Aku menatap jam di dinding, waktu telah menunjukkan pukul 23.00 dan sekarang sudah hampir tengah malam. Sayangnya mataku tak juga mau terpejam, pikiranku terus mengingat kejadian sore tadi...
'Jika kamu menyayangi Reinhard, tolong kamu pergi darinya... Saya tahu jika dia tidak mau pergi meninggalkanmu Fiona, kalian bukan dari kasta yang sama dan saya tidak mau putra saya menderita di kemudian hari'
Mataku terpejam mengingat kalimat itu, dan dadaku rasanya sesak menerima ucapan itu. Aku tahu aku tidak sekaya mereka tapi apa itu harus diucapkan begitu tajam, seolah-olah keberadaanku saja sudah menjadi kesalahan yang tak bisa dimaafkan?
Tidak bisakah hanya berkata 'saya tidak berkenan kamu dengan putra saya, jadi tolong mengertilah'? Mungkin kalimat itu tidak akan terlalu menyakiti hatiku, tidak akan membuatku merasa seperti debu yang tak pantas berdiri di lantai rumah megah itu.
Krieett..
Kudengar pintu kamar terbuka dengan pelan, lalu sesaat setelahnya langkah kaki berjalan mendekat. Langkah itu berat namun lembut, seolah takut menimbulkan suara yang bisa memecah keheningan malam. Aku tahu itu Kak Daniel, kakak pertamaku. Dia yang memang sering masuk kamarku dan memastikan apakah adiknya sudah tidur atau belum, terutama saat aku terlihat tak tenang.
"Kakak tau, kamu belum tidur Fi," ucapnya dengan nada yang sangat lembut, lalu duduk perlahan di pinggir tempat tidur. Kasur itu sedikit tertekan di bawah berat badannya, dan aroma sabun kayu yang selalu ia pakai menyelimuti ruangan, membawa rasa aman yang jarang kurasakan belakangan ini.
Aku yang mendengar ucapan itu langsung membuka mata... Menatapnya yang langsung tersenyum lembut, senyum yang selalu sama seperti saat kami masih kecil, senyum yang seakan mampu menampung segala luka di hatiku. "Ada apa? Kakak perhatiin dari tadi siang kamu lebih diam daripada biasanya," katanya pelan, matanya menatapku penuh perhatian.
Dia merebahkan tubuhnya di sampingku lalu menatap langit-langit kamar, tangannya bergerak pelan menyisir rambutku yang terurai di atas bantal. Aku tidak langsung menjawab, mataku menatap arah yang sama seperti Kak Daniel, seakan di sana ada jawaban yang bisa menjelaskan semua kegelisahan ini. "Aku nggak apa-apa kok, Kak," jawabku dengan suara kecil lalu menoleh dan tersenyum tipis, senyum yang kurasa lebih mirip dengan kepura-puraan.
Kak Daniel menatapku, dia membaca raut wajahku dan menelisik mataku lebih dalam lagi, seakan ingin melihat apa yang tersembunyi di balik sorot mata itu. "Berantem ya sama Rein? Tadi sore dia tanyain kamu sama Kakak," katanya dengan nada yang sangat lembut, tanpa nada menuduh, hanya penuh kekhawatiran.
Aku terdiam mendengar pertanyaan Kak Daniel. Aku memang sengaja tidak memberitahunya apa yang sudah terjadi dan langsung pulang tanpa menoleh sedikit pun. Aku sudah sangat sakit hati dengan ucapan ibunya, melihat wajah Reinhard saat itu—terkejut, bingung, tak mampu berkata apa-apa—membuat dadaku semakin terasa sempit. Melihatnya dan bertemu lagi dengannya akan membuatku sakit, bahkan semakin sakit, seakan luka yang baru saja mulai mengering itu kembali dikoyak.
Kupejamkan mata ketika tangan Kak Daniel mengelus lembut pucuk kepalaku, sentuhan itu penuh kasih sayang, menenangkan setiap serat kecemasan yang merayap di tubuhku. "Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau cerita sama Kakak, tapi nanti kalau mau cerita bilang ya. Jangan pendem semuanya sendiri, ya? Kakak di sini," katanya dengan nada suara yang sangat lembut, hampir berbisik, namun setiap kata itu terasa begitu kuat menembus rasa sakit yang kurasakan.
Aku mengangguk kecil lalu memeluknya dari samping dan menyandarkan kepala di pundak Kak Daniel, menghirup aroma kehangatan yang selalu ia berikan. Satu lengannya ia arahkan agar menjadi bantal kepalaku, melindungiku seolah tak ada hal buruk yang mampu menyentuhku selama dia ada di sampingku. "Tidur ya, udah malam," ucapnya pelan, lalu mencium pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.
Lagi-lagi aku mengangguk lalu memejamkan mata dan mulai tertidur sambil memeluk tubuh kekar Kak Daniel, berharap saat mata ini terbuka esok hari, semua rasa sakit dan kata-kata tajam itu sudah hilang seperti kabut pagi yang tersapu angin. Namun jauh di dalam hatiku, aku tahu ini bukan akhir—hanya jeda singkat sebelum aku harus menghadapi kenyataan yang semakin sulit untuk dihindari.