BRAK! BRAKK!! "KEHIDUPAN SAMPAH!!" Suara Sagara menggema di dalam kamar. Tangannya menghantam lemari sebelum akhirnya ia terduduk di lantai, memeluk kedua lututnya. Ponselnya bergetar. Ibu: "Gar, jemput adikmu." Sagara hanya membaca pesan itu. Belum sempat meletakkan ponselnya, pesan lain masuk. Ibu: "Sekalian beliin sesuatu buat kakakmu." Sagara menghela napas. Ia sebenarnya belum makan, tetapi ia tahu jawabannya jika menolak. "Namanya juga keluarga." Akhirnya ia bangkit dan mengambil jaketnya.
Di sekolah, Sagara tetap terlihat seperti biasa. Ia bercanda, tertawa, dan mengobrol bersama teman-temannya seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya sahabatnya yang menyadari sesuatu. "Gar, kenapa?" "Kenapa apanya taik?" "Ga kek biasanya." Sagara tertawa kecil. "Perasaan lu aja kali." Sahabatnya menatapnya sebentar. "Kalau ada masalah, cerita aja." Sagara terdiam sebelum tersenyum. "Nanti." Namun, kata "nanti" itu selalu menjadi jawabannya.
Sepulang sekolah, Sagara duduk sendirian di sebuah bangku. Ia membuka percakapannya dengan sahabatnya. Jarinya mengetik sesuatu. "Aku cape." Ia menatap kalimat itu cukup lama sebelum menghapusnya. Ia mencoba lagi. "Boleh gue cerita?" Dihapus. Pada akhirnya, ia hanya mengirim, "Besok nongkrong, kuy? ." Balasan datang tidak lama kemudian. "Gas." Sagara tersenyum kecil.
Malamnya, suara pertengkaran kembali terdengar dari ruang tengah. "Sagara!" Ia memejamkan mata. "Ya?" "Tolong bantu adikmu!" Sagara membuka pintu. "Iya." Hanya itu. Setelah semuanya selesai, ia kembali ke kamar. Ponselnya bergetar. "Gar, besok jadi kan?" Sagara mengetik, "Jadi." Ia berhenti sejenak, lalu mengetik lagi, "Makasih ya." "Paan dah tiba-tiba." Sagara tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, tawanya terasa benar-benar tulus.
Keesokan paginya, kursi Sagara kosong. "Gar belum datang?" tanya salah seorang temannya. "Belum." Jam pertama berlalu. Sagara tidak datang. Jam kedua berlalu. Masih tidak ada. Sampai bel pulang berbunyi, kursi itu tetap kosong. Sahabatnya beberapa kali mencari tahu kabarnya, tetapi tidak ada jawaban. Hari berikutnya pun sama. Kursi Sagara masih kosong.
Hari-hari berlalu. Kegiatan sekolah tetap berjalan, tugas tetap dikumpulkan, dan teman-temannya tetap tertawa. Hanya satu hal yang tidak berubah: kursi itu. Suatu sore, sahabat Sagara duduk di sebelahnya. Ia membuka percakapan terakhir mereka. "Makasih ya." Ia mengetik satu pesan. "Gar, di mana?" Pesan terkirim. Tak kunjung ada balasan.
Sahabatnya menatap layar ponselnya, kemudian memandang kursi kosong di sampingnya. Mungkin besok Sagara datang. Mungkin lusa. Mungkin minggu depan. Tak ada yang tahu. Yang mereka tahu hanyalah Sagara pernah duduk di sana, tertawa bersama mereka, lalu suatu hari tak datang lagi.
Kehidupan tetap berjalan, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.
Hidup?
Mati?
Tak pernah ada yang tahu.
Dan pertanyaan itu datang ketika semuanya sudah terlambat.
"Sebenarnya, selama ini Sagara baik-baik saja?"