal kecil — pelajaran, hobi, mimpi masa depan. Arga yang biasanya diam, ternyata punya banyak hal untuk diceritakan. Dan Lia yang selalu ceria, ternyata juga suka mendengarkan.
Suatu hari, saat mereka duduk di atap sekolah saat jam istirahat — tempat yang sepi dan hanya mereka berdua — Lia bertanya pelan:
"Arga, dulu kamu selalu sendirian ya? Kenapa?"
Arga menatap langit biru di depan mereka. "Aku takut kalau aku terlalu dekat dengan orang, aku akan kehilangan mereka. Jadi aku memilih sendirian. Lebih aman begitu."
Lia menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum lembut. "Tapi Arga... kalau kamu nggak pernah mencoba, kamu nggak akan pernah tahu rasanya ditemani, didengar, dan dimiliki seseorang. Seperti sekarang — kita berdua. Rasanya jauh lebih baik daripada sendirian, kan?"
Arga menoleh. Mata Lia bersinar tulus, penuh keyakinan. Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa tidak takut.
"Kamu benar," jawabnya pelan, tapi mantap. "Dan aku... aku senang sekali kamu datang ke sini, Lia."
Lia tersipu, menunduk pelan. "Aku juga, Arga. Sangat senang."
Angin sore berhembus lembut, mengibaskan rambut mereka berdua. Di atap sekolah itu, di antara langit yang cerah dan suara bel yang sebentar lagi berbunyi, mereka saling memahami — bahwa perasaan ini bukan sekadar teman biasa. Bahwa sekolah ini bukan sekadar tempat belajar. Bahwa ada seseorang yang membuat setiap pagi terasa layak untuk dijalani.
Hari-hari berlalu, dan setiap bel berbunyi, Arga selalu mencari Lia di antara kerumunan. Dan Lia selalu menemukan Arga — menunggunya di tempat yang sama, dengan senyum yang sama hangatnya.
"Sekolah bukan hanya tentang nilai atau pelajaran. Tapi tentang seseorang yang membuat kamu ingin datang setiap pagi, dan membuat kamu tersenyum sendiri saat pulang. Dan bagiku, seseorang itu adalah kamu."
— Arga untuk Lia ❤️