Lahir di tempat yang seharusnya bukan tempatnya tetapi menjadi tempat ternyaman baginya. Kekerasan, pergaulan bebas, putus sekolah sudah menjadi hal biasa. Namun tempat tersebut yang membuat jantan tersebut tumbuh hingga menjadi sekarang. Terkesan mengerikan tetapi inilah titik awal dari perjalanan orang yang masih ingin menjadi pribadi baik. Jantan tersebut memiliki orang tua dan kerabat yang baik. Namun ditengah proses Jantan untuk menemukan jati diri terdapat keresahan, kekesalan, dendam di lubuk hati sejak dini. Namun jantan tersebut bersikap se akan-akan tidak terjadi apa-apa, tetap tumbuh dan menjadi pribadi yang sehat. Namun kekecewaan sejak dini yang membuat si jantan menjadi senyap bagaikan keheningan di tengah malam. Memendam masalah dan mandiri sudah menjadi bagian kehidupannya. Pikiran di otak menggebu-gebu dan liar, tentang masa lalu, masa depan bahkan masa kini. Kekerasan menjadi tontonan sehari-hari bagaikan tontonan berita pagi di Net Tv, namun si jantan tetap kukuh pada pendiriannya tumbuh menjadi pribadi yang damai, cerdas dan kreatif.
Saat beranjak dewasa si jantan belum mengetahui apa tujuannya untuk tetap hidup dan tetap bertahan, “Hidup Segan Mati Tak Mau” pepatah mengatakan. Namun ditengah perjalanan yang penuh dengan kesunyian terdapat satu hobi yang membuat si Jantan terus berekspresi yaitu kegiatan di lapangan yang hijau dan luas dengan sentuhan dari kaki yang manja bagaikan anak seorang pejabat kepada si bundar kecil berukuran 70 cm. Si Jantan menjadikan satu tujuan tersebut untuk meraih masa depan yang tidak tahu akhirnya bagaimana. Cinta pertama seorang jantan tersebut adalah kepada bola bundar kecil tersebut. Si jantan tersebut sangat menyukai kelompok bola bundar yang identik dengan warna biru dan merah seperti Superman. Ditengah perjalanan, ditengah proses yang rumit si jantan menemukan jati diri dia gagal menjadi apa yang dia mau, dia gagal menjadi Cristiano Ronaldo, Neymar JR, Messi, Dan Evan Dimas.
Pendidikan menjadi harapan untuk si Jantan terus menjadi orang yang dianggap orang sukses dan masih punya pendirian seperti orang menganggap menjadi Abdi Negara adalah sebuah kesuksesan. Ditengah Pergaulan yang keras, si Jantan memilih caranya sendiri dengan menjadi pribadi yang lembut bagaikan kain sutra mahal. Namun pribadi lembut tidak dapat menahan rasa yang telah dipendam sejak dini, Kebebasan meronta-ronta di pikiran, atap dinding kamar menjadi saksi banyaknya keinginan menjadi seseorang yang tetap tumbuh bagaikan tumbuhan yang subur kemudian dipatahkan oleh keinginan tersebut. Namun ditengah teka-teki perjalanan si Jantan terdapat orang tua yang selalu mendukung perjalanannya yang liar, tetapi mendukung bukan berarti memahami, ada hal yang membuat dukungan tersebut seakan-akan bukan karena si Jantan tetapi untuk seseorang yang bahkan semua orang tidak tahu siapa dia. “orang tersebut adalah sumber kerumitan perjalanan si Jantan”. Pribadi yang memendam perasaan emosi, berwatak pendiam adalah sebuah hadiah dari seorang yang bahkan tidak sadar dia memerikan hadiah kepada si Jantan. Hingga saat ini si Jantan tetap ingin menjadi orang yang berguna ditengah trauma masa lampau yang terpendam.