Pohon yang Bertahan Terlalu Lama
Author: Lumire Lilimun
Mind-blowing;Patahhati
Jauh sebelum manusia mengenal roda.
Jauh sebelum ada kota.
Jauh sebelum seseorang menemukan bahwa kursi bisa dipakai untuk duduk sambil mengeluh tentang pekerjaan...
Ada sebuah biji kecil.
Biji itu jatuh di tanah.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang peduli.
Ia tertutup daun-daun kering.
Kemudian hujan turun.
Air meresap ke dalam tanah.
Dan sesuatu yang kecil mulai tumbuh.
Sebuah tunas.
Sangat kecil.
Dua daun mungil muncul dari tanah.
Angin meniupnya.
Tunas itu bergoyang.
Ia hampir patah.
Namun tetap berdiri.
Hari berikutnya, hujan turun lagi.
Kemudian matahari.
Kemudian hujan lagi.
Kemudian matahari lagi.
Begitulah hidupnya dimulai.
Tidak ada yang istimewa.
Ia hanya sebuah pohon kecil yang ingin tumbuh.
Sayangnya, dunia pada masa itu tidak ramah.
Suatu hari, seekor hewan besar berjalan melewatinya.
BLUK.
Tunas itu terinjak.
Ia rebah.
Diam.
Ia mengira hidupnya berakhir.
Namun beberapa hari kemudian...
ia tumbuh lagi.
Seekor herbivora datang dan menggigit daunnya.
KREK.
Satu daun hilang.
Pohon kecil itu seperti berkata,
Kenapa sih?
Tetapi tentu saja ia tidak bisa bicara.
Hanya bisa tumbuh.
Beberapa tahun berlalu.
Ia semakin tinggi.
Kemudian semakin besar.
Dan suatu hari...
dunia berubah.
Hewan-hewan raksasa mulai memenuhi bumi.
Dinosaurus.
Ada yang kecil.
Ada yang besar.
Ada yang berjalan dengan dua kaki.
Ada yang memiliki leher panjang.
Ada yang memiliki gigi seperti pisau.
Pohon itu melihat semuanya.
Seekor dinosaurus besar datang.
Ia memakan beberapa daun di bagian bawah.
Pohon itu pasrah.
Ya sudah.
Kemudian dinosaurus lain datang.
Memakan lebih banyak daun.
Ya sudah.
Kemudian seekor dinosaurus menggaruk tubuhnya ke batang pohon.
GRAAAK.
Kulitnya terkelupas.
Pohon itu ingin marah.
Tetapi apa yang bisa dilakukan pohon?
Ia tidak punya tangan.
Tidak punya kaki.
Tidak punya mulut.
Ia hanya bisa...
tumbuh.
Dan tumbuh.
Sampai suatu hari langit berubah.
Burung-burung terbang panik.
Hewan-hewan berlari.
Cahaya aneh muncul di kejauhan.
Kemudian—
DUAAAAAR!
Meteor menghantam bumi.
Gelombang panas menyapu.
Api muncul.
Langit menjadi gelap.
Pohon itu terbakar.
Daunnya hangus.
Cabang-cabangnya menghitam.
Untuk beberapa saat, ia tidak memiliki apa-apa.
Tidak ada daun.
Tidak ada bunga.
Tidak ada kehidupan.
Hanya batang hitam.
Namun hujan akhirnya turun.
Rintik pertama.
Kemudian semakin deras.
Air mengalir di atas batangnya.
Tanah menjadi basah.
Dan beberapa bulan kemudian...
sebuah tunas hijau kecil muncul.
Pohon itu tumbuh lagi.
Kalau pohon bisa menangis, mungkin saat itu ia sudah menangis.
Tetapi ia tidak punya air mata.
Jadi ia hanya...
tumbuh.
Ratusan tahun berlalu.
Kemudian ribuan.
Dinosaurus menghilang.
Bumi menjadi dingin.
Es datang.
Zaman berubah.
Pohon itu bertahan.
Musim dingin panjang.
Musim panas panjang.
Hujan.
Badai.
Petir.
Kekeringan.
Ia tetap berdiri.
Kadang ia tumbang sebagian.
Kadang cabangnya patah.
Kadang kulitnya terluka.
Tetapi setiap kali ia kehilangan sesuatu...
ia tumbuh lagi.
Kemudian manusia datang.
Awalnya hanya sedikit.
Mereka berjalan melewati hutan.
Pohon itu melihat mereka.
Manusia itu berhenti di bawah naungannya.
Seorang anak kecil duduk di dekat akarnya.
Ia makan buah.
Kemudian tidur.
Pohon itu tidak keberatan.
Untuk pertama kalinya, ia merasa senang karena keberadaannya berguna.
Beberapa generasi kemudian, manusia mulai membuat rumah.
Kemudian desa.
Kemudian kota.
Pohon itu melihat perubahan dunia dengan perlahan.
Hutan yang dulu sangat luas mulai berkurang.
Pohon-pohon di sekitarnya ditebang satu per satu.
TEK.
TEK.
BRAK.
Pohon itu mendengar suara mereka jatuh.
Ia takut.
Tetapi belum waktunya.
Entah mengapa, manusia selalu melewatinya.
Mungkin karena batangnya terlalu besar.
Mungkin karena letaknya terlalu jauh.
Atau mungkin...
memang hanya keberuntungan.
Ia terus tumbuh.
Kemudian manusia menemukan mesin.
Dan setelah manusia menemukan mesin...
dunia berubah sangat cepat.
Jalan dibangun.
Pabrik berdiri.
Kereta lewat.
Kota membesar.
Asap memenuhi langit.
Pohon itu mulai kesulitan bernapas.
Ia tidak tahu apa itu polusi.
Ia hanya tahu udara yang dulu segar kini terasa berat.
Daunnya sering tertutup debu.
Batangnya terkena asap.
Hujan terkadang turun dengan bau yang aneh.
Namun ia tetap tumbuh.
Ia tidak punya pilihan lain.
Suatu hari, seorang anak kecil berdiri di bawahnya.
Anak itu batuk karena udara.
Kemudian duduk bersandar pada batangnya.
“Di sini enak.”
Pohon itu diam.
Anak itu menatap ke atas.
“Pohonnya besar banget.”
Pohon itu ingin mengatakan,
Aku sudah ada jauh sebelum kakekmu lahir.
Tetapi tentu saja...
ia tetap diam.
Kemudian anak itu pergi.
Tahun berganti.
Anak itu menjadi dewasa.
Memiliki anak.
Memiliki cucu.
Kota semakin besar.
Mobil semakin banyak.
Gedung semakin tinggi.
Dan pohon itu...
semakin tua.
Batangnya membesar.
Cabangnya menjulang.
Akarnya menembus tanah.
Ia telah melihat begitu banyak hal.
Perang.
Perdamaian.
Kelahiran.
Kematian.
Pesta.
Tangisan.
Manusia datang dan pergi.
Tetapi ia tetap berdiri.
Sampai suatu pagi...
sebuah mobil berhenti di dekatnya.
Beberapa manusia turun.
Mereka membawa alat.
Pohon itu langsung merasa tidak nyaman.
Salah satu manusia menepuk batangnya.
“Kayunya bagus.”
Pohon itu terdiam.
...Apa?
Manusia lain mengangguk.
“Bagus banget.”
Pohon itu mulai memahami.
Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun...
ia merasa takut pada manusia.
Bukan karena manusia menebang pohon lain.
Bukan karena api.
Bukan karena badai.
Bukan karena dinosaurus.
Tetapi karena kalimat sederhana itu.
“Kayunya bagus.”
Ia ingin lari.
Tetapi pohon tidak punya kaki.
Ia ingin berteriak.
Tetapi pohon tidak punya suara.
Maka ia hanya berdiri.
KRAK.
Kapak pertama menghantam batangnya.
Pohon itu bergoyang.
KRAK.
Kedua.
KRAK.
Ketiga.
Setiap pukulan terasa seperti akhir dari seluruh hidupnya.
Ia teringat hujan pertama.
Teringat dinosaurus.
Teringat meteor.
Teringat musim dingin.
Teringat anak-anak yang pernah berteduh di bawahnya.
Teringat burung-burung yang pernah membuat sarang.
Teringat angin.
Teringat matahari.
Teringat semua pagi yang pernah ia lalui.
Kemudian—
BRAAAK!
Ia jatuh.
Tanah bergetar.
Langit terlihat berbeda dari bawah.
Untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun...
ia tidak lagi berdiri.
Manusia memotong batangnya.
Membersihkannya.
Mengangkutnya.
Pohon itu berpikir,
Jadi begini akhirnya.
Setelah selamat dari meteor...
setelah selamat dari dinosaurus...
setelah selamat dari zaman es...
setelah selamat dari badai...
setelah selamat dari polusi...
ia akhirnya kalah oleh manusia.
Ia dibawa ke tempat pengolahan kayu.
Dipotong.
Dihaluskan.
Diamplas.
Dipoles.
Diberi lapisan pelindung.
Dan kemudian...
ia berubah menjadi sebuah meja.
Meja yang sangat indah.
Permukaannya halus.
Serat kayunya terlihat jelas.
Warnanya hangat.
Bentuknya elegan.
Seorang pengrajin tua memandang meja itu.
“Kayu seperti ini sudah langka.”
Meja itu tidak bisa menjawab.
Tetapi kalau bisa...
mungkin ia akan berkata,
Langka?
Tentu saja langka.
Aku selamat dari meteor, Pak.
Beberapa hari kemudian, meja itu dijual dengan harga sangat mahal.
Ia dibawa ke sebuah rumah besar.
Diletakkan di ruang keluarga.
Orang-orang mengaguminya.
“Indah sekali.”
“Kayunya luar biasa.”
“Ini pasti mahal.”
Meja itu diam.
Ia mendengarkan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
orang-orang memujinya.
Dulu ia hanya pohon.
Tidak ada yang memandangnya.
Sekarang semua orang memperhatikannya.
Seorang anak kecil datang.
Ia mengusap permukaan meja.
“Bagus.”
Meja itu hampir merasa bahagia.
Anak itu kemudian menaikinya.
Ibunya langsung berteriak.
“Jangan naik ke meja!”
Meja itu:
...
Setelah jutaan tahun menghadapi dinosaurus...
ternyata anak kecil adalah ancaman yang lebih menyebalkan.
Beberapa tahun berlalu.
Meja itu diwariskan.
Dari satu keluarga ke keluarga lain.
Ia tetap dirawat.
Dibersihkan.
Dipoles.
Dilindungi.
Tidak pernah lagi terkena hujan.
Tidak pernah lagi dibakar matahari.
Tidak pernah lagi diinjak dinosaurus.
Tidak pernah lagi terkena polusi.
Dan suatu hari, seorang cucu dari keluarga tersebut duduk di depannya.
Ia mengerjakan tugas sekolah.
Tangannya memegang pensil.
Ia menguap.
Kemudian meletakkan kepalanya di atas meja.
“Capek...”
Meja itu diam.
Anak itu tertidur.
Seperti anak-anak yang dulu pernah berteduh di bawah pohonnya.
Dan entah mengapa...
untuk pertama kalinya sejak ia ditebang...
pohon itu merasa tenang.
Ia tidak lagi menjadi pohon.
Tidak lagi berdiri di bawah langit.
Tidak lagi menggoyangkan daun ketika angin datang.
Tetapi ia masih bisa menjadi tempat seseorang beristirahat.
Tempat seseorang belajar.
Tempat keluarga berkumpul.
Tempat makanan disajikan.
Tempat surat ditulis.
Tempat kenangan dibuat.
Mungkin hidupnya memang berakhir ketika ia ditebang.
Tetapi sesuatu darinya tetap tinggal.
Serat kayunya.
Bentuknya.
Kehangatannya.
Dan semua tahun yang pernah ia jalani.
Suatu malam, anak yang tadi tidur di atas meja bangun.
Ia melihat permukaan meja.
Ada bekas goresan kecil.
“Meja ini tua banget.”
Kakeknya tertawa.
“Lebih tua dari kakek.”
Anak itu terkejut.
“Serius?”
“Serius.”
“Setua apa?”
Sang kakek berpikir sebentar.
“Tidak ada yang tahu pasti.”
Anak itu mengusap permukaan meja.
“Kalau meja ini bisa cerita, kira-kira ceritanya apa?”
Kakeknya tersenyum.
“Mungkin cerita tentang dunia.”
Anak itu tertawa.
“Lebay.”
Meja itu diam.
Kalau ia bisa berbicara...
ia mungkin akan berkata:
Lebay dari mana?
Aku benar-benar melihat dinosaurus.
Aku bahkan kena meteor.
DAN KAMU BILANG LEBAY?!
Tetapi ia tetap diam.
Karena itulah yang dilakukan pohon.
Diam.
Bertahan.
Tumbuh.
Dan menyaksikan.
Malam semakin larut.
Rumah menjadi sunyi.
Cahaya bulan masuk melalui jendela.
Menyentuh permukaan kayu tua itu.
Dan untuk sesaat, meja itu seperti kembali menjadi pohon.
Ia bisa merasakan angin.
Mendengar hujan.
Merasakan tanah.
Mengingat matahari.
Ia mengingat dirinya yang kecil.
Sebuah tunas yang pernah diinjak hewan.
Ia mengingat dirinya yang terbakar.
Ia mengingat dinosaurus.
Ia mengingat manusia pertama yang berteduh di bawahnya.
Ia mengingat kota yang tumbuh.
Ia mengingat polusi.
Ia mengingat kapak.
Dan akhirnya...
ia mengingat meja ini.
Ia tidak menyesal.
Karena meskipun hidupnya berubah berkali-kali...
ia selalu menjadi tempat kehidupan lain bertumpu.
Dulu ia memberi teduh.
Sekarang ia memberi tempat.
Dulu burung membuat sarang di cabangnya.
Sekarang manusia meletakkan buku di atas tubuhnya.
Dulu anak-anak bersembunyi di balik batangnya.
Sekarang anak-anak tidur di atas permukaannya.
Dulu ia berdiri di tengah hutan.
Sekarang ia berdiri di tengah rumah.
Dunia berubah.
Ia juga berubah.
Namun satu hal tetap sama.
Ia masih berguna.
Dan mungkin...
itulah arti bertahan hidup.
Bukan berarti kita harus tetap menjadi apa yang dulu kita inginkan.
Kadang kita berubah.
Patah.
Dipindahkan.
Dihancurkan.
Dibentuk kembali.
Dan meskipun bentuk kita tidak lagi sama...
bagian dari diri kita tetap bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain.
Pagi datang.
Anak kecil itu kembali.
Ia duduk di meja.
Membuka bukunya.
Kemudian menulis dengan pensil:
“Tugas: Tuliskan sesuatu yang sangat tua.”
Ia berpikir.
Lalu menulis:
“Meja kakek.”
Ia tersenyum.
Meja itu...
kalau saja bisa mengeluh...
mungkin akan berkata:
MEJA KAKEK DARI MANA?!
Aku lebih tua dari sejarah keluargamu!
Tetapi tidak ada yang mendengar.
Dan itu tidak masalah.
Karena meja itu sudah belajar satu hal selama hidupnya yang sangat panjang.
Tidak semua kisah harus diceritakan.
Tidak semua perjuangan harus diketahui.
Kadang cukup dengan terus ada.
Terus memberikan manfaat.
Terus menjadi tempat seseorang bersandar.
Dan setelah jutaan tahun...
sebuah pohon kecil yang dulu bahkan tidak dianggap...
akhirnya menemukan rumah.
Bukan di hutan.
Bukan di gunung.
Bukan di tanah.
Melainkan di sebuah ruang hangat...
sebagai meja tua yang sangat berharga.
Di atasnya ada buku.
Ada makanan.
Ada tangan manusia.
Ada tawa.
Ada air mata.
Ada kehidupan.
Dan ketika malam tiba...
meja itu tetap diam.
Seperti dulu.
Ketika ia masih berdiri sebagai pohon.
Hanya saja sekarang...
ia tidak lagi harus takut pada meteor.
Tidak ada dinosaurus yang akan memakannya.
Tidak ada badai yang akan merobohkannya.
Tidak ada manusia yang akan menebangnya.
Ia sudah melewati semuanya.
Dan akhirnya...
setelah jutaan tahun bertahan hidup...
ia bisa beristirahat.
Meskipun sesekali...
seorang anak tetap akan naik ke atasnya.
Dan dari seluruh ancaman yang pernah ia hadapi selama hidupnya—
meteor, kebakaran, dinosaurus, zaman es, badai, kekeringan, dan polusi—
ternyata ancaman paling mengerikan tetaplah:
“Jangan naik ke meja!”
😭🌳