Malam itu, Reva berdiri di depan rumah tua yang sudah ditinggalkan sepuluh tahun lalu.
"Jangan masuk," bisiknya pada dirinya sendiri.
Tapi kakinya tetap melangkah.
Lorong gelap menyambutnya. Bau tanah basah. Dinding retak. Dan suara — bukan suara yang bisa didengar telinga biasa. Suara itu ada *di dalam kepalanya*.
"Kamu datang juga."
Reva berhenti. Matanya terpejam. Di balik kelopak matanya, ia melihat sesuatu yang tidak ada di dunia nyata: seorang perempuan duduk di pojok ruangan lantai dua — wajahnya pucat, gaun putihnya sobek, dan matanya menatap lurus ke arah Reva.
Bukan hantu.
Ini ingatan rumah ini.
Reva membuka mata. Ruangan di depannya kosong. Tapi ia tahu — lantai dua, pojok kiri, di balik lemari tua — ada sesuatu yang disembunyikan.
Ia naik. Langkahnya pelan tapi pasti. Lemari itu masih berdiri, berdebu tebal. Reva menggesernya.
Di baliknya: dinding palsu. Dan di dalam rongga kecil itu — sebuah kotak kayu berisi surat-surat, foto, dan sehelai kain bernoda gelap.
Tangannya menyentuh kotak itu. Seketika, gelombang menghantamnya
Jeritan.
Tangisan.
Seseorang menyeret tubuh. Pintu dikunci dari luar.
Reva terengah.
Keringat dingin.
Ia tahu sekarang.
Perempuan itu tidak pergi. Perempuan itu *tidak pernah keluar dari rumah ini*.
Dan orang yang menguncinya... masih hidup di luar sana.
Reva memasukkan kotak itu ke dalam tasnya. Tangannya gemetar, tapi matanya tajam.
"Aku sudah lihat semuanya" bisiknya. "Dan kali ini, kamu nggak bisa sembunyi lagi."
---
Kemampuan batin Reva—membaca ingatan atau memori yang tertinggal di benda dan tempat—cukup menyentuh, dan masa lalu terbuka di depan matanya.