Chapter 2 — Tiga Anak Pulang Sekolah
Pukul tiga sore.
Pintu rumah keluarga Kurogane terbuka dengan keras.
BRAK!
Yakuzanta yang sedang membaca dokumen di ruang tengah langsung mengangkat kepala.
Biasanya, rumah itu cukup tenang pada sore hari.
Tetapi hari ini berbeda.
Sangat berbeda.
“Aku nggak mau sekolah lagi!”
Suara seorang anak laki-laki terdengar dari depan pintu.
Yakuzanta menutup dokumennya.
“...Mereka pulang.”
Belum sempat berdiri, anak keduanya sudah masuk sambil melempar tas ke lantai.
“Aku benci sekolah!”
Yakuzanta menatap tas yang tergeletak.
“Ambil kembali.”
“Nggak mau!”
“Ambil.”
“Nggak!”
Yakuzanta menarik napas panjang.
Di luar rumah, beberapa anggota kelompoknya mungkin akan langsung gemetar hanya karena mendengar suaranya.
Tetapi di rumah sendiri?
Ia bahkan harus bernegosiasi dengan anak berusia tujuh tahun.
“Kenapa?”
“Temanku nggak mau duduk sama aku!”
Yakuzanta terdiam.
“Karena?”
“Dia duduk sama orang lain!”
“Itu alasanmu menangis?”
“Aku nggak nangis!”
Wajah anak itu sudah merah.
Matanya berkaca-kaca.
Yakuzanta memijat pelipisnya.
“Baik. Jangan menangis.”
“Aku nggak nangis!”
“Ya.”
“Aku cuma...”
Bibir anak itu mulai bergetar.
“Aku cuma kesel!”
Kemudian—
“HUAAAAAAA!”
Yakuzanta langsung menutup mata.
“...Baik.”
Belum selesai satu masalah, terdengar suara langkah kaki dari luar.
Anak sulungnya masuk.
Berbeda dengan adiknya, dia justru membawa wajah kesal.
“Ayah.”
“Apa?”
“Aku dapat nilai jelek.”
Yakuzanta mengangkat alis.
“Berapa?”
“Enam puluh.”
“Kenapa?”
“Aku lupa jawabannya.”
“Belajar.”
“Aku sudah belajar!”
“Berarti belajar lagi.”
“AYAH!”
Yakuzanta menatapnya.
“Apa?”
“Jangan jawab begitu!”
“Lalu harus bagaimana?”
Anaknya terdiam.
“...Nggak tahu.”
Yakuzanta hampir tersenyum.
Hampir.
Namun kemudian anak ketiga pulang.
Pintu terbuka perlahan.
Ia masuk sambil memeluk tas kecilnya.
Wajahnya terlihat sedih.
Yakuzanta langsung berdiri.
“Kamu kenapa?”
Anak kecil itu tidak menjawab.
Ia hanya berjalan mendekat.
Kemudian memeluk kaki ayahnya.
Yakuzanta menunduk.
“Kenapa?”
“Pensilku hilang.”
“Oh.”
“Pensil kesukaanku.”
“Besok beli lagi.”
Anak itu langsung mendongak.
“Tapi itu pemberian Ayah.”
Yakuzanta terdiam.
Dua anak lainnya ikut diam.
“...Oh.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Yakuzanta benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Ia kemudian mengangkat anak kecil itu.
“Kita cari dulu.”
“Kalau nggak ketemu?”
“Kita cari lagi.”
“Kalau tetap nggak ketemu?”
“Kita beli yang baru.”
“Tapi aku mau yang itu.”
Yakuzanta menghela napas.
“Baik. Kita cari sampai ketemu.”
Anak itu akhirnya tersenyum.
Beberapa menit kemudian, ruang tengah berubah menjadi kekacauan.
Anak pertama sedang mengerjakan ulang soal sekolah.
Anak kedua masih kesal karena masalah temannya.
Anak ketiga mencari pensilnya ke dalam tas.
Dan Yakuzanta?
Ia duduk di tengah-tengah mereka sambil mencoba menyelesaikan pekerjaannya.
“Tolong jangan berisik.”
“Ayah, aku nggak ngerti soal ini!”
“Ayah!”
“Ayah, pensilku nggak ada!”
Tiga suara berbicara bersamaan.
Yakuzanta meletakkan pulpennya.
“BERHENTI.”
Ketiganya langsung diam.
Ruangan hening.
Yakuzanta menghela napas.
“Kita satu-satu.”
Ia menunjuk anak pertama.
“Kamu.”
“Aku?”
“Kerjakan soalmu.”
“Tapi aku nggak ngerti.”
“Baca lagi.”
Anak kedua menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Kamu pergi cuci muka.”
“Kenapa?”
“Karena wajahmu masih merah.”
Kemudian anak ketiga.
“Dan kamu...”
“Iya?”
“Cari pensilmu bersama kakakmu.”
Ketiganya mengangguk.
Lima menit kemudian—
“Ayah!”
“Apa?”
“Ketemu!”
Pensil kecil itu ternyata terselip di kantong depan tas.
Yakuzanta menatap pensil tersebut.
“Kamu mencarinya di mana?”
“Di semua tempat!”
“Kantong depan?”
Anak itu diam.
“...Belum.”
Yakuzanta menatap langit-langit.
“Ya Tuhan.”
Ketiga anak itu tertawa.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka pulang sekolah, rumah itu kembali dipenuhi suara tawa.
Yakuzanta mengambil kembali pulpennya.
Ia menatap ketiga anaknya.
Berisik.
Merepotkan.
Mudah menangis.
Mudah marah.
Tetapi mereka adalah alasan rumah besar itu terasa seperti rumah.
Yakuzanta kembali membuka dokumennya.
Belum sampai lima detik—
“Ayah.”
“Apa lagi?”
“Aku lapar.”
Yakuzanta menutup matanya.
“...Kalian bertiga mau makan apa?”
“RAMEN!”
Suara mereka terdengar bersamaan.
Yakuzanta berdiri.
“Baik.”
Hari sebagai yakuza mungkin penuh dengan masalah.
Tetapi menjadi ayah dari tiga anak ternyata jauh lebih melelahkan.