Sudah hampir satu minggu Hankiz tidak pulang.
Adonis mulai bosan.
Sebenarnya tidak ada keadaan darurat. Tidak ada perang, tidak ada misi, bahkan tidak ada rapat penting.
Tapi Adonis punya solusi sederhana.
Ia mengirim pesan.
> Adonis: Hankiz, pulang. Penting.
Hankiz yang membaca pesan itu langsung curiga.
> “Penting?”
Tanpa banyak bertanya, ia segera pulang.
Begitu sampai rumah, Hankiz langsung mencari ayahnya.
Adonis sedang duduk santai di sofa sambil membaca koran.
> Hankiz: “Ayah bilang ada yang penting?”
Adonis membalik halaman koran.
> Adonis: “Nggak ada.”
Hankiz terdiam.
> “...”
> “Lalu kenapa aku disuruh pulang?”
Adonis masih santai.
> “Kau satu minggu tidak pulang.”
Hankiz menatapnya tidak percaya.
> “Jadi Ayah menyuruhku pulang cuma karena itu?”
> “Hm.”
> “Aku kira ada masalah!”
Adonis menurunkan korannya.
> “Memang ada masalah.”
Hankiz langsung serius.
> “Apa?”
Adonis menatapnya datar.
> “Ayah bosan.”
Hankiz:
> “...”
Dari sudut ruangan, Freya sudah tahu situasinya akan semakin kacau.
Ia melirik Kaito.
> Freya: “Kaito.”
> “Hm?”
> “Temenin Ibu ngopi. Ibu capek.”
Kaito langsung berdiri.
> “Yuk. Aku juga mau makan. Lapar lihat Kakak sama Ayah.”
Mereka berdua pergi.
Tidak ada debat.
Tidak ada usaha melerai.
Yang waras memilih minggir. 🤣
---
Beberapa detik kemudian...
> Hankiz: “Ayah tuh memang—!”
> Adonis: “Memang kenapa?!”
> “Nyuruh orang pulang pakai kata penting, ternyata cuma karena gabut!”
> “Kau sudah seminggu tidak pulang!”
> “Aku punya kesibukan!”
> “Ayah juga!”
> “Kesibukan baca koran?!”
Adonis perlahan menurunkan korannya.
> “Berani sekali.”
Hankiz:
> “Memang kenyataan!”
Adonis berdiri.
> “Kau mau cari ribut?”
Hankiz mengambil bantal sofa.
> “Ayo.”
DUAK!
Bantal langsung menghantam wajah Adonis.
Hening.
Adonis perlahan mengambil bantal lain.
> “Baik.”
PERANG BANTAL DIMULAI.
Bantal terbang ke segala arah.
Sofa bergeser.
Selimut jatuh.
Hankiz tertawa.
> “Kena!”
> “Kau curang!”
> “Namanya strategi!”
Mereka terus berperang tanpa sadar bahwa Freya dan Kaito sudah lama lenyap.
---
Sementara itu di kedai kopi...
Freya menyeruput kopinya dengan tenang. ☕
Kaito makan dengan lahap.
> Kaito: “Ibu.”
> “Hm?”
> “Keputusan kita pergi tadi bagus.”
Freya tersenyum.
> “Sangat.”
Dari kejauhan terdengar samar:
> “HANKIZ!”
> “AYAH!”
Freya menyeruput kopi lagi.
> “Jangan pulang dulu.”
Kaito mengangguk.
> “Setuju.”
---
Beberapa waktu kemudian, perang akhirnya selesai.
Hankiz mengambil barangnya.
> “Aku pulang.”
Adonis sudah kembali tenang.
> “Hm.”
Hankiz pergi.
Pintu tertutup.
Adonis melihat ruang tamu yang berantakan.
Ia mengambil bantal.
Meletakkannya kembali.
Merapikan sofa.
Kemudian...
duduk.
📰
Membuka koran.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
---
Freya dan Kaito akhirnya pulang.
Freya membuka pintu.
Semuanya sudah rapi.
Adonis duduk santai membaca koran.
Kaito melihat sofa.
> “Ayah?”
> “Hm?”
> “Tadi perang?”
Adonis membalik halaman koran.
> “Tidak.”
Kaito melihat Freya.
Freya melihat sofa.
Lalu melihat Adonis.
> “Oh.”
Freya tersenyum.
😊
> “Kalau begitu Ibu masuk kamar.”
Kaito:
> “Aku ikut.”
Mereka pergi.
Adonis kembali membaca koran.
📰
Tidak ada yang membahas perang bantal.
Karena begitulah keluarga Adonis.
Adonis dan Hankiz ribut.
Freya dan Kaito minggir.
Lalu semuanya kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa. 🤣🤣