Aldi adalah anak kedua dalam keluarganya.
Kakaknya, Reza, telah menikah dan mendapatkan sebuah rumah warisan.
Keluarga mereka memiliki tiga rumah.
Aldi tidak pernah mempersoalkan pembagian tersebut.
Ia belum menikah dan masih tinggal sederhana.
Namun kehidupan Reza mulai kacau setelah mengenal perjudian.
Rumah yang diwariskan kepadanya perlahan kehilangan isinya.
Aldi sering datang melihat keadaan kakaknya.
“Bang, berhentilah.”
Reza hanya menjawab,
“Sekali lagi. Setelah menang, aku berhenti.”
Tetapi kemenangan yang ditunggu tidak pernah datang.
Kemudian sesuatu yang tidak pernah diduga Aldi terjadi.
Ia memenangkan undian.
Nilainya 184 M mata uang asing.
Aldi tidak percaya.
Setelah seluruh proses selesai, uang tersebut benar-benar menjadi miliknya.
Ia membeli rumah mewah dengan halaman luas.
Ia membeli perabot yang nyaman.
Ia membeli mobil.
Namun setelah semua itu, masih ada 105 M mata uang asing.
Alih-alih menghabiskan uang, Aldi membuat sebuah keputusan.
Ia ingin menggunakan kekayaannya untuk membangun masa depan.
Ia menyimpan dana untuk kebutuhan jangka panjang dan mulai mengembangkan beberapa usaha.
Suatu hari Reza datang.
“Kau sekarang sudah berbeda.”
Aldi tertawa.
“Rumahku yang berbeda. Aku tetap sama.”
Reza tersenyum.
“Aku iri.”
“Aku tahu.”
“Kenapa kau tidak marah?”
“Karena iri itu perasaan. Yang penting jangan menjadikannya alasan untuk menyakiti orang.”
Reza terdiam.
Kemudian ia berkata,
“Aku ingin berubah.”
Aldi mengulurkan tangan.
“Kalau begitu, mulai hari ini.”
Reza menggenggam tangan adiknya.
Tidak ada uang yang diberikan.
Tidak ada kemewahan yang dipamerkan.
Hanya sebuah kesempatan untuk memulai kembali.
Beberapa tahun kemudian, Reza berhasil memperbaiki kehidupannya.
Aldi pun tetap menjaga kekayaannya.
Suatu sore, kedua saudara itu duduk di teras rumah Aldi.
Reza memandang halaman luas di depan mereka.
“Kalau dulu Ayah melihat kita sekarang, kira-kira apa yang akan dikatakannya?”
Aldi tersenyum.
“Mungkin Ayah akan bilang, rumah itu bukan yang paling penting.”
“Lalu?”
“Orang yang ada di dalamnya.”
Reza mengangguk.
Mereka kemudian tertawa.
Aldi mendapatkan 184 M karena sebuah undian.
Ia membeli rumah mewah, perabot, dan mobil.
Masih tersisa 105 M.
Namun pada akhirnya, ia menemukan bahwa kekayaan terbesar bukanlah uang tersebut.
Kekayaan terbesar adalah ketika ia bisa menikmati keberuntungan tanpa kehilangan keluarga.
Dan rumah mewah yang menghadap masa depan itu akhirnya menjadi tempat dua saudara belajar bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling kaya.
Hidup adalah tentang apa yang kita lakukan setelah mendapatkan kesempatan.
TAMAT