Airin sudah mengenal Arya sejak mereka masih berlari-larian di halaman rumah masing-masing.
Rumah mereka hanya dipisahkan pagar pendek yang sejak dulu sering dilompati Arya kalau ingin memanggilnya.
“Airin!”
Gadis itu biasanya akan muncul dengan rambut sedikit berantakan dan senyum manis yang selalu membuat Arya ikut tersenyum.
Mereka tumbuh bersama, pergi ke sekolah yang sama, bahkan punya meja favorit yang sama di sebuah kafe kecil dekat taman.
Namun, hanya Airin yang menyimpan satu rahasia.
Ia menyukai Arya.
Bukan karena Arya tampan, meski semua orang tahu laki-laki itu memang charming.
Airin menyukainya karena Arya selalu tahu kapan ia sedang sedih tanpa harus bertanya.
Sore itu, mereka duduk berdua di taman setelah membeli dua gelas kopi dari kafe langganan.
“Airin,” panggil Arya pelan.
“Hm?”
“Kamu masih suka datang ke sini?”
Airin tersenyum. “Kalau sama kamu, iya.”
Arya terdiam sebentar, lalu tersenyum seperti biasanya.
Senyum yang tidak pernah benar-benar menolak.
Senyum yang juga tidak pernah memberi janji.
Hari-hari berikutnya tetap berjalan seperti biasa.
Arya masih mengantar Airin pulang.
Masih duduk di teras rumahnya sampai malam.
Masih mengajaknya membeli kopi ketika Airin sedang ingin bercerita.
Namun, belakangan Airin merasa ada sesuatu yang berbeda.
Arya lebih sering melamun.
Sesekali ia melihat ponselnya lama sekali, kemudian memasukkannya kembali ke saku tanpa mengatakan apa pun.
Sampai suatu sore, Arya akhirnya berkata,
“Aku mau pergi, Rin.”
Airin yang sedang mengaduk kopinya langsung berhenti.
“Pergi ke mana?”
“Ke luar negeri.”
Airin tertawa kecil, mengira Arya sedang bercanda.
Tapi Arya tidak ikut tertawa.
“Keluargaku pindah. Ayah dapat pekerjaan baru di sana. Aku harus ikut.”
Sendok kecil di tangan Airin kembali bergerak pelan.
“Oh…”
Hanya itu yang mampu ia katakan.
Arya menatapnya.
“Maaf.”
“Kenapa minta maaf?”
“Karena aku nggak bisa tinggal.”
Airin tersenyum, meski matanya mulai terasa panas.
“Bukan salah kamu.”
Beberapa hari setelah itu terasa berjalan terlalu cepat.
Mereka tetap pergi ke kafe.
Tetap duduk di meja favorit mereka.
Tetap berjalan di taman seperti biasanya.
Hanya saja kali ini, Airin mulai menghitung waktu.
Satu hari.
Tiga hari.
Seminggu.
Sampai akhirnya tersisa satu malam.
Mereka berdiri di depan pagar rumah Airin.
“Arya…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku bilang aku suka kamu, kamu bakal pergi?”
Arya menatapnya lama.
Lalu tersenyum.
“Enggak.”
Airin menunduk, menyembunyikan senyum kecilnya.
“Tapi kamu juga nggak bilang akan tinggal.”
Arya terdiam.
Untuk pertama kalinya, senyumnya terlihat begitu sedih.
“Karena aku cuma bisa menemani kamu sampai waktu yang sudah ditentukan.”
Airin mengangkat wajahnya.
“Kalau begitu…”
Ia menarik napas pelan.
“Boleh aku minta satu hal?”
“Apa?”
“Peluk aku.”
Arya tidak menjawab.
Ia hanya membuka kedua tangannya.
Airin melangkah mendekat dan masuk ke dalam pelukannya.
Pelukan itu hangat.
Singkat.
Namun cukup untuk membuat Airin percaya bahwa perasaannya tidak pernah benar-benar sendirian.
Malam itu, mereka tidak mengatakan cinta.
Tidak ada janji untuk menunggu.
Tidak ada kata-kata bahwa mereka akan tetap bersama.
Hanya dua orang yang berdiri dalam diam, menyadari bahwa pagi berikutnya akan mengubah kebiasaan mereka selamanya.
Keesokan harinya, Arya pergi bersama keluarganya.
Airin berdiri di balik pagar rumah mereka, tempat yang dulu sering dilompati Arya hanya untuk memanggil namanya.
Mobil itu semakin jauh.
Sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.
Beberapa minggu kemudian, Airin kembali duduk sendirian di meja favorit mereka di kafe.
Ada dua kursi.
Tapi hanya satu yang terisi.
Ia menatap kursi di depannya, lalu tersenyum kecil.
Ternyata, ada pertemuan yang memang tidak selalu ditakdirkan untuk menjadi hubungan.
Ada orang yang datang, tumbuh bersama kita, lalu pergi membawa sebagian kecil dari masa kecil kita.
Dan ada pelukan yang memang tidak diciptakan untuk menjadi awal sebuah hubungan.
Ada pelukan yang hanya datang untuk mengajarkan seseorang bagaimana rasanya dicintai…
sebelum akhirnya harus melepaskan.