Misi Menyelamatkan Makan Siang
Dapur keluarga Aron pagi itu seharusnya menjadi tempat memasak makan siang.
Seharusnya.
Namun kenyataannya, sayuran berserakan di lantai, beberapa bumbu tumpah di meja, dan Liana berdiri di tengah kekacauan dengan wajah yang jelas-jelas tidak sedang ingin bercanda.
Sementara itu, Bubu menangis.
“AYAH....!!!!!”
Suara Liana menggema ke seluruh rumah.
“Kenapa buat Bubu nangis?! Sekarang kita tidak punya makan siang!” 😤
Aron hanya bisa terdiam.
Ia pernah menghadapi banyak hal dalam hidupnya.
Namun menghadapi Liana yang marah sambil dikelilingi sayuran tumpah ternyata jauh lebih menakutkan.
Di tengah suasana genting itu, Almar yang baru berusia dua tahun muncul sebagai juru damai.
Ia menatap Ayahnya.
“Ayah.”
“Hm?”
“Minta uang.”
Aron mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Beli makanan.”
Almar menunjuk dapur.
Sebentar lagi kakak-kakaknya pulang sekolah.
“Kalau tidak ada makanan…”
Ia berhenti, lalu mengucapkan kalimat yang membuat semua orang diam.
“Akan terjadi bencana.”
Aron menatap anaknya.
Adonis menatap Almar.
Liana juga menoleh.
Tidak ada yang tahu apakah mereka harus tertawa atau percaya.
Akhirnya Aron memberikan uang.
Namun Almar tidak pergi sendirian.
Ia pergi bersama Adonis.
Dan di situlah kesalahan terbesar Adonis dimulai.
“Paman,” kata Almar dengan wajah serius, “beli ayam dua puluh.”
Adonis hampir tersedak.
“DUA PULUH?”
“Tambah salad dua puluh.”
“Almar!”
“Roti dua puluh.”
Adonis menatap bocah dua tahun di depannya.
“Kita mau memberi makan keluarga atau satu kerajaan?”
“Keluarga.”
Jawaban Almar begitu tenang sampai Adonis tidak mampu membantah.
Akhirnya mereka membeli semuanya.
Ayam dua puluh porsi.
Salad dua puluh porsi.
Roti dua puluh porsi.
Dan yang paling menarik…
Semua itu dibayar oleh Adonis.
Sementara uang yang diberikan Aron?
Almar menyimpannya dengan aman.
Ia tersenyum kecil.
“Uang jajan aman.”
Adonis langsung menoleh.
“ALMAR!”
Namun Almar sudah berjalan pergi dengan wajah polos.
“Jangan khawatir, Paman,” katanya.
“Uang yang hilang untuk dimakan akan kembali lebih banyak.”
Adonis terdiam.
“Kamu umur berapa?”
“Dua.”
“Kenapa bicaramu seperti penasihat keuangan kerajaan?”
Almar tidak menjawab.
Ia hanya berjalan pulang.
Di rumah, Aron ternyata juga tidak selamat dari strategi anak keduanya.
Almar mendekatinya.
“Ayah kepala keluarga.”
“Iya.”
“Tidak boleh terlalu hemat.”
Aron mulai curiga.
“Kenapa?”
“Nanti rumah bisa rubuh.”
“...Apa hubungannya?”
Almar menjelaskan dengan logika bocah dua tahun.
“Kalau Ayah hemat, makanan sedikit.”
Aron diam.
“Kalau makanan sedikit, kakak lapar.”
Aron masih diam.
“Kalau kakak lapar, kakak ribut.”
Adonis mulai menahan tawa.
“Kalau kakak ribut…”
Almar menunjuk rumah.
“Rumah bisa rubuh.”
Aron menatap langit-langit.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa teori ekonomi seorang anak berusia dua tahun mungkin lebih berbahaya daripada teori perang.
Namun Almar belum selesai.
“Jangan lupa Ibu.”
Aron menoleh.
“Kenapa Ibu?”
“Ibu harus makan banyak.”
“Berapa banyak?”
“Empat.”
“EMPAT?”
Almar mengangguk.
“Ibu harus kuat merawat kakak-kakak.”
Ia kemudian menunjuk dirinya sendiri.
“Almar dua.”
“Kenapa kamu dua?”
“Almar masih kecil.”
Adonis akhirnya tidak tahan.
“Terus Bubu?”
“Bubu dua.”
Bubu yang sejak tadi berada di dekat Aron langsung mengangguk.
“Bu!”
Almar tersenyum puas.
“Yang lain satu.”
“Kenapa?”
“Mereka besar.”
Aron menghela napas.
Sekarang ia mengerti.
Dua puluh porsi makanan bukan pemborosan.
Itu adalah sistem pertahanan keluarga.
Sebab Almar telah menemukan satu hukum alam yang tidak pernah tertulis di buku mana pun:
Anak lapar akan ribut.
Dan keluarga Aron memiliki delapan anak.
Ditambah Bubu.
Kalau Bubu sampai menangis, keadaan akan jauh lebih buruk.
Maka Almar mengambil keputusan terakhir.
“Semua harus makan.”
Liana yang mendengar itu tersenyum.
“Anak Ibu pintar.”
Almar tersenyum bangga.
Ia sudah berhasil menyelamatkan makan siang.
Menyelamatkan ketenangan rumah.
Menyelamatkan tenaga ibunya.
Dan yang paling penting…
uang jajannya tetap aman. 😌💰
Di keluarga Aron, badai mungkin bisa berlalu.
Namun satu hal tidak boleh terjadi.
Bubu jangan sampai menangis.
Karena kalau Bubu menangis…
delapan anak akan ribut,
Liana akan marah,
Aron akan pusing,
Adonis akan kehilangan uang,
dan Almar akan menyimpulkan dengan tenang:
“Makanya beli ayam dua puluh.”