Saat itu, kau berkata tidak.
Namun meski jawabanmu sederhana, hatiku tidak pernah benar-benar mampu berpaling. Ada sesuatu dalam diriku yang tetap memilih untuk bertahan, sebab hanya menginginkanmu, bahkan ketika aku tahu mungkin bukan aku yang kau tunggu.
Hatiku hanya menginginkanmu, meski saat itu kau berkata tidak.
Saat itu, kau berkata tidak.
Satu kata yang sederhana, tetapi entah mengapa mampu tinggal begitu lama di dalam kepalaku.
Aku masih mengingat bagaimana aku mencoba tersenyum setelah mendengarnya. Berusaha terlihat baik-baik saja, seolah penolakanmu bukan sesuatu yang membuat sebagian kecil dari diriku runtuh.
Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa semuanya akan berlalu.
Bahwa perasaan bisa hilang jika dibiarkan cukup lama.
Bahwa suatu hari nanti aku akan bertemu seseorang yang mampu membuatku lupa kepadamu.
Namun ternyata aku salah.
Hari-hari berganti.
Minggu menjadi bulan.
Bulan berubah menjadi tahun.
Aku tetap menjalani hidup seperti biasa. Bangun setiap pagi, menyelesaikan pekerjaan, bertemu orang-orang baru, tertawa bersama mereka, bahkan sesekali mencoba membuka hati.
Tetapi setiap kali seseorang datang membawa perhatian, hatiku justru membandingkannya denganmu.
Bukan karena mereka kurang baik.
Bukan karena mereka tidak pantas dicintai.
Hanya saja, ada satu nama yang belum selesai kutinggalkan.
Namamu.
Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri, mengapa harus kamu?
Mengapa seseorang yang pernah berkata tidak justru menjadi orang yang paling sulit kulupakan?
Mungkin karena sejak awal aku tidak pernah benar-benar ingin melupakanmu.
Aku hanya berpura-pura sudah bisa.
Ada malam-malam ketika aku membuka percakapan lama kita. Membaca pesan yang sebenarnya sudah kuhafal. Tersenyum pada hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, lalu menutup layar ketika sadar bahwa aku sedang merindukan seseorang yang mungkin sudah tidak mengingatku.
Aku tahu, mencintai seseorang tidak berarti harus memilikinya.
Aku tahu, perasaan tidak bisa dijadikan alasan untuk memaksa seseorang tinggal.
Karena itu aku memilih diam.
Aku tidak datang kepadamu.
Aku tidak meminta kesempatan kedua.
Aku hanya menyimpan perasaan itu di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
Termasuk kamu.
Sampai suatu hari, aku bertemu denganmu lagi.
Kita berdiri berhadapan setelah sekian lama.
Tidak ada hujan.
Tidak ada payung.
Tidak ada alasan untuk memulai percakapan.
Hanya dua orang yang pernah saling dekat, kemudian dipisahkan oleh waktu.
"Kamu baik-baik saja?" tanyamu.
Aku tersenyum.
"Baik."
Padahal sebenarnya, hatiku sedang berantakan.
Aku ingin mengatakan bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar berhenti menginginkanmu.
Aku ingin mengatakan bahwa setelah semua yang terjadi, namamu masih menjadi nama pertama yang muncul ketika aku membayangkan rumah.
Tetapi aku takut.
Takut jika aku mengatakannya, kau akan kembali memberikan jawaban yang sama.
Tidak.
Namun kali ini aku menyadari sesuatu.
Aku tidak lagi ingin mencintaimu dengan ketakutan.
Aku tidak ingin terus menebak-nebak apakah aku boleh berharap atau tidak.
Maka aku menarik napas panjang.
"Hatiku hanya menginginkanmu, meski saat itu kau berkata tidak."
Kau terdiam.
Aku melanjutkan dengan suara yang hampir berbisik.
"Aku tidak mengatakan ini supaya kau merasa bersalah. Aku hanya ingin jujur, setidaknya sekali. Setelah ini, apa pun jawabanmu, aku akan menerimanya."
Kau menatapku cukup lama.
Lalu perlahan tersenyum.
"Aku dulu berkata tidak karena aku juga takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau ternyata aku tidak cukup baik untukmu."
Aku terdiam.
Ternyata selama ini, kita sama-sama takut.
Aku takut kehilanganmu karena mencoba.
Kau takut kehilangan dirimu sendiri karena mencintaiku.
Dan mungkin, cinta memang kadang bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan.
Melainkan tentang siapa yang akhirnya berani berkata jujur.
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menunggu jawaban dari masa lalu.
Aku hanya berdiri di hadapanmu dengan hati yang sudah siap menerima apa pun.
Sebab setelah bertahun-tahun, aku akhirnya mengerti.
Mencintaimu bukan kesalahan.
Dan pernah mendengar kata "tidak" darimu bukan berarti kisah kita harus berakhir di sana.
Kadang, satu kata hanya menjadi akhir dari sebuah bab.
Bukan akhir dari seluruh cerita.