Bagi sebagian orang, ingatan usia delapan bulan adalah ruang hampa yang tak berjejak. Namun bagiku, peristiwa di Tangerang malam itu seperti membekas dalam memori bawah sadar—sebuah awal dari perjalanan panjang tanpa kompas.
Malam itu, rumah kami yang tenang mendadak riuh. Ibu sedang meninabokankanku, sementara Kakak—yang baru berusia tujuh tahun—sedang duduk di sudut ruang tamu. Bapak sedang tidak ada di rumah. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk keras, disusul derap langkah berat yang memaksa masuk.
Beberapa pria berbadan tegap berpakaian dinas polisi menggeledah setiap sudut. Kasur dibongkar, lemari diacak-acak, dan lantai diperiksa. Di sana, tersembunyi barang haram berupa paket-paket sabu dan tumpukan uang tunai milik Bapak.
Ibu, yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang disimpan Bapak di rumah, hanya bisa menangis histeris sambil memelukku erat. Karena Bapak tak kunjung pulang—setelah mendapat peringatan untuk bersembunyi—polisi akhirnya membawa Ibu, Kakak, dan aku yang masih bayi ke kantor polisi.
Kami yang masih sangat kecil akhirnya dikeluarkan dari pemeriksaan dan dititipkan sementara ke pihak keluarga. Namun, itu adalah kali terakhir aku merasakan hangatnya pelukan Ibu. Tanpa kutahu, hari itu menjadi awal dari perpisahan panjang yang tak pernah kujumpai ujungnya.
Tak lama setelah kejadian malam itu, Bapak kembali. Namun bukannya menyelesaikan masalah atau mencari keberadaan Ibu, Bapak justru mengambil keputusan cepat yang mengubah takdir kami.
Bapak membawa Kakak dan aku melarikan diri jauh meninggalkan Tangerang, menyeberangi pulau menuju Sumatra. Sepanjang perjalanan, aku yang masih balita tak paham mengapa kami harus terus berpindah tempat dan bersembunyi dari bayang-bayang.
Hingga suatu hari di Sumatra, perjalanan kami terhenti di depan sebuah bangunan berpagar tinggi dengan halaman yang luas. Sebuah Panti Asuhan.
"Kalian tinggal di sini dulu ya," mungkin itu kalimat yang tersirat saat Bapak menyerahkan kami kepada pengurus panti.
Bapak pergi, meninggalkan aku dan Kakak di tempat asing itu. Di panti asuhan itulah aku menghabiskan masa kecilku dari usia balita hingga sekitar 4 sampai 6 tahun. Di saat anak-anak lain tertidur dalam dekapan ibu atau tertawa bersama ayah mereka, aku dan Kakak belajar bertahan hidup dalam kesederhanaan dan pertanyaan yang terus bergema di kepala: Ke mana Ibu? Dan kapan Bapak akan menjemput kami kembali?
Panti asuhan di Sumatra itu tidak terasa seperti tempat pembuangan bagiku. Malah sebaliknya, di sanalah aku menemukan rasa aman.
Di tempat itu, aku tidak merasa sendirian karena ada Kakak dan banyak teman-teman sebayaku. Sejak kecil kami dididik dengan kedisiplinan yang luar biasa. Bayangkan saja, di usia lima tahun, ketika anak-anak lain mungkin masih merengek dibangunkannya Ibu, kami sudah terbiasa terbangun jam lima subuh.
Kami diajarkan bangun sendiri, merapikan tempat tidur, beribadah bersama, dan bersiap-siap untuk pergi sekolah. Rutinitas itu terasa begitu teratur, penuh kehangatan, dan memberikan kepastian—hal yang paling kukutuhkan sejak bayi. Bagiku yang masih anak-anak saat itu, panti asuhan adalah dunia yang aman dan menyenangkan.
Hari-hari tenang di panti asuhan itu ternyata harus berakhir ketika aku menginjak kelas 1 SD dan Kakakku berada di kelas 4 SD.
Suatu hari, sosok yang telah lama menghilang itu datang kembali. Bapak memutuskan untuk membawa kami keluar dari panti asuhan. Perpisahan dengan teman-teman dan pengurus panti rasanya begitu mendadak, membuat dadaku sesak oleh kebingungan.
Bapak membawa kami ke sebuah rumah baru. Namun, bukannya pelukan hangat Ibu asli yang menyambut kami, di sana ada sosok wanita lain—Ibu tiri kami—serta Nenek, ibu dari Bapak.
Segalanya terasa sangat canggung dan asing. Perubahan lingkungan dari panti asuhan yang serba teratur dan disiplin ke suasana rumah yang baru ini membuatku merasa linglung. Aku harus beradaptasi dengan wajah-wajah baru, aturan rumah yang berbeda, dan kenyataan bahwa inilah hidup baru yang harus kukenal, sambil tetap memendam pertanyaan besar: Apakah ini rumah yang sesungguhnya untukku dan Kakak?