Cinta pertama mereka dimulai saat umur tujuh belas tahun.
Namanya Raka.
Anak laki-laki yang selalu memakai kemeja polos, sweater lembut, celana panjang warna netral, dan sepatu putih yang entah bagaimana selalu bersih.
Namanya Alina.
Perempuan yang sejak sekolah sudah memakai eyeliner tajam, rok pendek, jaket kulit, boots, dan lipstik merah gelap.
Mereka tidak terlihat seperti pasangan.
Justru karena itulah mereka terlihat sempurna.
Raka pertama kali jatuh cinta ketika Alina meminjamkan payung kepadanya.
Alina jatuh cinta ketika Raka diam-diam membawakan obat saat ia sakit.
Mereka pacaran.
Putus.
Balikan.
Putus lagi.
Balikan lagi.
Teman-temannya sudah lelah menghitung.
“Ini hubungan atau langganan?”
Alina menjawab santai,
“Cinta pertama.”
Raka hanya tersenyum.
Mereka selalu punya alasan untuk putus.
Terlalu keras kepala.
Terlalu berbeda.
Terlalu sering salah paham.
Tetapi setiap kali benar-benar mencoba menjauh, mereka selalu kembali.
Sampai suatu hari, Raka berkata,
“Menikah saja.”
Alina menatapnya.
“Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Kita bahkan pernah putus empat kali.”
“Lima.”
“Lima?”
“Kamu lupa yang waktu ulang tahunku.”
“Oh iya.”
Raka tertawa.
“Jadi?”
Alina mengulurkan tangan.
“Ya.”
Mereka menikah.
Dan ternyata...
menikah jauh lebih mudah daripada memilih baju untuk pergi bersama.
Masalah pertama muncul pada malam minggu.
Raka keluar kamar dengan sweater rajut krem, celana hitam, dan sneakers putih.
Alina keluar lima menit kemudian.
Leather jacket.
Rok hitam.
Stocking.
Boots tinggi.
Lipstik merah.
Raka menatapnya.
Alina menatap Raka.
Hening.
“Kamu mau ke mana?” tanya Raka.
“Makan.”
Raka mengangguk.
“Kenapa?”
“Kamu seperti mau menghadiri rapat direksi.”
Alina menatap sweater Raka.
“Dan kamu seperti mau mengajar anak TK.”
“...”
“Lucu.”
“Kamu juga.”
“Aku nggak bilang aku nggak suka.”
Raka menghela napas.
“Aku cuma bingung kenapa setiap kali kita keluar, kita kelihatan seperti pasangan yang datang dari dua acara berbeda.”
Alina tersenyum.
“Karena memang begitu.”
“Alina.”
“Raka.”
Mereka saling menatap.
Kemudian tertawa.
Masalah selesai.
Setidaknya untuk malam itu.
Masalah kedua terjadi seminggu kemudian.
Mereka pergi menghadiri pesta ulang tahun teman.
Raka memakai kemeja putih dan celana bahan.
Alina memakai dress hitam ketat dengan sepatu hak tinggi.
Ketika mereka turun dari mobil, seseorang berkata,
“Wah, kalian serasi banget.”
Raka tersenyum.
Alina mengangkat alis.
“Serasi?”
“Iya. Kalian seperti...”
Orang itu berpikir.
“Seperti pangeran lembut dan penjahat cantik.”
Alina tertawa.
Raka mengangguk.
“Aku suka.”
Alina menoleh.
“Kamu suka disebut pangeran?”
“Kalau kamu penjahatnya, iya.”
Sejak saat itu, Alina berhenti mempermasalahkan pakaian Raka.
Dan Raka berhenti berharap Alina suatu hari akan memakai sweater krem seperti dirinya.
Mereka akhirnya menemukan kesepakatan sederhana.
Tidak harus berpakaian sama untuk terlihat cocok.
Mereka hanya perlu pulang ke rumah yang sama.
Beberapa tahun kemudian, Alina sedang bersiap di depan cermin.
Raka masuk.
Ia memakai kemeja putih lembut.
Alina memakai pakaian serba hitam.
Raka memandangnya melalui cermin.
“Kamu cantik.”
“Kamu juga.”
“Kelihatannya kita beda lagi.”
Alina tersenyum.
“Dari dulu memang begitu.”
Raka berdiri di belakangnya.
Memeluk pinggangnya.
“Untungnya.”
“Kenapa?”
“Kalau kita sama, mungkin aku bosan.”
Alina menatap pantulan mereka.
Lalu tersenyum.
“Kita sudah putus lima kali.”
“Iya.”
“Dan tetap menikah.”
“Iya.”
“Berarti kita bodoh.”
Raka mencium pipinya.
“Mungkin.”
Alina memegang tangannya.
“Tapi kalau disuruh mengulang?”
Raka tidak perlu berpikir.
“Aku tetap pilih kamu.”
Alina tersenyum.
“Walaupun aku pakai baju seperti ini?”
“Terutama kalau seperti itu.”
“Walaupun kamu tetap pakai sweater nenek-nenek?”
Raka menatapnya datar.
“Jangan menghina pakaian suamimu.”
Alina tertawa.
Mereka keluar rumah.
Raka dengan sweater lembutnya.
Alina dengan boots dan jaket kulitnya.
Dua gaya yang sama sekali berbeda.
Dua manusia yang berkali-kali gagal berpisah.
Dan akhirnya sadar...
cinta bukan tentang menemukan seseorang yang mirip denganmu.
Kadang cinta adalah menemukan seseorang yang benar-benar berbeda—
lalu tetap memilihnya.
Bahkan ketika dia memakai sweater krem.
Atau boots setinggi lutut.
Atau ketika kalian berdebat selama dua puluh menit hanya karena...
“Kita mau makan di mana?”
Dan seperti biasa—
mereka tetap pulang bersama.