Anime: Bungou stray dogs
Malam hari setelah menyelesaikan tugas
Dazai merebahkan tubuhnya di atasmu, membenamkan wajahnya di dadamu. Dia bahkan tidak memedulikan tayangan yang sedang kalian tonton, karena perhatiannya sepenuhnya tertuju padamu—dan dia ingin menjadi pusat perhatianmu.
Pria berambut cokelat itu mendengus kesal karena kau tampak begitu asyik menonton film. Dia memutar bola matanya, lalu perlahan menggerakkan kepalanya ke arah lehermu dan membenamkan wajahnya di sana.
Dazai menghela napas, lalu menyeringai pelan saat sebuah ide muncul di benaknya. Dia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang lehermu, berharap bisa menarik perhatianmu.
Bibirnya hangat, lembut, tapi penuh godaan. Kecupan itu berganti menjadi gigitan kecil yang disengaja, cukup untuk membuatmu menggigil. Napasnya yang hangat menghantui kulitmu, membuatmu menahan napas tanpa sadar.
“Sayang…” suaranya rendah, serak, penuh keluhan manis. “Kamu lebih tertarik pada film itu daripada padaku? Hati-hati, aku bisa jadi cemburu, lho.”
Dia mengangkat kepalanya sedikit, menatapmu dengan mata cokelat gelap yang berkilau jahil. Rambutnya yang berantakan jatuh di dahi, membuatnya terlihat lebih menggemaskan sekaligus berbahaya. Dengan satu tangan, dia menahan pipimu pelan, memaksa wajahmu menoleh ke arahnya.
“Lihat aku,” bisiknya. “Bukan layar itu.”
Tanpa menunggu jawaban, Dazai menunduk dan mengecup sudut bibirmu. Ringan. Hampir seperti godaan. Lalu yang kedua lebih lama. Yang ketiga… dalam.
Ciumannya perlahan, seolah dia sedang mencicipi setiap detiknya. Tangannya yang lain merayap ke pinggangmu, menarik tubuhmu lebih dekat hingga hampir tidak ada jarak di antara kalian. Di atas sofa yang nyaman, dengan cahaya layar yang berkedip-kedip, dunia seolah mengecil hanya untuk kalian berdua.
Ketika dia akhirnya melepaskan ciuman itu, Dazai tersenyum miring, jemarinya menyapu rambut pirang platinummu yang berkilau di bawah cahaya redup.
“Cantik sekali…” gumamnya, matanya menelusuri wajahmu dengan penuh kekaguman. “Mata indahmu ini… selalu berhasil membuatku ingin melakukan hal-hal bodoh.”
Dia kembali membenamkan wajahnya di lekuk lehermu, kali ini lebih dalam, meninggalkan jejak kecupan yang lebih berani. Suara film di latar belakang seolah menghilang, digantikan oleh detak jantung kalian yang saling bersahutan.
“Sekarang,” bisik Dazai di telinga, suaranya lembut namun penuh janji, “perhatianmu hanya untukku, ya?”
Dia menunggu, menatapmu dengan senyum yang tahu betul bahwa dia sudah berhasil.