Satu jam berlalu, dan cangkir kapusinoku sudah sepenuhnya dingin. Di seberang meja, Dara baru saja selesai merapikan tasnya, seolah pembicaraan lima menit lalu yang menghancurkan seluruh rencanaku untuk masa depan hanyalah sebuah urusan bisnis biasa.
"Aku cuma merasa kita udah enggak sejalan, Rian," ucapnya datar, tanpa ada getar bersalah di matanya. "Foto pertunangan minggu depan... kita batalkan saja."
Tiga tahun. Tiga tahun yang kubangun dengan kompromi, lembur malam demi mengumpulkan tabungan pernikahan, dan impian-impian kecil yang sering kami bicarakan di kafe ini. Semuanya runtuh hanya karena satu kalimat yang diucapkannya sambil lalu. Yang lebih menyakitkan bukan keputusan itu sendiri, melainkan betapa mudahnya ia mengucapkannya—seolah keberadaanku di hidupnya selama ini tidak pernah meninggalkan jejak apa pun.
"Ada orang lain, kan?" tanyaku. Suaraku hampir tenggelam oleh bising mesin pembuat kopi.
Dara tidak menjawab, tetapi matanya yang bergulir mengalihkan pandangan sudah cukup menjadi jawaban. Ia berdiri, membenarkan posisi tali tas di bahunya, lalu menatapku untuk terakhir kali. "Maaf ya, Rian. Kamu orang baik."
Kata-kata klise yang justru terasa seperti sabetan sembilu. Tanpa menunggu responku, ia melangkah pergi. Bunyi gemerincing bel pintu toko mengiringi kepergiannya, menyisakan udara dingin yang menyusup masuk.
Aku tetap duduk di sana, menatap dua cangkir kopi di meja. Dadaku terasa begitu sesak, seolah udara di dalam ruangan mendadak habis. Rasa sakitnya bukan berupa amarah yang meledak-ledak, melainkan rasa hampa yang menghujam tajam, merayap pelan menegaskan bahwa semua pengorbananku selama ini sama sekali tidak bernilai di matanya.