Di kota Tokyo, ada satu nama yang hampir tidak pernah disebut dengan suara keras.
Kurogane Yakuzanta.
Bagi dunia luar, dia adalah pria yang dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Tatapannya saja cukup membuat orang-orang di sekitarnya terdiam.
Ia merupakan salah satu pemimpin kelompok yakuza yang paling disegani.
Setiap orang yang bekerja di bawahnya tahu satu aturan sederhana:
Jangan membuat Yakuzanta marah.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang.
Di balik tembok tinggi sebuah rumah besar di pinggiran Tokyo, pria yang sama ternyata memiliki kehidupan yang sangat berbeda.
Dan kehidupan itu berisi tiga anak.
“AYAH!”
Suara teriakan menggema dari lantai dua.
Yakuzanta yang baru saja membuka pintu rumah berhenti melangkah.
Wajahnya masih datar.
Jas hitamnya masih rapi. Sarung tangannya belum dilepas. Beberapa anak buahnya bahkan masih berdiri di luar menunggu perintah.
Namun suara berikutnya membuat alisnya sedikit bergerak.
“AYAH! KAKAK NYALAIN AIR DI KAMAR MANDI!”
“BUKAN AKU!”
“TERUS SIAPA?!”
“ADIK!”
“AKU LAGI MAKAN!”
Yakuzanta memejamkan mata.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam.
Salah satu anak buahnya menundukkan kepala.
“Tuan... apakah kami perlu membantu?”
“Tidak.”
Yakuzanta berjalan masuk.
“Ini urusan rumah.”
Anak buahnya saling pandang.
Mereka tidak pernah melihat pemimpin mereka menghadapi sesuatu yang lebih menakutkan daripada musuh.
Tiga anak kecil.
Begitu Yakuzanta menaiki tangga, seorang anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun langsung berlari menghampirinya.
“Ayah!”
Yakuzanta menatapnya.
“Apa?”
Anak itu menunjuk ke arah kamar mandi.
“Riku menyalakan air sampai lantainya banjir!”
Dari belakang terdengar suara lain.
“AKU CUMA MAU MENCOBA!”
Yakuzanta menarik napas panjang.
“Riku.”
Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun muncul dengan rambut berantakan.
“Ya, Ayah?”
“Matikan airnya.”
Riku terdiam.
“...Sudah.”
“Bagus.”
Yakuzanta berjalan melewatinya.
Kemudian ia berhenti.
“Kenapa lantainya basah?”
Riku tersenyum kaku.
“Karena... airnya keluar.”
Yakuzanta menatapnya selama beberapa detik.
“Logika yang sangat bagus.”
Riku langsung menundukkan kepala.
Dari ruang tengah, anak ketiga tiba-tiba muncul sambil membawa boneka kecil.
“Ayah pulang!”
Berbeda dari kedua kakaknya, anak itu masih sangat kecil.
Ia berlari ke arah Yakuzanta dan memeluk kakinya.
“Ayah pergi lama.”
Tatapan Yakuzanta berubah sedikit.
Hanya sedikit.
Namun ketiga anaknya sudah mengenal perubahan kecil itu.
Ia berjongkok dan mengangkat anak tersebut.
“Maaf.”
Anak kecil itu menyandarkan kepala di bahunya.
“Ayah kerja lagi?”
“Iya.”
“Kerja yang serem?”
Yakuzanta diam.
Ia tidak pernah menjelaskan kepada anak-anaknya pekerjaan sebenarnya.
Bagi mereka, ayah mereka hanya seorang pria yang sering pergi keluar rumah dengan pakaian hitam dan pulang larut malam.
“Bukan pekerjaan yang perlu kamu pikirkan.”
Anak itu mengangguk.
Lalu dengan polos bertanya,
“Ayah jahat nggak?”
Ruangan mendadak sunyi.
Dua kakaknya berhenti bertengkar.
Yakuzanta menatap anak kecil di pelukannya.
Pertanyaan sederhana itu justru terasa lebih berat daripada ancaman siapa pun.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena orang di luar bilang Ayah menakutkan.”
Yakuzanta tidak langsung menjawab.
Ia kemudian mengusap kepala anak itu.
“Di luar rumah, orang boleh mengatakan apa saja.”
“Terus Ayah jahat?”
Yakuzanta memandang ketiga anaknya.
“Tidak di rumah ini.”
Anak kecil itu tersenyum.
“Berarti Ayah baik!”
Yakuzanta hanya menghela napas.
“Kalian bertiga makan malam sudah?”
Ketiganya saling pandang.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Kami nunggu Ayah.”
Yakuzanta terdiam.
Ia tidak tahu bagaimana menghadapi musuh yang membawa senjata.
Tetapi menghadapi tiga anak yang menunggunya makan bersama?
Itu jauh lebih sulit.
Akhirnya ia melepas jas hitamnya.
“Baik.”
Ketiga anak itu langsung bersorak.
“Makan!”
Namun baru beberapa langkah menuju ruang makan—
BRAK!
Sesuatu jatuh dari lantai dua.
Yakuzanta menoleh perlahan.
Ketiga anaknya juga menoleh.
Riku tersenyum gugup.
“...Itu bukan aku.”
Yakuzanta menghela napas.
“Makan malam setelah kalian membereskan rumah.”
“Tapi Ayah—”
“Bersama.”
Ketiga anak itu akhirnya mengangguk.
Malam itu, tidak ada yang tahu bahwa di luar rumah, nama Yakuzanta sedang dibicarakan oleh orang-orang berbahaya.
Tidak ada yang tahu bahwa seseorang sedang mencari kelemahannya.
Dan tidak ada yang tahu bahwa rahasia terbesar sang yakuza bukanlah kekayaan, kekuasaan, atau organisasi yang dipimpinnya.
Kelemahannya berada di dalam rumah.
Tiga anak yang selalu menunggunya pulang.
Dan jika seseorang berani menyentuh mereka...
Untuk pertama kalinya, Yakuzanta mungkin akan kehilangan kendali.