Ibunya Barra, selalu tahu cara memainkan perannya dengan sempurna. Setiap kali berkunjung, ia memeluk Aca dengan erat, mengelus rambut menantunya itu, dan membawa oleh-oleh dengan wajah penuh kasih.
"Barra, kamu jangan biarkan Aca kecapekan ya. Lihat tuh, mukanya agak pucat. Kamu harus lebih perhatian lagi sama istri kamu," ujar ibu mertua lembut saat makan malam, mengusap bahu Aca manis.
Di balik senyum cantiknya, Aca hanya mengangguk sopan. Ia sudah tahu persis tabiat asli ibu mertuanya. Di belakangnya, terutama saat mengobrol dengan para kerabat dan tante-tante Barra, dia tak pernah berhenti mencibir. Dia terbakar cemburu melihat bagaimana Barra meratukan Aca. Baginya, Barra yang memotongkan buah untuk Aca, mengambilkan minum, hingga melarang Aca mengangkat barang berat adalah pemandangan yang menyakitkan. Ia merasa sebagai ibu kandung, dialah yang seharusnya dilayani dan diratukan seperti itu oleh anak laki-lakinya.
"Dasar Aca itu manja," keluhnya suatu sore di rumah salah satu kerabatnya. "Masa cuma ambil minum saja harus Barra yang ambilkan? Barra itu dibikin seperti pembantu. Dulu waktu sama aku, Barra enggak pernah seperti itu. Aca pintar sekali! pakai pelet sampai anakku begitu."
Aca mengetahui semua gunjingan itu karna dia tidak sengaja pernah dengar pembicaraan mertuanya kepada saudara-saudaranya. Namun, Aca memilih diam dan membiarkan fakta berbicara.
Suatu hari, Mertuanya kembali melancarkan aksinya saat berkunjung. Ia sengaja menghela napas panjang di depan Barra. "Barra sayang, Ibu itu cuma khawatir sama Aca. Kasihan dia kalau terus-terusan kamu manjakan, nanti yang kena efeknya itu Barra. Lagi pula, masa kamu yang nyuci baju dan membersihkan rumah? Harusnya kan istri yang melayani suami, kamu udah capek, malem juga kamu masih kerja, ibu tuh kasihan sama kamu Barr... Nanti gimana kalau kalian udah punya anak? Masa masih begini terus? Biar pekerjaan rumah itu Aca yang ngerjain, kamu itu fokus kerja aja."
Ia tersenyum keibuan, berharap Barra akan tersadar dan mulai menegur istrinya. Namun, Barra justru meletakkan cangkir tehnya dengan tenang dan menatap ibunya lurus-lurus.
"Ibu," panggil Barra lembut namun tegas. "Barra memanjakan Aca karena Aca adalah tanggung jawab Barra, Barra juga merasa rezekiku semakin lancar ketika Barra tidak memperbolehkan Aca kerja, jadi Barra mohon ke ibu agar tidak campur urusan rumah tangga Barra"
Ibunya tersentak, wajahnya mendadak kaku.
"Lagipula, Barra sudah tahu semuanya, Bu," lanjut Barra sambil menggenggam tangan Aca yang duduk di sampingnya. "Barra tahu apa yang Ibu katakan tentang Aca di depan Tante Rini dan kerabat lain minggu lalu. Barra minta tolong ya, Bu... jangan jelek-jelekkan istri Barra lagi. Mendoakan yang baik untuk menantu Ibu sendiri jauh lebih terhormat daripada mengghibah di luar."
Ruang tamu seketika hening. Ibunya tertunduk malu, tak mampu lagi menyembunyikan wajah iri dan salah tingkahnya di hadapan anak dan menantu yang saling melindungi itu.