Airin menatap jam di pergelangan tangannya.
“Ya ampun, telat!”
Ia berlari kecil menuju kafe di ujung jalan sambil memeluk tasnya.
Hari pertamanya bekerja sebagai pegawai baru seharusnya berjalan sempurna.
Seharusnya.
Sampai ketika Airin membuka pintu kafe dengan terburu-buru—
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang.
Sebuah gelas kopi di tangan pria itu langsung miring.
Byur!
Kopi tumpah ke kemeja hitamnya.
Airin membeku.
Pria itu juga diam.
Dua detik.
Tiga detik.
“Maaf!”
Airin langsung membungkuk berkali-kali.
“Maaf banget! Aku nggak sengaja!”
Pria itu menatap noda kopi di bajunya, kemudian menatap Airin.
Wajahnya tampan.
Rambutnya sedikit berantakan, tetapi justru membuatnya terlihat semakin charming.
“Kalau saya marah, kamu mau lari?”
Airin menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena… saya yang salah.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Setidaknya kamu jujur.”
Airin menghela napas lega.
Namun pria itu justru menunjuk meja kosong di dekat jendela.
“Duduk.”
“Hah?”
“Sebagai ganti rugi.”
Airin menelan ludah.
“Berapa?”
Pria itu tertawa.
“Satu kopi.”
“Oh.”
Airin duduk.
Pria itu berjalan menuju mesin kopi.
“What's your favorite coffee?”
Airin mengerutkan kening.
“Kenapa pakai bahasa Inggris?”
“Biar terdengar profesional.”
Airin menahan tawa.
“Memangnya Mas barista?”
Pria itu menunjuk apron yang dikenakannya.
Airin baru sadar.
Di dada apron itu tertulis namanya.
Raka.
“Ya ampun…”
“Apa?”
“Pantesan.”
“Pantesan apa?”
“Kirain tadi Mas pelanggan.”
Raka menatapnya beberapa detik.
Kemudian tertawa.
“Berarti kamu menabrak orang asing dan langsung menumpahkan kopinya?”
Airin menutup wajah.
“Jangan diingat-ingat.”
“Sulit.”
“Kenapa?”
“Karena kamu pelanggan pertama yang bikin saya ganti baju sebelum jam sembilan pagi.”
Airin akhirnya ikut tertawa.
“Kalau begitu, kopinya gratis?”
Raka menggeleng.
“Bayar.”
“Lho?”
“Bayar pakai jawaban.”
“Jawaban apa?”
Raka menyandarkan kedua tangannya di meja bar.
“What’s your favorite coffee?”
Airin berpikir sebentar.
“Yang manis.”
“Manisnya seberapa?”
“Seperti orangnya.”
Raka mengangkat alis.
“Berarti kamu suka orang manis?”
Airin langsung sadar ucapannya.
“Eh… bukan begitu!”
Raka tersenyum lebar.
“Sayang sekali.”
“Kenapa?”
“Padahal saya hampir menawarkan diri.”
Airin terdiam.
Wajahnya mulai memerah.
Raka berbalik menuju mesin kopi sambil tertawa kecil.
“Tenang. Kopinya saya buat manis.”
Airin memandang punggungnya.
Kemudian tanpa sadar ikut tersenyum.
Hari pertama bekerja belum dimulai.
Tapi entah kenapa, Airin merasa hari itu mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang menyenangkan.
Sesuatu yang dimulai dari secangkir kopi…
dan satu pertanyaan sederhana.
What's your favorite coffee?