Aku berdiri di depan para juri dan peserta. Dari banyak orang terdapat guru pendamping di tempat duduk menatap aku yang tertekan di sini. Para juri seolah memberikan tahu bahwa aku sendiri ditatap orang-orang yang ingin menghakimiku jika salah.
Aku memulai presentasi suara samar keluar dari bibir, mataku tak berani menatap para penonton di sana. Pandangan mengarah kebawah melihat tali sepatu yang tak terpasang rapi.
Tanganku mulai dingin, gemetar ketakutan, suaraku mulai gagap hingga aku lupa apa yang dibicarakan. Aku menatap layar proyektor cahaya layar itu menyentuh wajahku.
Aku tergesa-gesa membaca apa yang aku lihat hingga tak memalingkan wajahku. Aku mengacaukan presentasinya, mengacaukan harapan orang-orang yang mendukung.
Presentasi tetap berjalan dengan suara gagap. Pikiranku tidak pada apa yang aku ucapkan tapi pada seberapa aneh aku, aku melakukan kesalahan, dan bagaimana ini?. Semua berputar terus menerus.
Waktu terasa melambat sangat lambat bagaimana bisa waktu yang sama tapi bisa berbeda. Cara bicara mulai cepat aku terburu-buru hingga kata yang salah muncul. Tubuhku semakin dingin, wajah ku memerah, telinga panas, Pandanganku tak jelas.
Dengan tangan yang sedingin es dan dari dalam diriku yang berdebar aku merasakan semua melihat, menatap bahwa aku salah. Aku semakin menenangkan diri. 'Tidak apa, kamu bisa,' kata itu terus aku ulang. Tapi itu tidak memperbaiki malah menambah parah.
Presentasiku selesai. Aku berharap ketenangan yang menghampiri tapi harapan tetaplah harapan. Setelah ini mereka aku memberi pertanyaan. Pertanyaan yang memojokkanku hingga aku tak bisa menjawab.
Aku diam semua melihat aku tak mengerti apa yang mereka tanyakan. Apa berfikir apa ini apa kapan selesai. Ketakutan semakin menjadi tubuhku kaku diam takut bagaimana juri terus mendesaku memaksaku menjawab.
Aku menjawab dengan gugup semua jawabanku berputar-putar. Hingga waktu selesai.
Aku turun dari panggung tapi tidak semua selesai aku jatuh secara batin. Aku lelah takut, tangan yang dingin semakin dingin, jiwa yang bergetar semakin kuat untuk keluar. Ketakutan terus menghantui.
Kesalahan demi Kesalahan berputar-putar tidak ada ujung semua itu sangat menyakitkan. Semua berisik. Semakin lama pandanganku kabur, pelan-pelan warna hitam terus bertambah hingga aku menutup mataku.
Beep-beep! Beep-beep!
Suara alarm mengganggu tidur dengan cepat aku terbangun. Aku merasa aku baru saja bermimpi, bermimpi sesuatu yang cukup menakutkan.
Sinar matahari menyinari wajah dengan Rambut yang berantakan, wajah yang lelah tercetak jelas di sana. Aku membuka hpku yang sekarang menunjukkan jam 06.38. Aku terkejut, spontan berdiri, berjalan sempoyongan seperti orang mabuk berjalan ke arah kamar mandi.
Setiap langkah yang kulakukan selalu keluar makian dari mulutku. 'Sial, sial, sial,' Kata itu terus ku ulang-ulang.
Sial hari ini aku ada presentasi betapa cerobohnya aku bangun terlambat dengan terburu-buru aku bersiap. Aku memakai bajuku secepat kilat, menyiapkan semua barang yang akan dibawa. Aku berlari keluar dengan langkah tunggang langgang.